MAKALAH PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM - PUSAT MAKALAH

on
Pusat Makalah
Contoh Makalah
Contoh Makalah Lengkap
Makalah Lengkap
Kesimpulan Makalah


MAKALAH PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM




BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam, termasuk salah satunya pengucilan yang dilakukan Bani Umaiyah terhadap kaum mawali yang menyebabkan ketidak puasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi banyak kerusuhan .
Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas, dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.
Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase, yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim ke seluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas, bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah. Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani.


BAB II
PEMBAHSAN
1.1. Perkembangan Islam Periode Klasik Masa khalifah Usman bin Affan (644-656 M)
Seperti diketahui, bahwa Usman bin Affan merupakan salah seorang khalifah dari al-Khulafa al-Rasyidun. Pada masa pemerintahannya, terutama pada periode pertama, banyak mengalami perkembangan bahkan kemajuan peradaban Islam. Di antara perkembangan peradaban Islam yang ada ketika itu adalah sebagai berikut :
1.      Pembukuan (kodifikasi) al-Qur’an.
Dalam catatan sejarah Islam diketahui bahwa pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan (644-656 M), terdapat satu prestasi yang dicapai, terutama dalam usaha memeliahara al-Qur’an, yaitu usaha pembukuan al-Qur’an. Usahan ini sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum khalifah Usman bin Afan berkuasa, yaitu pada masa-masa awal pemerintahan khalifah Abu Bakar al-Shiddieq. Bahkan usaha penulisan wahyu telah dilakukan sejak masa Rasulullah Saw. Setiap menerima wahyu, Rasulullah Saw selalu membacakan dan mengajarkannya kepada para sahabat, serta memerintahkan kepada mereka untuk menghafalnya. Selain itu, Nabi Muhammad Saw juga memerin-tahkan kepada para sahabat yang pandai tulis baca, agar menuliskannya di pelepah kurma, pada lempengan-lempengan batu dan kepingan-kepingan tulang. Perintah tersebut dilaksanakan dengan baik, dan mereka menuliskannya dengan sangat hati-hati. Karena al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi setiap muslim. Rasulullah juga memberi nama-nama surat, urutan dan tata tertibnya sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Semua tulisan ayat tersebut disimpan di rumah Nabi Muhammad. Masing-masing sahabat juga menulis untuk disimpan sendiri. Ketika Rasulullah Saw ma¬sih hidup, tulisan-tulisan tersebut belum dikumpulkan atau dibukukan dalam satu mushaf, dan masih tersebar tidak tertata.
Akan tetapi setelah Rasulullah wafat, dan Abu Bakar menjadi khalifah, banyak sahabat yang meninggal dalam perang Yamamah. Para sahabat yang meninggal dan hafal al-Qur’an sekitar 70 orang. Banyaknya sahabat yang meninggal dalam pertempuran tersebut, menimbulkan kekhawatiran di kalangan sahabat sendiri, khususnya Umar bin al-Khattab. Umar khawatir jika tidak diperhatikan, maka al-Qur’an akan hilang sejalan dengan semakin banyanya sahabat hafalal-Qur’an yang meninggal dunia. Melihat situasi ini, Umar menyarankan kepada khalifah Abu Bakar agar menghimpun surat-surat dan ayat-ayat al-Qur’an yang sudah ditulis menjadi sebuah mushaf. Pada mulanya khalifah Abu Bakar ragu melakukannya, karena hal tersebut belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Tetapi setelah Umar bin al-Khattab meyakinkan khalifah Abu Bakar, bahwa pembukuan al-Qur’an dilakukan semata untuk memelihara al-Qur’an dari kepunahan. Penjelasan ini akhirnya diterima khalifah Abu Bakar, dan khalifah memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk memimpin penulisan dan pengum¬pulan al-Qur’an. Penulisan dan pembukuan itu berpedoman pada mushaf yang tersimpan di rumah Rasulullah Saw, hafalan-hafalan dari sahabat, dan naskah-naskah yang ditulis oleh para sahabat untuk kepentingan mereka sendiri. Penunjukan Zaid bin Tsabit, karena ia juga merupakan salah seorang penulis wahyu. Dengan usaha keras, ketekunan dan kesabarannya, Zaid berhasil menuliskan satu naskah al-Qur’an dengan lengkap di atas kulit (adim) yang disamak. Setelah selesai, mushaf tersebut diserahkan kepada khalifah Abu Bakar dan disimpan hingga ia wafat. Ketika Umar bin al-Khattab menjadi khalifah, Mushaf tersebut terus dijaga dan berada dalam pengawasan ketat. Sepeninggal khalifah Umar bin al-Khattab, mushaf tersebut disimpan di rumah Hafsah binti Umar, isteri Rasululah Saw.
Pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan, terdapat perbedaan cara membaca al-Qur’an di kalangan umat Islam. Hal itu terjadi karena masing-masing ka¬bilah memiliki laughat atau lahjah (dialek) sendiri-sendiri, sehingga ketika membaca al-Qur’an terdapat perbedaan dalam cara membacanya. Persoalan tersebut semakin bertambah ketika wilayah Islam semakin luas. Banyak masyarakat yang baru memeluk Islam memiliki cara baca yang berbeda, sesuai dengan dialek masing-masing daerah. Salah seorang sahabat bernama Huzaifah bin Yaman yang pernah mendengar perbedaan cara membaca al-Qur’an itu mengusulkan kepada khalifah Usman bin Affan agar menetapkan aturan penyeragaman bacaan al-Qur’an dengan membuat mushaf standar, yang akan dijadikan pedoman bagi umat Islam kemudian. Usulan tersebut diterima dan kemudian ia membentuk panitia (lajnah) yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Tugas utama panitia ini adalah menyalin mushaf yang disimpan Hafsah dan menyeragamkan dialeknya atau lahjahnya dengan dialek atau lahjah Quraisy.
Selesai menjalankan tugasnya, panitia mengembalikan mushaf ke Hafsah. Dalam tugasnya, Zaid berhasil membuat 6 (enam) buah mushaf. Untuk penyeragaman lahjah, khalifah Usman mememrintahkan agar dikirim ke beberapa wilayah Islam. Sedangkan naskah lain diperintahkan untuk dibakar, sehingga keaslian al-Qur’an dapat dipelihara. Mushaf yang telah dibukukan dan diseragamkan disebut dengan Mushaf Usmani. Mushaf yang disimpan khalifah Usman disebut dengan Mushaf Imam, dan yang lainnya dikirim ke Makah, Madinah, Kufah, Basrah, dan Syria.
2.      Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Salah satu implikasi atau dampak positif yang dihasilkan dari perluasan wilayah Islam, selain semakin bertambahnya jumlah pemeluk Islam dan luasnya wilayah kekuasaan Islam, juga berdampak pada semakin berkembangnya pusat-pusat peradaban Islam. Perkembangan pusat-pusat kota yang kemudian menjadi pusat-pusat peradaban Islam, menarik perhatian para pendatang. Ketika itu terjadi asimilisi dan akulturasi antara peradaban lokal dengan peradaban baru yang dibawa oleh Islam. Proses akulturasi ini menghasilkan peradaban baru yang memperkaya khazanah peradaban Islam.
Di daerah baru atau di pusat-pusat peradaban baru, para ilmuan muslim mela¬kukan riset untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Pada masa awal Islam, ilmu pengetahuan yang berkembang dikategorikan menjadi ilmu naql ( al-ulum al-naqliyah) yang bersumber pada al-Qur’an, dan ilmu aql ( al-ulum al-Aqliyah), yang bersumber pada akal pikiran manusia. Pada masa pemerintahan al-khulafa al-rasyidin, ilmu yang berkembang adalah ilmu naqliyah, belum banyak berkembang ilmu aql. Hal itu dapat dipahami karena mereka adalah para sahabat setia yang patuh menjalankan sesuatu berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi.
Di antara ilmu yang berkembang pada periode ini adalah ilmu qiraat. Ilmu ini berkembang karena banyak umat Islam membaca al-Qur’an dengan menggunakan dialek atau lahjah mereka masing-masing. Untuk menghindari kesalahan dalam membaca al-Qur’an, maka perlu dibuat standar bacaan al-Qur’an. Karena itu, khalifah Usman bin Affan melakukan standarisasi bacaan al-Qur’an dengan membuat mushaf yang disebut Mushaf Usmani atau mushaf imam. Kemudian salinan lainnya dibuat dan dikirim ke beberapa daerah agar semua bacaan memiliki standar yang baku.
Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah ilmu tafsir. Lahirnya ilmu tafsir karena adanya kebutuhan untuk memahami pengertian ayat-ayat al-Qur’an. Penafsiran al-Qur’an dilakukan dengan menggunakan ayat-ayat atau hadits-hadits Rasulullah Saw. Bahkan ada beberapa sahabat Nabi yang menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan apa yang mereka terima dari Nabi Muhammad Saw. Di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Ka’ab. Mereka ini dapat disebut sebagai ahli tafsir pada periode klasik Islam.  Sedang ilmu hadis belum berkembang ketika itu. Para sahabat mempelajarai dan mengembangkan ilmu hadits berbarengan dengan usaha mereka mempelajari dan mengembangkan al-Qur’an. Karena untuk memahami al-Qur’an, mereka harus memahami ilmu hadits. Dalam sejarah ilmu tafsir dikenal dengan istilah tafsir bil ma’tsur. Di antara beberapa orang sahabat yang menyebarkan hadits atas perintah khalifah Umar bin al-Khattab adalah Abdullah bin Mas’ud pergi ke Kufah. Ma’qal bin Yasar ke Basrah, Ubbadah bin Shamit dan Abu darda pergi ke Syria.
Sementara ilmu Nahwu berkembang di Kufah dan Basrah. Perkembangan ilmu ini karena di kedua wilayah tersebut banyak bermukim orang-orang Arab yang berbicara dengan berbagai dialek. Selain itu, juga bermukim penduduk Persia. Di antara ahli ilmu nahwu pertama adalah Ali bin Abi Thalib, Abul Aswad al-Du’ali. Ilmu lain yang berkembang ketika itu adalah Khath al-Qur’an. Perkembangan ilmu ini sangat terkait dengan proses penulisan dan penyebaran al-Qur’an ke berbagai wilayah Islam, serta pengiriman surat-surat diplomasi yang dilakukan sejak jaman Rasululah Saw dan dilanjutkan oleh para sahabat. Dari catatan sejarah diketahui bahwa orang-orang Arab belajar menulis indah berbentuk Nuskhi atau Nabti dari para pedagang yang datang dari Irak. Karena itu, ketika ada usaha penulisan al-Qur’an, maka bentuk tulisan yang dipergunakan adalah bentuk Kufi, sedang untuk surat-menyurat menggunakan Naskhi.
Di samping perkembangan ilmu-ilmu tersebut, pada masa ini juga terjadi pertumbuhan ilmu fiqh. Ilmu ini merupakan salah satu ilmu yang dikembangkan umat Islam untuk memahami dan mempraktikan ajaran Islam. Pada umumnya, para ahli fiqh (fuqaha) adalah juga ahli al-Qur’an dan ahli al-Hadits, karena mereka adalah para sahabat awal yang ketika memecahkan suatu masalah selalu bersandar pada al-Qur’an dan al-Hadits. Oleh karena itu, para fuqaha yang muncul kebanyakan adalah para sahabat. Di santara fuqaha saat itu adalah Umar bin al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, di Madinah, Abdullah bin Abbas, di Makkah, Abdullah bin Mas’ud, di Kufah, Anas bin Malik, di Basrah, Mua’dz bin Jabal, di Syria, dan Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, di Mesir.
Sementara pertumbuhan ilmu kedokteran pada masa klasik Islam, belum banyak dikembangkan. Meskipun begitu, ada salah seorang dokter kenamaan yang berasal dari Tha’if, yaitu al-Harits bin Kaldah (w.13 H). Ia belajar ilmu kedokteran dari Persia. Karena keahliannya ini, ia dijuluki sebagai dokter orang-orang Arab.
3.      Perkembangan Sastra
Dalam epistimologi bahasa, sastra adalah inti seni. Sejak pra Islam, bangsa Arab memiliki kemampuan sastra yang sangat tinggi. Banyak sastrawan pra Islam yang terkenal, di antaranya adalah Umru al-Qays dan lain-lain. Ketika Islam berkembang, seni sastra ini terus dipertahankan bahkan diisi dengan nilia-nilai keaga¬maan, sehingga nilai sastra selalu bernafaskan Islam.
Pada masa al-Khulafa al-Rasyidun, sastra mengalami perkembangan, meski para khalifah saat itu kurang terfokus dalam pengembangan sastra, karena lebih fokus pada proses penulisan dan pembukuan al-ur’an. Tetapi, bagi masyarakat seni, al-Qur’an dan al-Hadits yang tengah mendapatkan perhatian serius, menjadi inspirasi bagi upaya pengembangan sastra Islam.
Pada saat itu, seni sastra yang dikembangkan sangat terpengaruh dari penguasaan al-Qur’an dan pengembangan al-Hadits. Paling tidak ada dua bentuk proses yang berkembang ketika itu, yaitu khithabah (seni berpidato) dan Kitabah (seni menulis). Khithabah, menjadi alat yang paling efektif dalam berdakwah. Salah seorang sahabat yang ahli berpidato adalah Ali bin Abi Thalib. Khutbahnya dikumpulkan dalam satu buku yang diberi judul Nahjul Balaghah.
Pada masa ini muncul para penyair yang hidup pada dua jaman, yaitu pra Islam dan masa Islam. Mereka biasa disebut dengan Mukhadram. Di anatar meraka adalah Hasan bin Tsabit dan Ka’ab bin Zuhair. Hasan bin Tsabit adalah penyair keluarga Rasul. Ia selalu menggubah syair-syair untuk membela Islam dan memuliakan Rasulnya.
4.      Perkembangan seni bangunan atau arsitektur
Seni bangunan pertama yang dikembangkan dalam Islam sangat terkait de¬ngan pembangunan masjid, meskipun pada masa-masa awal Islam, seni arsitektur ini belum mengalami perkembangan karena Islam masih berada di Madinah dan Makah, belum keluar dari kedua kota tersebut. Tetapi setelah Islam melebarkan sayapnya, terdapat sentuhan seni bangunan, terutama ketika Islam memasuki wilayah Irak dan Persia. Kedua negeri ini dikenal sebagai negeri yang memiliki seni bangunan yang memiliki nilai seni tinggi. Karena itu, ketika al-Khulafa al-Rasyidun berkuasa, terdapat usaha pengembangan seni bangunan ini. Di antara bangunan yang mendapat sentuhan seni bangunan atau arsitektur adalah masjid al-Haram, masjid Madinah, dan masjid al-Atieq di Mesir.
Masjid al-Haram yang didirikan oleh Nabi Ibrahim mengalami perbaikan terus menerus hingga kini. Masjid ini pada jaman khalifah Umar bin al-Khattab mulai direnovasi dengan memperluas bangunan majid dengan membeli rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Kemudian pada masa khalifah Usman bin ‘Affan (26 H), juga dilakukan perluasan bangunan, sehingga bangunan masjid al-Haram semakin tambah luas, bila dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Seni bangunan juga diterapkan pada pengembangan bangunan masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini pertama kali didirikan oleh Nabi Muhammad Saw setelah tiba di Madinah. Masjid ini kemudian tidak hanya dijadikan sebagai tempat beribadah, juga tempat melakukan musyaarah dalam memutuskan banyak hal yang berkaitan dengan pengembangan Islam ke luar kota Madinah. Diperkirakan pada tahun ke- 7 H, masjid ini diperluas menjadi 350 x 30 meter dengan 3 buah pintu. Kemudian pada tahun ke17 H pada masa khalifah Umar bin al-Khattab, terjadi lagi perluasan bangunan. Pengembangan ini terus dilakukan pada masa khalifah Usman bin Affan, bahkan diperindah. Dindingnya diganti dengan batu, dan bidang-bidang dindingnya dihiasai dengan berbagai ukiran. Tiang-tiangnya dibuat dari beton bertulang dan ditatah dengan ukiran, plafonnya dibuat dari kayu pilihan. Ketika itulah mulai diperlihatkan unsur estetisitas atau keindahan seni bangunan dalam masjid ini.
Selain pembanguna dan renovasi masjid-masjid, pada masa al-Khulafa al-Rasyidun juga terjadi perkembangan dalam seni bangunan, terutama pada kota-kota baru yang dibuat dan dikembangan pada masa pemerintahan al-Khulafa al-Rasyidun. Terlebih setelah Irak dan Mesir dikuasai. Khalifah umar bin al-Khattab memerintahkan untuk membangun kota-kota baru. Di Irak, misalnya dibangun kota Basrah dan Kufah. Di Mesir dibangun kota Fusthath. Kamp konsentrasi militer dikembangkan menjadi perkampungan dan kota-kota baru. Bangunan- bangunan utama dari sebuah kota yang baru dibangun adalah perumahan, masjid jami’ serta masjid-masjid kecil lainnya. Selain itu, gedung-gedung perkantoran juga dibangun di sekitar masjid yang dilengkapi dengan sarana umum lainnya, seperti kamar mandi umum, saluran dan bak penampung air dan pasar. Bagian-bagian kota dipisahkan oleh jalanan dan lo-rong-lorong yang ditata rapi. Di antara kota-kota baru yang dibangun pada masa ini adalah :
1.      Basrah di bangun pada tahun 14-15 H dengan arsiteknya Utbah bin Ghazwah dengan dibantu oleh sekitar 800 orang pekerja. Untuk keperluan penetuan lokasi, khalifah Umar yang menentukannya, yaitu kira-kira 10 mil dari sungai Tigris (Dajlah). Untuk memenuhi kebutuhan air buat penduduk, dibuatlah sa¬luran air (irigasi) dari sungai menuju kota.
2.      Kufah dibangun pada tahun 17 H. Kota ini dibangun di atas bekas ibu kota kerajaan Arab sebelum Islam, yaitu Manadzir. Kota ini berjarak sekitar 2 mil dari sungai Eufrat ( Furat). Untuk membangun kota ini, khalifah Umar bin al-Khattab memberikan kepercayaan kepada Salman al-Farisi. Karena kerja keras dan hasilnya memuaskan, maka Salman al-Farisi memperoleh pensiun selama hidupnya.
3.      Fusthath dibangun pada tahun 21 H pada masa khalifah Umar bin al-Khattab. Pembangunan kota ini dilakukan karena khalifah Umar tidak menyetujui usulan gubernur Mesir, Amr bin al-‘Ash untuk menjadikan kota Iskandariyah sebagai ibu kota provinsi Mesir. Alasannya, sungai Nil membatasi kota tersebut dengan Madinah, sehingga akan menyulitkan hubungan antara pusat dengan daerah. Kota ini di bangun di sebelah Timur sungai Nil. Pembangunan kota ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya yang menjadi syarat bagi sebuah kota.
Demikian perkembangan peradaban Islam yang dapat dikaji dan ditemukan pada masa pemerintahan al-Khulafa al-Rasyidun sekitar tahun 650–an M. Peradaban Islam semakin menampakkan kemajuan ketika dinasti Umayah dan Abbasiyah berkuasa. Untuk melihat perkembangan tersebut, berikut uraiannya.
2.2. Perkembangan Peradaban Islam Periode Klasik Masa Pemerintahan Dinasti Bani Umayah ( 661-750 M)
Dinasti umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah.Muawiyah dapat mendirikan kekuasaannya bukan atas dasar demokrasi yang berdasarkan atas hasil pilihan umat islam .Berdirinya dinasti umayyah bukan juga hasil dari musyawarah , jabatan raja menjadi pusaka yang diwariskan secara turun menurun yaitu sistem monarkhi.
Dinasti umayyah berdiri selama 90 tahun (40-132H/661-750M) dengan Damaskus sebagai pusat pemerintahannya.pada dinasti ini banyak kemajuan ,perkembangan dan perluasan daerah yang dicapai terlebih pada masa pemerintahan khalifah Walid bin Abdul Malik (86-96H/ 705-715M).Pada masa awal pemerintahann muawiyah bin Abi Sufyan ada usaha perluasan wilayah kekuasaan ke berbagai wilayah seperti ke india dengan mengutus muhalllab bin Abu Sufrah dan usaha perluasan ke barat ke darah Bizantium di bawah pimpinan Yazid bin Muawiyah selain itu juga diadakan peluasan wilayah Afrika Utara.
Dalam upaya perluasan daerah kekuasaan islam pada masa Muawiyah beliau selalu mengerahkan segala kekuatan yang dimilkinya untuk merebut pusat-pusat kekuasaan diluar  jazirah  Arabia di antaranya upaya untuk menguasai kota Konstinovel. Paling tidak ada 3 hal yang menyebabkan Muawiyah bin Abi Sufyan terus berusaha merebut Bizantium:
·         Bizantium merupakan basis kekuatan agama Kristen ortodoks yang pengaruhnya dapat membahayakan islam
·         Orang-orang Bizantium sering mengadakan pemberontakan ke daerah islam
·         Bizantium termasuk wilayah yang mempunyai kekayaan melimpah
Meskipun keadaan dalam negeri dapat diatasi pada beberapa periode akan tetapi pada masa–masa tertentu sering kali dapat membahayakan keadaan pemerintahan itu sendiri.ketika pemerintahan berada di tangan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (6586H/685-705M) keadaan dalam negeri boleh di bilang teratasi dengan keadaan seperti itu, kemajuan peradaban dapat dicapai terutama dalam politik kekuasaan.
Khalifah Walid bin abdul malik berusaha memperluas daerahnya menuju Afrika utara yaitu Magrib Al-aqsha dan Andalusia .Dengan keinginan yang kuat dan keberanian, Musa bin Nusair dapat menguasai wilayah tersebut sehingga ia diangkat sebagai gubernur untuk wilayah Afrika utara.
Ketika ia menjabat sebagai gubernur afrika utara ia dapat menaklukan beberapa suku yang terus mengadakan pemberontakan di daerahnya itu. Sehingga dengan demikian ia leluasa  memperluas wilayah kekuasaan islam ke daerah lainnya di seberang lautan. Untuk tugas itu Musa bin nusair mengutus Tharif bin Malik mengintai keadaan Andalusia di bantu oleh Julian. Keberhasilan ekspedisi awal ini, membuka peluang bagi musa bin nusair melakukan langkah berikutnya dengan mengirim Thariq bin Ziyad menyeberangi  lautan  guna merebut daerah Andalusia .Tepat pada tahun 711 M ,Thariq mendarat di sebuat selat yang kini selat tersebut diberi nama  yakni Selat Jabal Thariq atau Selat Gibraltar. Keberhasilan Thariq memasuki wilayah Andalusia membuat perjalan baru bagi kekuasan islam.Dimasa itu ilmu dan kebudayaan islam berkembang dengan baik di antaranya kebudayaan (seni sastra, seni rupa, seni suara, seni bangunan,seni ukir dan sebagainya), dan bidang ilmu ( ilmu kedokteran, ilmu filsafat, astronomi, ilmu bumi dan lainnya).
Dalam sejarahnya, perjalan dinasti Umayyah mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Walid bin Yazid (125-126 H / 743-744 M) bahkan akhirnya kekuasaan  Bani umayyah mengalami kehancuran ketika diserang oleh gerakan Bani abbasiyah  pada tahun 132H/ 750 M. Ada  beberapa faktor-faktor yang menyebabkan danasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran:
1.      Sebab-sebab umum 
·         Penyelewengan dari sistem musyawarah islam diganti dengan sistem kerajaan.
·         Pengkhianatan permusyawaratan jandal.
·         Menyalahi perjanjian madaain antara Muawiyah dengan Ali bin Abi Thalib.
·         Pengangkatan putra  mahkota lebih dari satu.
2.      Sebab-sebab khusus
·         Kelemahan dari Yazid bin Abdul Malik memecat orang-orang dalam.  Jabatannya diganti dengan orang-orang yang disukainya, padahal pengganti itu tidak ahli.
·         Kemewahan dan keborosan di kalangan istana.
·         Organisasi Negara pada masa Dinasti Umayyah masih pada permulaan islam yaitu terdiri dari 5 badan:
a.    An Nidhamatul Siyasi ( organisasi politik)
b.    An Nidhamatul Idari ( organisasi tata usaha Negara )
c.    An Nidhamatul Mali ( organisasi keuangan atau ekonomi )
d.   An Nidhamatul Harbi ( organisasi pertahanan  )
e.    An Nidhamatul Qadhai ( organisasi kehakiman )

2.3. Perkembangan Islam Periode Klasik Pada Masa Khalifah Bani   abbasyiah
Dinasti Bani Abbasiyah yang berkuasa sejak tahun (132-656 H / 750-1258 M) perkembangan dari kemajuan sosial budaya yang terjadi pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah :
1.      Kemajuan Dalam Bidang Sosial Budaya
Selama masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah (750-1258 M). diantara perkembangannya adalah dalam bidang :
a.       Seni Bangunan dan Arsitektur Masjid
Masjid merupakan bangunan tempat ibadah umat islam yang merupkn wakil menonjol dari Arsitektur islam. Masjid yang dirikan pada masa pemerintahan Bani Abbas adalah bangunan masjid Samarra, di Bagdad.
Masjid Samarra adalah tiang-tiang yang di pasang beratap lengkung. Tiang-tiang tersebut dibangun menggunakan batu bata.
b.      Seni bangunan kota
Seni bangunan islam masih mempunyai cirri khas dan gaya tersendiri, dalam pintu pilar, lengkung kubah, hiasan lebih bergantung (muqarnas hat).
Pemerintah dinasti Abbasiyah adalah kota Bagdad, yang dibangun oleh Abu ja’far al-Mansur (136-158 H/754-775). Tempat lokasi ditepi sungai Eufrat (Furat) dan Dajlah (Tigris). Pembangunan ini diarsiteki oleh Hajjaj bin Artbab dan Amran bin Wadldlah, tenaga kerja yang dibutuhkan.
Istana khalifah al-Manshur dipusat kota bernama Qashru al-Dzahab (istana keemasan)yang luasnya sekitar 160.000 Hasta persegi. Masjid Jami’ didepannya memiliki luas areal sekitar 40.000 hasta persegi,” Istana dan Masjid merupakan simbol kota. Sekitar tahun 157 H, khalifah al-Mansur membangun istana baru diluar kota yang diberi nama Istana ABADI (Qasbrul Khuldi) khalifah al-Mansur membagi kota Bagdad menjadi empat daerah, yang masing-masing daerah dikepalai oleh seorang naib amir (wakil gubernur) dan tiap-tiap daerah diberi hak mengurusi wilayah sendiri yaitu daerah otonom.
2.      Perkembangan Dan Kemajuan Bahasa Sastra
Perkembangan seni bahasa dan kemajuan, baik puisi maupun prosa kemajuan yang cukup berarti. Salah satu perhatian besar bani Abbas dan juga para ahli bagian Seniman. Berikut uraian singkatnya :
a.       Perkembangan puisi
Berbeda dengan masa pemerintahan bani Umayah yang belum banyak. Penyair pada masa pemerintahan bani Umayah, masih kental dalam keaslian warna Arabnya, sedangkan sastrawan pada zaman pemerintahan Bani Abbas, telah melakukan perubahan kekuasaan tersebut. Mereka telah mampu mengombinasikannya dengan sesuatu yang bukan berasal dari tradisi arab dari tradisi Arab. Oleh karena itu wajar kalau kemudian pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak bermunculan penyair terkenal. Diantara mereka adalah sebagai berikut :
·         Abu Nawas (145-198 H) nama aslinya adalah Hasan bin Hani
·         Abu’ At babiyat (130-211 H)
·         Abu Tamam (wafat 232 H) nama aslinya adalah Habib bin Auwas atb-Tba’i
·         Dabal al-kbuza’I (wafat 246 H) nama aslinya adalah Da’bal bin Ali Razin dari Kbuza’ab. Penyair besar yang berwatak kritis.
·         Al-Babtury (206-285 H) nama aslinya adalah Abu Ubadab Walid al Babtury al-Qubtbany atb-tba’i.
·         Ibnu Rumy (221-283 H). nama aslinya adalah Abu Hasan Ali bin Abbas. Penyair yang berani menciptakan tema-tema baru
·         Al-Matanabby (303-354 H) nama aslinya adalah Abu Thayib Ahmad bin Husin al-Kuft penyair istana yang haus hadiah, pemuja yang paling handal.
·         Al-Mu’arry (363-449 H) nama aslinya Abu A’la al-Mu’arry. Penyair berbakat dan berpengetahuan luas.

b.      Perkembangan prosa
Pada masa pemerintahan dinasti bani Abbasiyah telah terjadi perkembangan yang sangat menarik dalam bidang prosa. Banyak buku sastra novel, riwayat, kumpulan nasihat, dan uraian-uraian sastra yang dikarang atau disalin dari bahasa asing.
·         Abdullah bin Muqaffa (wafat tahun 143 H) buku prosa yang dirintis diantaranya Kalilab wa Dimnab, kitab ini terjemahan dari bahasa sansekerta. Karya seorang filosuf india bernama Baidaba dia menyalin menjadi bahasa arab.
·         Abdul Hamid al – katib. Ia dipandang sebagai pelopor seni mengarang surat.
·         Al-Jabidb (wafat 255H). karyanya ini memiliki nilai sastra tinggi, sehingga menjadi bahasa rujukan dan bahan bacaan bagi para sastrawan kemudian.
·         Ibnu Qutaibab (wafat 276 H). ia dikenal sebagai ilmuan dan sastrawan yang sangat cerdas dan memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang bahasa kesusastraan.
·         Ibnu Abdi Rabbib (wafat 328 H) ia seorang penyair yang berbakat yang memiliki kecendrungan kesajak drama. Sesuatu yang sangat langka dalam tradisi sastra arab. Karya terkenalnya adalah al-Aqdul Farid, semacam ensiklopedia Islam yang memuat banyak Ilmu pengetahuan Islam.



  

BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Dalam catatan sejarah Islam diketahui bahwa pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan (644-656 M), terdapat satu prestasi yang dicapai, terutama dalam usaha memeliahara al-Qur’an, yaitu usaha pembukuan al-Qur’an. Usahan ini sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum khalifah Usman bin Afan berkuasa, yaitu pada masa-masa awal pemerintahan khalifah Abu Bakar al-Shiddieq. Bahkan usaha penulisan wahyu telah dilakukan sejak masa Rasulullah Saw. Setiap menerima wahyu, Rasulullah Saw selalu membacakan dan mengajarkannya kepada para sahabat, serta memerintahkan kepada mereka untuk menghafalnya. Selain itu, Nabi Muhammad Saw juga memerin-tahkan kepada para sahabat yang pandai tulis baca, agar menuliskannya di pelepah kurma, pada lempengan-lempengan batu dan kepingan-kepingan tulang. Perintah tersebut dilaksanakan dengan baik, dan mereka menuliskannya dengan sangat hati-hati. Karena al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi setiap muslim. Rasulullah juga memberi nama-nama surat, urutan dan tata tertibnya sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Semua tulisan ayat tersebut disimpan di rumah Nabi Muhammad. Masing-masing sahabat juga menulis untuk disimpan sendiri. Ketika Rasulullah Saw ma¬sih hidup, tulisan-tulisan tersebut belum dikumpulkan atau dibukukan dalam satu mushaf, dan masih tersebar tidak tertata.
Dalam sejarahnya, perjalan dinasti Umayyah mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Walid bin Yazid (125-126 H / 743-744 M) bahkan akhirnya kekuasaan  Bani umayyah mengalami kehancuran ketika diserang oleh gerakan Bani abbasiyah  pada tahun 132H/ 750 M. Ada  beberapa faktor-faktor yang menyebabkan danasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. LANJUT KE DAFTAR PUSTAKA >>>



 MAKALAH PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM SEMOGA BERMANFAAT


_________________________________________________________________________________ 

contoh makalah, contoh makalah lengkap, makalah lengkap, contoh makalah mahasiswa, makalah pendidikan, contoh makalah pendidikan, daftar pustaka makalah, contoh kata pengantar makalah, makalah, buat makalah, cara membuat makalah, contoh makalah, download contoh makalah, download makalah lengkap, contoh kesimpulan makalah

0 komentar:

Post a Comment