MAKALAH KESEHATAN BANK - PUSAT MAKALAH

on
Makalah lengkap tentang kesehatan bank
isi makalah :
Kriteria kesehatan bank
tahapan penyusunan cetak biru perbankan
pemetaan perbankan nasional
alternatif penyehatan perbankan nasional
konsolidasi dan merger

MAKALAH KESEHATAN BANK

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Kegiatan perekonomian suatu negara tidak terlepas dari  lalu lintas pembayaran uang, dimana industri perbankan  memegang peranan yang sangat strategis dapat dikatakan sebagai urat nadi dari sistem perekonomian. Kegiatan pokok bank menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat, mempunyai fungsi sebagai  intermediary service. 

Perkembangan perekonomian Indonesia yang semakin pesat, membutuhkan modal yang cukup besar yang sebaiknya dipenuhi dari sumber dana domestik, sehingga perlu adanya iklim penggalian sumber dana masyarakat melalui mobilisasi dana masyarakat yang dilakukan sektor perbankan. Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah melalui Otoritas Moneter, dalam hal ini adalah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral, telah mengeluarkan rangkaian deregulasi di bidang keuangan, moneter dan perbankan yang berkelanjutan, yang tujuannya untuk menciptakan iklim perbankan yang sehat, mandiri dan efisien. Kebijakan ini pertama digulirkan pada tanggal 1 Juni 1983 (Pakjun’83), merupakan awal perkembangan industri perbankan yang berdasarkan mekanisme pasar (interest rate regulation). Melalui Pakjun’83 bank-bank diberi kebebasan dalam memobilisasi dana masyarakat dengan menghapus pembatasan kredit dan plafon suku bunga serta pemabatasan kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI). Kebijakan selanjutnya yaitu pada tanggal 27 Oktober 1988 (Pakto’88) , yang bertujuan meningkatkan mobilisasi dana domestik dengan menurunkan hambatan masuk ke dalam sektor perbankan, sehingga mempermudah persyaratan membuka bank baru maupun cabang bank dan penurunan Cadangan Wajib Minimum ( Reserve Requirement/RR) dari 15% menjadi 2% . Dampak dari kedua kebijakan tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan perbankan, baik jumlah bank dan jaringan kantor bank yang diikuti oleh peningkatan volume usaha dan jenis produk yang ditawarkan. Jumlah bank sebelum Pakto’88 hanya 63 buah bank dan 1.863 kantor bank. Secara kumulatif pasca Pkato’88 sampai dengan 1997 jumlah bank menjadi 238 buah bank dan 7.775 buah kantor bank. Dengan struktur kelembagaan tersebut kegiatan operasional bank mengalami perkembangan yang sangat pesat sekali, hal ini tercermin dari hasil pengerahan dana masyarakat dari Rp. 37,5 trilyun pada tahun 1987 menjadi Rp. 357 trilyun pada tahun 1997. (Sumber : Bank Indonesia). Perkembangan mobilisasi dana masyarakat yang tinggi mununjukkan betapa besar kepercayaan masyarakat terhadap bank, dengan kata lain banking habit masyarakat sudah tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini tentang perkembangan jumlah bank dan kantor bank , serta perkembangan simpanan masyarakat, khususnya di wilayah Propinsi Jawa Barat yang ditetapkan sebagai obyek penelitian.

Mengingat kepercayaan masyarakat merupakan modal pokok dari kegiatan usaha bank, sementara dilain pihak bahwa bank merupakan urat nadi bagi kelancaran kegiatan perekonomian melalui fungsinya sebagai intermediary service. Menciptakan dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap bank, tidak hanya menjadi tanggung jawab industri perbankan, akan tetapi menjadi tanggung jawab  pemerintah dengan lembaga-lembaga terkait.  Dengan demikian kepercayaan masyarakat terhadap bank merupakan suatu hal yang sangat penting  dalam menjaga kontinuitas usaha bank , menciptakan dan menjaga kestabilan moneter disatu pihak dan stabilitas ekonomi dilain pihak. Untuk itu sudah saatnya dilakukan penelitian untuk mengkaji perihal kepercayaan masyarakat pada bank, dan penelitian ini dilakukan dengan mengambil judul “Analisi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Masyarakat Terhadap Bank”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap bank, dengan pembatasan masalah yang akan diteliti adalah  (a) bagaimana nasabah dapat mengetahui kriteria bank yang sehat, (b) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap bank dan (c) sampai seberapa besar faktor-faktor tersebut mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap bank.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik bagi obyek penelitian, maupun bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Kerangka pemikiran  penelitian ini didasakan pada landasan teori yang relevan, dimana bank sebagai lembaga kepercayaan yang merupakan bagian dari sistem moneter merupakan sarana untuk pembentukan dana alokasi tabungan masyarakat, maka peranan kebijakan moneter dalam suatu perekonomian sangat penting dalam menciptakan dan memelihara suatu tingkat kestabilan ekonomi. Sesuai dengan pengertian bank menurut UU-RI No. 10/1998 tentang Perbankan , bahwa “ Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.

Sedangkan dalam pasal 29 dikatakan bahwa “ Mengingat bank terutama bekerja dengan dana dari masyarakat yang disimpan pada bank atas dasar kepercayaan, setiap bank perlu terus menjaga kesehatannya dan memelihara kepercayaan masyarakat padanya” .  Dari kedua penjelasan tersebut  dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan pokok bank  diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Untuk dapat meningkatkan taraf hidup rakyat, tentu  diperlukan modal kepercayaan masyarakat dan kepercayaan ini akan diberikan hanya kepada bank yang sehat. Dengan demikian tingkat kesehatan bank sangat erat hubungannya dengan kepercayaan masyarakat terhadap bank. Badudu Zain (1994:1040) mengatakan tentang kepercayaan, bahwa “Kepercayaan adalah meletakkan kepercayaan atau memberikan kepada seseorang untuk menjaga, memelihara, menyimpan , merahasiakan dan sebagainya”.  

Masyarakat sebagai salah satu bagian dari pelaku ekonomi, dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat sebagai akibat perkembangan dari teknologi informasi, telah mempengaruhi perilakunya sebagai pelaku ekonomi. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Soemitro Djojohadikusumo (1991:149) bahwa “..dalam proses pengambilan keputusan para pelaku ekonomi mengandalkan pengalaman dan pengetahuannya dari masa lalu dan masa kini, perkiraan-perkiraan yang akan terjadi di masa mendatang ditambah dengan segenap informasi data yang sekarang tersedia” . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa informasi yang tersedia tentang kondisi sektor perbankan, dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil yang berkaitan dengan dengan kepercayaannya kepada bank.

Peranan bank yang sangat strategis dalam perkembangan ekonomi, sehingga perlu diperhatikan dan dijaga kontinuitas usahanya, dengan meningkatkan kemampuan menggali sumber dana masyarakat. Untuk itu perlu didukung oleh instrumen yang efektif yang dapat memotivasi masyarakat menyimpan uangnya di bank. Instrumen tersebut diantaranya adalah (a) adanya jaminan keamanan atas simpanan masyarakat, (b)  tingkat bunga yang stabil dan kompetitif, (c)  pelayanan yang  baik dan (d) informasi yang tersedia tentang perkembangan industri perbankan.

Motivasi masyarakat mempercayakan dananya di bank tentunya selain mengharapkan mendapatkan keuntungan, juga mengharapkan adanya jaminan keamanan atas simpanan masyarakat secara hukum. Perilaku seseorang pada saat tertentu biasanya ditentukan oleh kebutuhan yang paling kuat, yaitu rasa aman. Kerangka kekuatan kebutuhan manusia telah dikembangkan oleh Abraham Maslow, yang dikenal dengan Hirarki Kebutuhan Maslow – fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan perwujudan diri. Dikatakan bahwa “Kebutuhan rasa aman yang berada pada alam sadar cukup jelas dan sangat umum diantara semua orang pada umumnya”. Sedangkan Paul Hersey mengutip pendapat dari Soul W. Gellerman (1992:36) dikatakan bahwa “Semua orang memiliki keinginan untuk terbebas dari bahaya yang mengancam kehidupannya, yaitu kecelakaan, peperangan dan ketidakpastian ekonomi”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setiap individu maupun kelompok sangat membutuhkan rasa aman, tanpa kecuali kebutuhan rasa aman yang diberikan oleh bank kepada nasabahnya. 

Instrumen berikutnya yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap berbagai kondisi ekonomi yaitu  tingkat bunga .    Wasis (1998:94) mengatakan bahwa “Tingkat bunga yang tinggi akan dapat menarik masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank, karena para pemilik dana mengharapakan keuntungan dari dana yang disimpan di bank”. Sedangkan Budiono (1980:2) mengatakan bahwa “Tingkat bunga adalah harga dari penggunaan uang yang dapat dipandang sebagai sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu”. Dengan demikian bahwa tingkat bunga yang tinggi masih efektif dijadikan sebagai instrumen dalam meningkatkan mobilisasi dana masyarakat. 

Seperti halnya yang diungkapkan Soemitro Djojohadikusumo (1991:149) tentang pelaku ekonomi yang memiliki perilaku rasional, yaitu “Perilaku ekonomi (economic behaviour) pada dasarnya bersifat rasional, artinya para pelaku ekonomi bersikap rasional di dalam mengadakan pilihan ekonomi dan mengambil keputusan ekonomi”. Sikap ini tercermin dari perkembangan simpanan masyarakat bila dibandingkan dengan perkembangan jumlah nasabah. Dimana pada tahun 1997 dimana perekonomian Indonesia sedang dilanda krisis dan langkah berani dari BPPN dengan melikuidasi 16 bank umum swasta nasional , yang dilanjutkan dengan program beku operasi atau pengambil alihan operasional. Namun demikian minat masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank masih tetap tinggi, yaitu memanfaatkan tingkat bunga deposito yang cukup tinggi (67% per bulan tahun 1997/1998), walaupun jika dilihat jumlah orang (nasabah) mengalami penurunan. Kondisi ini membuktikan masih berlakunya teori Keynes  bahwa “ Bunga uang ditentukan oleh preferensi likuiditas, yaitu motif transaksi, motif berjaga-jaga dan motif spekulasi”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat bunga merupakan imbalan atau kontraprestasi yang diberikan oleh bank kepada penyimpanan dana. Suku bunga yang tinggi akan mendorong masyarakat untuk menghemat pengeluaran konsumsinya dan menyimpan bagian yang lebih dari aktiva totalnya dalam bentuk aktiva yang memberikan penghasilan.

Kepercayaan masyarakat terhadap bank tidak terlepas dari masalah kepuasan, yang dapat dipenuhi salah satunya dari pelayanan yang prima. Sehingga pembahasan masalah konsep kepuasaan pelanggan (nasabah) menjadi suatu hal yang vital. Persaingan antar bank yang semakin ketat, dimana semakin banyak produsen yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, menyebabkan setiap bank harus menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama. Hal ini tercermin dari banyaknya bank menyertakan konsumennya terhadap kepuasan nasabah dalam penyertaan misinya. As. Mahmoeddin (1996:2) mengatakan bahwa “Pelayanan yang baik merupakan salah satu syarat untuk berhasilnya bank dalam usaha pengumpulan dana sebanyak mungkin, penjualan jasa seoptimal mungkin yang pada akhirnya memperoleh laba semaksimal mungkin”. Sedangkan Tjiptono, yang mengutip pendapat Engel,et.all. (1995:27) mengatakan bahwa  “Kepuasaan pelanggan merupakan evaluasi purna beli, dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan”.  Dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang baik, ramah, cepat dan akurat merupakan suatu prinsip yang harus dimiliki oleh setiap petugas bank, yang harus memberikan pelayanan prima kepada nasabah. Semakin baik pelayanan yang diberikan, maka semakin tinggi tingkat kepuasan nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank.

Perilaku masyarakat sebagai pelaku ekonomi tentu sangat berkepentingan dengan tersedianya informasi yang   dapat dipertanggung jawabkan. Tindakan  atau pengambilan keputusan secara rasional berdasarkan pengalaman dan informasi yang diperoleh. Kondisi perilaku masyarakat yang semakin kritis, menuntut peranan Pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia sebagai lembaga yang berwenang mengeluarkan informasi, dapat secara aktif mensosialisasikan setiap perubahan kebijakan tentang perbankan, sehingga masyarakat dapat mengetahui dan mengikuti  perkembangan perbankan dengan baik, khususnya tingkat kesehatan bank. Dengan demikian  informasi dapat dijadikan sebagai instrumen yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Sumitro Djojohadikusumo (1991:149) tersebut diatas.


PEMBAHASAN

I. KRITERIA KESEHATAN BANK 
Pada akhir tahun 2001 Bank harus memenuhi persyaratan Kesehatan Bank dari Bank Indonesia : 
CAR minimal 8 % 
NPL maksimal 5 % 

II. TAHAPAN PENYUSUNAN CETAK BIRU PERBANKAN 
1. Langkah1 
Analisa CAMEL berdasarkan peraturan Bank Indonesia untuk mengklasifikasikan Bank sehat dan Bank tidak sehat 

2. Langkah2  
Klasifikasi Bank. Proses penyaringan Bank sehat menjadi Bank kuat dan Bank lemah
 Parameternya adalah sebagai berikut : 
a. Kualitas SDM 
- Manajemen profesional 
- Uji kepatutan (Fit and Proper Test) pemegang saham 
b. Kemampuan finansial 
- Tingkat permodalan 
- Skala ekonomi 
- Efisiensi dari akumulasi dana / pendanaan 
- Kemampuan menyalurkan kredit kepada sektor riil 
c. Tingkat keunggulan kompetitif secara regional 
d. Good Governance
Manajemen kredit yang prudent

3. Langkah3  
Evaluasi terhadap Nilai Waralaba (Franchise Value untuk Bank yang tidak sehat. Melakukan evaluasi terhadap Nilai Waralaba (Franchise Value) dari Bank yang tidak sehat untuk menentukan apakah Bank tersebut diikutsertakan dalam proses konsolidasi atau harus ditutup. 

4. Langkah4  
Pemetaan Perbankan Nasional. Proses pemetaan Bank yang kuat dan Bank yang lemah untuk menentukan posisi relatif dari setiap Bank di dalam Perbankan

5. Langkah5  
Proses Pengelompokan . Proses untuk menentukan Kelompok Bank dengan cara: 
Penggabungan Bank-Bank (Merger Banks) 
- Tidak diperlukan injeksi modal 
- Diperlukan injeksi modal 

Bank berdiri sendiri (Stand Alone Banks)
- Tidak diperlukan injeksi modal 
- Diperlukan injeksi modal 

Parameter yang digunakan pada langkah 5 : 
1. Infrastruktur jaringan distribusi 
- Cabang 
- Anjungan Tunai Mandiri (ATM) 
- Jaringan pendebetan 
- Pelayanan perbankan on-line dan melalui telepon 
- Rencana pengembangan 

2. Bank Konsumer (Consumer Banking) 
- Deposito 
- Produk / Portofolio Kartu Kredit 
- Kredit konsumsi dan produk lainnya 
- Pelayanan perbankan melalui internet 

3. Bank Korporasi dan retail (Corporate dan Retail Banking) 
- Pinjaman (Loans) 
- Rencana usaha (Business Plan) 
- Manajemen resiko 

4. Sumber Daya Manusia 

5. Teknologi dan Operasi 
- Infrastruktur teknologi 
- Teknologi untuk manajemen resiko 
6. Peraturan dan aspek legal  Litigasi, kontingensi, dan aspek legal lainnya 

6. Langkah6 
Proses penentuan Posisi Akhir . Proses penentuan posisi akhir akan mengarahkan Bank-Bank untuk menjadi : 
o Bank Inti (Core Banks) 
1. Bank Internasional 
- Memiliki cabang di seluruh propinsi 
- Memenuhi standar perbankan internasional 
- Kemampuan permodalan untuk operasi skala nasional 
- Pelayanan yang meliputi seluruh produk perbankan 
- Nasabah korporasi besar, menengah dan retail 
2. Bank regional 
- Pelayanan produk perbankan terbatas sektor tertentu 
- Bank berdasarkan tata nilai agama (mis. Bank Syariah) 
- Geografi (mis. Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi) 
- Nasabah (mis. Korporasi besar, menengah)

o Bank Non-Inti (Non-Core Banks) 
Bank Khusus Menawarkan produk tertentu seperti : 
- Pembiayaan sektor pertanian dan agribisnis 
- Pembiayaan untuk usaha kecil 
- Bank tabungan nasional khusus untuk Kredit Pemilikan Rumah 
- Pembiayaan untuk proyek-proyek nasional berskala besar 
Parameter yang digunakan untuk mencapai proses akhir adalah sebagai berikut : 
- Jenis usaha 
- Jumlah cabang 
- Bank devisa 
- Teknologi dan operasi 
- Budaya perusahaan 

III. PEMETAAN PERBANKAN NASIONAL 


1. Sesuai dengan Program Aksi Prioritas Sektor Riil yang telah disampaikan pada Sidang Kabinet tanggal 8 Pebruari 2001 (Dokumen II), khususnya Sektor Keuangan, Kantor Menteri Muda Urusan Restrukturisasi Ekonomi Nasional telah melakukan kajian Cetak Biru Perbankan Nasional 

2. Cetak Biru Perbankan Nasional ini sangat diperlukan saat ini mengingat rencana pemberlakuan peraturan Bank Indonesia pada akhir tahun 2001 di mana semua bank diharuskan memiliki rasio kecukupan modal (CAR) minimal 8% dan tingkat kredit bermasalah (NPL) maksimal 5% 

3. Dari catatan Bank Indonesia dan data serta analisa yang kami lakukan, akan terdapat kurang lebih 20 bank yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut di atas 

4. Dari beberapa alternatif yang kami analisa untuk penyelesaian masalah ini, maka penggabungan dan konsolidasi bank-bank merupakan alternatif yang terbaik 

5. Kajian tersebut terlampir dalam laporan ini. 

IV. ALTERNATIF PENYEHATAN PERBANKAN NASIONAL 
1. Merubah peraturan Bank Indonesia (CAR 8% dan NPL 5%) 
Alternatif pertama akan menimbulkan (moral hazard) CAR 8% belum cukup untuk mendukung Bank yang kuat dan efisien 
2. Redistribusi Obligasi Pemerintah
Alternatif kedua sulit dilakukan karena tidak sesuai dengan kondisi pasar 
3. Penukaran dengan Aset (Asset Swap)
Alternatif ketiga juga sulit dilakukan disebabkan terbatasnya aset yang telah direstrukturisasi di BPPN, sulitnya penentuan harga, dan mekanisme swap 

V. KONSOLIDASI DAN MERGER
Alternatif keempat, konsolidasi Bank-Bank Nasional menjadi pilihan yang paling menguntungkan, karena:
- Bank-Bank hasil konsoldasi / merger dapat mencapai skala ekonomi yang menguntungkan.
- Meningkatkan nilai Bank-Bank Nasional dan akan menarik investor.
- Pengawasan yang lebih efektif dengan berkurangnya jumlah Bank.

SESUAI dengan nature krisis yang menimpa negeri kita, perbankan memainkan peran penting dalam pemulihan ekonomi. Ada dua generasi utama dalam krisis ekonomi, dilihat dari faktor fundamental yang menyebabkannya. Pertama, krisis nilai tukar (currency crisis) dan kedua, krisis sistem finansial (financial crisis). Berbeda dengan krisis di kawasan Amerika Latin (Brasil, Meksiko, Argentina) dan Eropa Timur (Yugoslavia, Bulgaria, Hongaria), krisis yang menimpa kawasan Asia Tenggara (Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia) menunjukkan kausalitas yang erat antarkeduanya (faktor moneter dan finansial).

Demikian, maka krisis di kawasan ini dinamai krisis generasi ketiga (third generation). Jika ditelusuri lebih jauh, akar dari dua generasi krisis tersebut sebenarnya ada pada faktor kepercayaan yang hilang. Runtuhnya perekonomian kita sangat dipengaruhi oleh perilaku destruktif para pelaku ekonomi, sebagai refleksi atas harapan akan realita ekonomi (fulfilling destructive prophecy). Maka tidak berlebihan jika dalam rangka memantapkan pemulihan ekonomi, kredibilitas adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dari pemerintah sekarang ini. 

 
KESIMPULAN


Alternatif  Penyehatan Perbankan Nasional
Ada 3 alternatif yang dapat digunakan untuk penyehatan perbankan Nasional, yaitu :
Merubah peraturan Bank Indonesia 
Alternatif pertama akan menimbulkan �moral hazard� CAR 8% belum cukup untuk mendukung Bank yang kuat dan efisien 
Redistribusi Obligasi Pemerintah
Alternatif kedua sulit dilakukan karena tidak sesuai dengan kondisi pasar 
Penukaran dengan Aset (Asset Swap)
Alternatif ketiga juga sulit dilakukan disebabkan terbatasnya aset yang telah direstrukturisasi di BPPN, sulitnya penentuan harga, dan mekanisme swap.
Cara Memilih Bank Yang Sehat
Ada dua faktor yang dapat kita gunakan sebagai alat ukur yaitu :
Faktor kuantitatif Indikator kesehatan bank secara kuantitatif bisa kita lihat dari rasio-rasio keuangannya Ada dua rasio utama yang bisa menjadi alat ukur kesehatan sebuah bank.
Faktor kualitatif Faktor kualitatif ini bisa kita cermati dari sepak terjang alias track record pemegang saham mayoritas sebuah bank. Secara umum, kita bisa membedakan kepemilikan saham bank menjadi bank lokal dan bank asing. Umumnya, orang menilai prosedur audit bank asing lebih ketat dibandingkan dengan bank lokal. Meskipun kini, prosedur audit bank lokal juga mulai membaik.


--------------------------------------------------------------------------------
Makalah lengkap tentang kesehatan bank
isi makalah :
Kriteria kesehatan bank
tahapan penyusunan cetak biru perbankan
pemetaan perbankan nasional
alternatif penyehatan perbankan nasional

konsolidasi dan merger

1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Keuangan dan Perbankan.

    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Perbankan yang bisa anda kunjungi di sini

    ReplyDelete