MAKALAH MASALAH IBADAH, PEMBAGIAN HAID,NIFAS,WILADAH DAN PERSETUBUHAN - PUSAT MAKALAH

on
Pusat Makalah
Contoh Makalah
Contoh Makalah Lengkap
Makalah Lengkap
Kesimpulan Makalah



MAKALAH MASALAH IBADAH, PEMBAGIAN HAID,NIFAS,WILADAH DAN PERSETUBUHAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME dan sebagai wakil Tuhan di bumi yang menerima amanat-Nya untuk mengelola kekayaan alam. Sebagai hamba Tuhan yang mempunyai kewajiban untuk beribadah dan menyembah Tuhan Sang Pencipta dengan tulus.
Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya.  Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam. Ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia pada abad ke-7 M. (A.Mustofa,Abdullah,1999: 23).

B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan sedikit tentang  masalah ibada yang sering di lakukan manusia dalam kehidupan sehari-harinya, masalah yang akan di paparkan disini adalah :
1.      Masalah ibadah
2.      Pembagian Haid
3.      Nifas
4.      Waladah
5.      Persetubuhan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Ibadah
Kata ibadah berasal dari bahasa arab telah menjadi bahasa melayu yang terpakai dan dipahami secara baik oleh orang-orang yang menggunakan bahasa melayu atau Indonesia. Ibadah dalam istilah bahasa Arab diartikan dengan berbakti, berkhidmat, tunduk, patuh, mengesakan dan merendahkan diri. Dalam istilah melayu diartikan: perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Juga diartikan: segalla usaha lahir dan batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselarasan hidup, baikterhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun terhadap alam semesta.[1] Syaikh Mahmud Syaltut dalam tafsirnya mengemukakan formulasi singkat tentang arti ibadah, yaitu “ketundukan yang tidak terbatas bagi pemilik keagungan yang tidak terbatas pula”.
Secara garis besar ibadah dibagi dua yaitu ibadah pokok yang dalam kajian ushul fiqih dimasukan kedalam hukum wajib, baik wajib ‘aini atau wajib kifayah. Termasuk kedalam kelompok ibadah pokok itu adalah apa yang menjadi rukun islam.

B.     Pembagian Ibadah
Yusuf Musa berpendapat bahwa Ibadah dibagi menjadi lima: shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Secara umum Wahban sependapat denga Yusuf Musa, hanya saja dia tidak memasukan jihad dalam kelompok Ibadah mahdhah (Ibadah murni), dan sebaliknya dia memasukan nadzar serta kafaraah sumpah. Kecenderungan Wahban untuk memasukan sumpah dan nadzar sebagai Ibadah murni dapat diterima, karena keduanya sangat individual dan tidak mempuyai sangsi-sangsi soal.
Dari dua pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bawa yang dimaksud Ibadah murni (mahdhah), adalah suatu rngkaian aktivitas ibadah yang ditetapkan Allah Swt. Dan bentuk aktivitas tersebut telah dicontohkan oleh Rasul-Nya, serta terlaksana atau tidaknya sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran teologis dari masing-masing individu. Adapun bentuk Ibadah mahdhoh tersebut meliputi: Thaharah, Shalat, Zakat, Shaum, Nadzar dan Kafarah Sumpah.
Selain ibadah mahdhah, maka ada bentuk lain diluar ibadah mahdhah tersebut yaitu Ibadah Ghair al-Mahdhah, yakni sikap gerak-gerik, tingkah laku dan perbuatan yang mempunyai tiga tanda yaitu: pertama, niat yang ikhas sebagai titik tolak, kedua keridhoan Allah sebagai titik tujuan, dan ketiga, amal shaleh sebagai garis amal. Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5:
“Padahal mereka tidakdisuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan kepada Allah dalam (menjalankan) agama yang lurus….”

C.    Ruang lingkup ibadah
Islam amat istimewa hingga menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai ibadah apabila diniatkan dengan penuh ikhlas kerana Allah demi mencapai keredhaan-Nya serta dikerjakan menurut cara-cara yang disyariatkan olehNya. Islam tidak membataskan ruang lingkup ibadah kepada sudut-sudut tertentu sahaja. Seluruh kehidupan manusia adalah medan amal dan persediaan bekalan bagi para mukmin sebelum mereka kembali bertemu Allah di hari pembalasan nanti. Islam mempunyai keistimewaan dengan menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai 'ibadah apabila ia diniatkan dengan penuh ikhlas kerana Allah demi untuk mencapai keredaan Nya serta dikerjakan menurut cara cara yang disyariatkan oleh Nya. Islam tidak menganggap 'ibadah 'ibadah tertentu sahaja sebagai 'amal saleh malah ia meliputi segala kegiatan lain.
Hakikat ini ditegaskan oleh Allah di dalam Al-Quran:
Dialah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: Siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan Dia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat)”. (QS: Al-Mulk:2)
Ruang lingkup 'ibadah di dalam Islam amat luas sekali. Ianya merangkumi setiap kegiatan kehidupan manusia. Setiap apa yang dilakukan baik yang bersangkut dengan individu maupun dengan masyarakat adalah 'ibadah menurut Islam selagi mana ia memenuhi syarat syarat tertentu.
Syarat syarat tersebut adalah seperti berikut:
  1. Amalan yang dikerjakan itu hendaklah diakui Islam, bersesuaian dengan hukum hukum syara' dan tidak bercanggah dengan hukum hukum tersebut. Adapun 'amalan 'amalan yang diingkari oleh Islam dan ada hubungan dengan yang haram dan ma'siyah, maka tidaklah sekali kali ia dijadikan 'amalan 'ibadah.
  2. 'Amalan tersebut dilakukan dengan niat yang baik bagi tujuan untuk memelihara kehormatan diri, menyenangkan keluarga nya, memberi manfa'at kepada umat seluruhnya dan bagi mema'murkan bumi sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah
  3. Amalan tersebut mestilah dibuat dengan seelok eloknya bagi menepati apa yang ditetapkan oleh Rasulullah s.a.w yang mafhumnya: "Bahawa Allah suka apabila seseorang dari kamu membuat sesuatu kerja dengan memperelokkan kerjanya." (Muslim)
  4. Ketika membuat 'amalan tersebut hendaklah sentiasa menurut hukum hukum syara' dan ketentuan batasnya, tidak menzalimi orang lain, tidak khianat, tidak menipu dan tidak menindas atau merampas hak orang.
  5. Tidak mencuaikan 'ibadah 'ibadah khusus seperti salat, zakat dan sebagainya dalam melaksanakan 'ibadah 'ibadah umum. Firman Allah yang mafhumnya:
Oleh itu ruang lingkup ibadah dalam Islam sangat luas. Ia adalah seluas tempoh hidup seseorang Muslim dan kesanggupan serta kekuatannya untuk melakukan apa saja amal yang diredhai oleh Allah dalam tempo tersebut.

D.    Pembagian Haid
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementarabinatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus.
Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya, menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-kadang menstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari. Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10mL hingga 80mL per hari tetapi biasanya dengan rata-rata 35mL per harinya.
Biasanya pada saat menstruasi wanita memakai pembalut untuk menampung darah yang keluar saat beraktivitas terutama saat tidur agarbokong dan celana tidak basah dan tetap nyaman. Pembalut harus diganti minimal dua kali sehari untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi pada vagina atau gangguan-gangguan lainnya. Gunakanlah pembalut yang anti-bakteri dan mempunyai siklus udara yang lancar.

1.      Fase menstruasi
Yaitu, luruh dan dikeluarkannya dinding rahim dari tubuh. Hal ini disebabkan berkurangnya kadar hormon sek s. Hali ini secara bertahap terjadi pada hari ke-1
2.      Fase praovulasi
Yaitu, masa pembentukan dan pematangan ovum dalam ovarium yang dipicu oleh peningkatan kadar estrogen dalam tubuh. Hal ini terjadi secara bertahap pada hari ke-7 sampai 13.
3.      Fase ovulasi
Masa subur atau Ovulasi adalah suatu masa dalam siklus menstruasi wanita dimana sel telur yang matang siap untuk dibuahi. menurut beberapa literatur, masa subur adalah 14 hari sebelum haid selanjutnya. Apabila wanita tersebut melakukan hubungan sek sual pada masa subur atau ovulasi maka kemungkinan terjadi kehamilan.
E.     Nifas
Nifas ialah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya (2 atau 3 hari) yang disertai dengan rasa sakit. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: "Darah yang dilihat seorang wanita ketika mulai merasa sakit adalah nifas." Beliau tidak memberikan batasan 2 atau 3 hari. Dan maksudnva yaitu rasa sakit yang kemudian disertai kelahiran. Jika tidak, maka itu bukan nifas. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah masa nifas itu ada batas minimal dan maksimalnya. Menurut Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya tentang sebutan yang dijadikan kaitan hukum oleh Pembawa syari'at, halaman 37 Nifas tidak ada batas minimal maupun maksimalnya. Andaikata ada seorang wanita mendapati darah lebih dari 40,60 atau 70 hari dan berhenti, maka itu adalah nifas. Namun jika berlanjut terus maka itu darah kotor, dan bila demikian yang terjadi maka batasnya 40 hari, karena hal itu merupakan batas umum sebagaimana dinyatakan oleh banyak hadits."
Atas dasar ini, jika darah nifasnya melebihi 40 hari, padahal menurut kebiasaannya sudah berhenti setelah masa itu atau tampak tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat, hendaklah si wanita menunggu sampai berhenti. Jika tidak, maka ia mandi ketika sempurna 40 hari karena selama itulah masa nifas pada umumnya. Kecuali, kalau bertepatan dengan masa haidnya maka tetap menunggu sampai habis masa haidnya. Jika berhenti setelah masa (40 hari) itu, maka hendaklah hal tersebut dijadikan sebagai patokan kebiasaannya untuk dia pergunakan pada masa mendatang.
Namun jika darahnya terus menerus keluar berarti ia mustahadhah. Dalam hal ini,hendaklah ia kembali kepada hukum-hukum wanita mustahadhah yang telah dijelaskan pada pasal sebelumnya. Adapun jika si wanita telah suci dengan berhentinya darah berarti ia dalam keadaan suci, meskipun sebelum 40 hari. Untuk itu hendaklah ia mandi, shalat, berpuasa dan boleh digauli oleh suaminya.Terkecuali, jika berhentinya darah itu kurang dari satu hari maka hal itu tidak dihukumi suci. Demikian disebutkan dalam kitab Al-Mughni.
Nifas tidak dapat ditetapkan, kecualijika si wanita melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia. Seandainya ia mengalami keguguran dan janinnya belum jelas berbentuk manusia maka darah yang keluar itu bukanlah darah nifas, tetapi dihukumi sebagai darah penyakit. Karena itu yang berlaku baginya adalah hukum wanita mustahadhah. Minimal masa kehamilan sehingga janin berbentuk manusia adalah 80 hari dihitung dari mulai hamil, dan pada umumnya 90 hari. Menurut Al-Majd Ibnu Taimiyah, sebagaimana dinukil dalam kitab Syarhul Iqna': "Manakala seorang wanita mendapati darah yang disertai rasa sakit sebelum masa (minimal) itu, maka tidak perlu dianggap (sebagai nifas). Namun jika sesudahnya, maka ia tidak shalat dan tidak puasa. Kemudian, apabila sesudah kelahiran temyata tidak sesuai dengan kenyataan maka ia segera kembali mengerjakan kewajiban; tetapi kalau tidak teryata demikian, tetap berlaku hukum menurut kenyataan sehingga tidak pedu kembali mengerjakan kewajiban"

1.      Hukum-Hukum Nifas
Hukum-hukum nifas pada prinsipnya sama dengan hukum-hukum haid, kecuali dalam beberapa hal berikut ini:
  1. Iddah. dihitung dengan terjadinya talak, bukan dengan nifas. Sebab, jika talak jatuh sebelum isteri melahirkan iddahnya akan habis karena melahirkan bukan karena nifas. Sedangkan jika talak jatuh setelah melahirkan, maka ia menunggu sampai haid lagi, sebagaimana telah dijelaskan.
  2. Masa ila'. Masa haid termasuk hitungan masa ila', sedangkan masa nifas tidak. Ila' yaitu jika seorang suami bersumpah tidak akan menggauli isterinya selama-lamanya, atau selama lebih dari empat bulan. Apabila dia bersumpah demikian dan si isteri menuntut suami menggaulinya, maka suami diberi masa empat bulan dari saat bersumpah. Setelah sempurna masa tersebut, suami diharuskan menggauli isterinya, atau menceraikan atas permintaan isteri. Dalam masa ila' selama empat bulan bila si wanita mengalami nifas, tidak dihitung terhadap sang suami, dan ditambahkan atas empat bulan tadi selama masa nifas. Berbeda halnya dengan haid, masa haid tetap dihitung terhadap sang suami.
  3. Baligh. Masa baligh terjadi denganhaid, bukan dengan nifas. Karena seorang wanita tidakmungkinbisa hami sebelum haid, maka masa baligh seorang wanita terjadi dengan datangnya haid yang mendahului kehamilan.
  4. Darah haid jika berhenti lain kembali keluar tetapi masih dalam waktu biasanya, maka darah itu diyakini darah haid. Misalnya, seorang wanita yang biasanya haid delapan hari, tetapi setelah empat hari haidnya berhenti selama dua hari, kemudian datang lagi pada hari ketujuh dan kedelapan; maka tak diragukan lagi bahwa darah yang kembali datang itu adalah darah haid.

F.     Wiladah
1.       Pengertian Mandi Wiladah
Wiladah bermaksud kelahiran anak termasuklah keguguran (sekalipun hanya berupa segumpal darah atau segumpal daging). Menurut mazhab Imam Syafi’ie, Imam Malik dan Imam Ahmad (mengikut satu riwayat darinya); wanita yang melahirkan anak atau keguguran, ia wajib mandi jika ditakdirkan tiada darah nifas yang keluar. Ini kerana dikiaskan kepada mani. Anak atau janin adalah air mani yang telah menjadi kanak-kanak. Keluarnya anak atau janin dari faraj dapat diumpamakan seperti keluar mani darinya, maka wajiblah mandi.

Maka hukumnya ketika itu sama seperti hukum janabah (yakni hukum keluarnya mani yaitu wajib mandi) kerana bayi adalah hasil percampuran dari air mani lelaki dan air mani wanita. Tidak ada beda pada hukum tersebut sekalipun berbeda rupa kandungan yang dilahirkan atau cara kelahirannya. Namun jika kelahiran diikuti dengan keluarnya darah –sebagaimana yang biasa berlaku-, maka darah itu dinamakan nifas dan ia termasuk dengan hukum-hakam nifas”. Mandi Wiladah adalah wajib dan bukan sunat. Ia termasuk dalam

perkara-perkara yang mewajibkan mandi. Ia berbeda dengan mandi untuk

nifas, yang dilakukan selepas darah nifas kering.

2.      Mandi Kerana Wiladah dan Nifas

Seorang perempuan yang telah selesai melahirkan anak mempunyai

kewajiban tertentu yaitu mandi kerana melahirkan (wiladah) dan mandi

karena nifas.

Para ulama telah ber ijma’ mengatakan bahwa wajib mandi dengan sebab

keluar darah nifas, termasuk di dalam perkara yang mewajibkan mandi ialah wiladah yaitu mandi kerana melahirkan, sekalipun melahirkan tanpa basah (darah). Begitu juga bagi perempuan yang mengalami keguguran anak, walaukeguguran itu hanya berupa darah beku ('alaqah) ataupun hanya berbentuk segumpal daging (mudhghah) maka ia diwajibkan untuk mandi.
Perlu diingat, mandi kerana melahirkan dan mandi kerana nifas mempunyai perbedaan. Adapun perbedaanya adalah, darah nifas ialah darah yang keluar dari rahim perempuan setelah melahirkan anak walaupun hanya sedikit. Keluarnya darah nifas itu sebelum sampai lima belas hari setelah seseorang perempuan melahirkan anak. Jika darah itu tidak keluar setelah waktu selama lima belas hari atau lebih, maka darah yang keluar itu tidak dikatakan sebagai nifas tetapi ia merupakan darah haidh. Maka dalam hal ini perempuan tersebut diwajibkan mandi kerana nifas.
Maka apabila seorang perempuan telah melahirkan, wajib baginya untuk mandi kerana wiladah dan wajib juga mandi nifas setelah berhenti darahnya, atau habis masa yang ditentukan yaitu empat puluh hari empat puluh malam atau paling maksima selama enam puluh hari enam puluh malam. Seharusnya wajib bagi seorang perempuan mengetahui hukum-hukum tentang mandi wiladah dan mandi kerana nifas, dan seorang suami juga harus mengetahui tentang hukum-hukum tersebut untuk mengajarkanya kepada isteri.
3.      Rukun Mandi Wiladah
Niat yang disertakan dengan permulaan air keseluruh badan yaitu "Saja aku mandi mengangkat hadas besar dari seluruh tubuhku fardhu karena Allah Taala ". Bagi wanita yang haid dan nifas, harus diniatkan hadas haid dan nifas.
Niat ini harus disertakan dengan permulaan membasuh seluruh anggota badan sekalipun jika dimulai dari bagian bawah. Jika seseorang baru berniat apabila sebagian dari anggota badannya sudah dibasuh, maka wajib baginya mengulangi lagi membasuh anggota yang terdahulu itu. Jika dia merasa was-was apakah telah berniat atau tidak setelah mandi maka dia wajib mengulangi mandinya.

G.    Persetubuhan
1.      Pengertian Kamasutra (Muatsaroh) Dan DasarHukumnya.
Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dan di amalkan dengan sek sama oleh pasangan suami istri agar meraih ketentraman (sakinah), cinta (mawadah) dan kasih sayang (rohmah) baik luar maupun batin salah satunya dan yang paling penting adalah persoalan hubungan intim atau dalam bahasa feqih disebut jima'
Se ks adalah ekspresi terdalam daricinta dari sebuah hubungan total yang yang bersifat fertikal dan emosional.Dengan kenikmatan yang singkat dan indah. Al-Qur'an menyingkap ini antara suami istri.
هن لبس لكم وانتم لبس لهن
Artinya:" mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka(Q.S Al-baqoroh :187)
Hubungan sek antara suami istri lebih dari sekedar sarana pemuas hasrat sek sual. Rasulullah SAW menganggapnya sebagai salah satu bentuk sedekah dalam islam. Dalam Persetubuahan yang kalian lakukan adalah sedekah " para sahabat benar-benar terkejut " Bagaimana salah seorang dari kami memuaskan hasrat lalu dianggap bersedekah ?
Rasulullah SAW menjawab " bukankah jika kita melakukannya dalam situasi haram dan bukan dengan istrinya".maka rasulullah berdo'a maka jikalau melakukannya bersih terhitung baginya sedekah.
2.      Tujuan Hubungan Suami Istri (Muasyaroh).
Sebagai salah satu tujuan dilaksanakannya nikah, hubungan intim. Menurut islam termasuk salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dan mengandung nilai pahala yang sangat besar, karena jima' dalam ikatan nikah adalah jalan halal yang di sediakan oleh Allah untuk melangsungkan hasrat biologisnya dan menyambung keturunan bani adam.
Hubungan intim menurut ibnu qoyyim Al-jarzi dalam At tibbun nabawi (pengobatan ala nabi), sesuai dengan petunjuk Rasulullah memiliki 3 tujuan: memiliki keturunan keberlangsungan umat manusia dan mengeluarkan cairan yang bila mendekam didalam tubuh akan berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah.
3.      Manfaat
Hubungan se ks adalah berguna menghasilkan keturunan. Ketrurunan adalah anugerah dari Allah SWT. Hubungan sek sual juga bermanfaat bagi kesehatan, diketahui bahwa hubungan se ks dapat menjaga kesetabilan psikologis dan emosional.
4.      Hak Berhubungan Se ks
Suami dan istri memiliki hak mendapatkan kepuasan sek sual dari pasangannya. Hubungan sek dijamin oleh oteriat, tidak ada pasangan yang boleh menolak tanpa alas an yang valid.
5.      Adab Atau Tata Cara Dalam Bersanding.
Ada beberapa adab tatkala suami istri bersanding pada malam pernikahannya. Diantara adab-adabnya adalah:
  • Disunatkan agar suami meletakkan tangannya diatas kening pengantin wanita sambil menyebutb nama Allah dan mendoakan keberkahan baginya dan hendaklah mengucapkan :
اللهم انى اسئلك من خيرها و خير ما جبلتهما عليه واعوذبك من شرها وشرما جبلتهما عليه (روه البخاري و ابو داود)
"Allhumma ya Allah aku mohon kepadamu dari kebaikannya dan kebaikan apa yang engkau tetapkan padanya (H.R Bukhori dan Abu Dawud)
2.      disunnahkan kepada kedua pengantin agar sholat dua rokaat kemudian berdoa kepada Allah SWT dan mengucapkan :
اللهم اجمع بينن ما جمعت بخير وفرق بينن اذا فرقت الى خير
"Allahumma ya Allah berkatilah aku dan keluargaku dan berkatilah mereka kepadaku. Allahumma ya Allah persatukan kami dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami jika memang baik bagi kami". (diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang baik).

LANJUT KE BAB III PENUTUP


MAKALAH MASALAH IBADAH, PEMBAGIAN HAID,NIFAS,WILADAH DAN PERSETUBUHAN SEMOGA BERMANFAAT
 ______________________________________________________________________________ 


contoh makalah, contoh makalah lengkap, makalah lengkap, contoh makalah mahasiswa, makalah pendidikan, contoh makalah pendidikan, daftar pustaka makalah, contoh kata pengantar makalah, makalah, buat makalah, cara membuat makalah, contoh makalah, download contoh makalah, download makalah lengkap, contoh kesimpulan makalah



0 komentar:

Post a Comment