MAKALAH KEDUDUKAN INDONESIA DI TENGAH-TENGAH ERA GLOBALISASI - PUSAT MAKALAH

on
Pusat Makalah
Contoh Makalah
Contoh Makalah Lengkap
Makalah Lengkap
Kesimpulan Makalah


MAKALAH KEDUDUKAN INDONESIA DI 
TENGAH-TENGAH ERAGLOBALISASI


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara multikultural yang kaya akan kebudayaan,ras dan agama, negara yang heterogen ini seharusnya menjadi kelebihan tersendiri bagi indonesia dibanding negara lainnya, berasaskan atas semboyan “bhineka tunggal ika” indonesia dapat bersatu di bawah satu pemerintahan dengan beragam perbedaan yang ada, di zaman modern ini dimana zaman yang menganggap ideologi telah mati dan ketinggalan zaman, akan tetapi nasionalisme itu sendiri adalah sebuah ideologi maka dari itu membicarakan perihal nasionalisme dianggap sudah ketinggalan zaman dan seperti menggali kuburan yang cukup jauh dari dataran, karena ideologi bangsa benar-benar telah dikubur rapat-rapat sehingga potensi dari anak bangsa yang bersinar seperti dahulu kala para pemuda-pemuda pendiri bangsa sulit sekali kita menemukan di zaman sekarang.
Globalisasi telah menghilangkan batas dan waktu dari setiap invidu di dunia ini, globalisasi merupakan keniscayaan dari kemajuan teknologi dan SAINS, yang berdampak juga pada perwujudan pasar bebas yang katanya dapat menghilangkan ketegangan antara barat dan timur sehingga diharapkan akan menjadikan homogenitas dari setiap individu di dunia ini, akan tetapi homogen dalam hal menuju pada hedonisme,materialisme bahkan pragmatisme.
Identitas bangsa merupakan hal yang penting disaat globalisasi pada dunia modern seperti ini, kekayaan material maupun kebudayaan adalah nilai lebih dari bangsa kita. Sumber daya alam yang berlimpah,negara maritim, dan letak geografis yang strategis seharusnya menjadikan kita negara kuat yang mandiri yang dapat memenuhi segala kebutuhan bangsa, akan tetapi sumber daya manusia yang tunakualitas tidak dapat maksimal memanfaatkan sumber daya tersebut.  Sumber daya manusia merupakan isu sentral mengapa negara kita statis disaat negara yang lain bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman. Tanah dan bangsa kita hanya menjadi lahan dari pihak asing, sehingga membuat kerugian besar bagi negara kita.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Global
Kata ‘globalisasi’ diambil dari kata global. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah kontinitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh. Marshall McLuhans menyebut dunia yang diliputi kesadaran globalisasi in global village (desa buana). Dunia menjadi sangat transparan, sehingga seolah tanpa batas administrasi suatu Negara. Batas-batas geografis suatau Negara menjadi kabur. Globalisasi membuat dunia menjadi transparan akibat perkembangan pesat lmu pengetahuan dan teknologi serta adanya sstem informasi satelit. Arus globalisasi lambat laun semakin meningkat dan menyentuh hamper setiap aspek kehidupan sehari-hari. Globalisasi memunculkan gaya hidup cosmopolitan yang ditandai oleh berbagai kemudahan hubungan dan terbukanya aneka ragam informasi yang memungkinkan individu dalam masyarakat mengikuti gaya-gaya hidup baru yang disenangi (Muctarom, 2005).
Istilah globalisasi yang dipopulerkan Theodore Lavitte pada 1985 ini tela menjadi slogan magis di dalam setiap topik pembahasan. Substansi gobalisasi adalah ideologi yang menggambarkan proses interaksi yang sangat luas dalam berbagai bidang: keonomi, politik, sosial, teknologi dan budaya.
Globalisasi juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses multilapis dan multidimensi dalam realitas kehidupan yang sebagian besar dikonstruksi Barat, khususnya oleh kapitalisme dengan nilai-nilai dan pelaksanaannya. Didalam dunia global, bidang-bidang di atas terjalin secara luas, erat, dan dengan proses yang cepat. Hubungan ini ditandai dengan karakteristik hubungan antara penduduk bumi yan gmelampaui batas-batas konvensional, seperti bangsa dan Negara. Keadaan demikian ini menunjukkan bahwa relasi antara kekuatan bangsa-bangsa di dunia akan mewarnai berbagai hal, yaitu sosial, hukum, ekonomi, dan agama.
Fredman (1999) mengartikulasikan globalisasi sebagai sebuah interelasi yang sedemikian eratnya antara Negara, pasar dan teknologi. Kondisi ini memungkinkan baik perorangan, perusahaan, maupun Negara untuk lebih mudah menjangkau ke seluruh penjuru dunia, lebih cepat, lebih dalam, lebih luas dan tentu saja lebih murah daripada sebelumnya. Globalisasi ditandai dengan disatukannya dunia dengan teknologi internet (world-wide-web); meningkatnya fluktuasi perdagangan internasional sampai ke derajat yang luar biasa; digantinya sistem, mekanisme hingga budaya yang lama, yang tidak efisien dengan yang baru, yang lebih produktif, lebih efisien; dan seluruh teman maupun lawan dikonversi menjadi competitor.
Hemmer (2002) memformuasikan globalisasi sebagai pembagian proses produksi ke berbagai lokasi yang berjauhan, yang memacu pesatnya perdagangan barang, PMA, dan integrasi antarpasar modal dunia, maupun semakin disesuaikannya struktur permintaan dan konsumsi nasonal/lokal terhadap produk-produk internasional. Singkatnya, globalisasi adaah terjadinya internasionalisasi aktivitas ekonomi secara ekstrem.
Globalisasi yang mengemuka dewasa ini merupakan hasil dari system dan proses pembangunan dunia internasional yang bertumpu kepada strategi “satu memantapkan semua” yang dijalankan kaum kapitalis dalam masyarakat internasional yang demikian heterogen. Strategi itu sendiri merupakan respons terhadap tantangan cultural dan intelektual masyarakat internasional dewasa ini. Konsep yang mulanya dirumuskan sebagai Konsensus Washington (Chomsky, 2001), akhirnya dipopulerkan dengan terminology globalisasi. Ia tampil sebagai sebuah terminology baru, dalam bahasa mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, James Baker, disebut “sebuah tatanan ekonomi liberal global, sebuah tatanan dunia kapitalis”.
Globalisasi yang mengemuka dewasa ini merupakan hasil dari system dan proses pembangunan dunia internasional yang bertumpu kepada strategi “satu memantapkan semua” yang dijalankan kaum kapitalis dalam masyarakat internasional yang demikian heterogen.
Globalisasi bukan hanya, atau bahkan terutama, tentang saling ketergantungan ekonomi, tetapi tentang transformasi waktu dan ruang dalam kehidupan kita. Peristiwa di tempat yang jauh, entah yang berkaitan dengan ekonomi atau tidak, memengaruhi kita secara lebih langsung dan segera daripada yang pernah terjadi sebelumnya. Sebalknya, keputusan yang kita ambil sebagai individu-individu seringkali memiliki implikasi global. Kebiasan makan masing-masing individu, misalnya memengaruhi para produsen makann, yang mungkin hidup di sisi lain dunia ini.
Revolusi komunikasi dan penyebaran teknologi informasi sangat erat kaitannya dengan proses-proses globalisasi. Ini bahkan juga berlaku dalam arena ekonomi. Pasar uang yang bergerak dua puluh empat jam bergantung pada gabungan teknologi satelit dan computer yang juga memengaruhi banyak aspek kemasyarakatan lainnya. Dunia dengan komunikasi elektronik yang seketika, dimana bahkan yang berada wilayah termiskin pun terlibat, mengguncang institusi-institusi lokal dan pola kehidupan sehari-hari. Dampak televise saja sudah demikian besar. Sebagian besar komentator setuju, misanya, bahwa peristiwa-peristiwa tahun 1989 di Eropa Timur tak akan terungkap sedemikian rupa jika tak ada televise.
Begitulah, globalisasi menjadi kekuatan yang terus meningkat, dan dapat menimbulkan aksi dan reaksi dalam kehidupan. Globalisasi melahirkan dunia yang terbuka untuk saling berhubungan, terutama dengan ditopang teknologi informasi yang sedemikian canggih. Topangan teknologi informasi ini pada gilirannya dapat mengubah segi-segi kehidupan, baik kehidupan material maupun kehidupan spiritual.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini di satu sisi memberikan kemudahan hidup bagi umat manusia, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan berbagai perubahan, diantaranya pergeresan nilai. Soejatmiko menyebutkan tiga factor utama yang mendorong terjadinya perubahan, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, factor kependudukan dan ekologi (lingkungan hidup). Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kunci perubahan. Dalam konteks ini, Negara-negara Barat yang berbahasa Inggris, menurut John Naisbitt dan Patricia Aburdence, akan mendominasi gaya hidup global.

B.     Wujud Globalisasi di Ranah Ekonomi
Pembahasan mengenai globalisasi kembali mengemuka pada bulan November 2002 di Majalah Criminal Politic Magazine terbitan Amerika dibawah rubric Globalology (al-Khatib, 2000). Majalah tersebut mempublikasikan sebuah artikel berjudul “The Carrol Quigley-Clinton Connection” (Hubungan Presiden Clinton dengan Profesor Carrol Quigley). Carrol Quigley adalah dosen Clinton di Universitas Geogetown, yang mengasuh beberapa mata kuliah mengenai ekonomi strategis pada salah satu program pascasarjana universitas tersebut. Tulisan itu menyebutkan, Carrol Quigley pernah mengijinkan Clinton mengutip kebijakan-kebijakan yang bersifat rahasia dan meminta Clinton mempelajarinya dan turut serta mempersiapkan kajian-kajian yang dapat menguntungkan Pemerintah Amerika. Clinton terus melakukan kajian dan persiapan-persiapan selama kurun waktu 20 tahun. Akhirnya, ia berhasil menelorkan ide-ide ekonomi yang berhubungan dengan Tata Dunia Baru. Dia telah meletakkan asas-asas kajian dan penelitiannya yang dibuktikan dengan pernyataan “tidaklah mudah menciptakan tata aturan dunia yang didasarkan pada dominasi perekonomian internasional sebagai satu kesatuan”.
Ide-ide ekonomi tersebut muncul ke permukaan pada awal dasawarsa 900-an. Ide tersebut mengintroduksi strategi ekonomi dalam skala luas untu melemahkan sosialisme secara total dan menggantikannya dengan kapitalisme, termasuk ide globalisasi ekonomi pasar, dan perdagangan bebas sebagai ide-ide yang diklaimaktual dan paling relevan di era millennium. Tokoh yang menjadi perintis globalisasi ini adalah Presiden Clinton, mengingat istilah ini muncul bersamaan dengan awal pemerintahannya. Strategi ekonomi global ini dilakukan dengan melancarkan tenakan agar dihilangkannya hambatan-hambatan, pajak-pajak, bea-bea masuk dan ketentuan-ketentuan mengenai proteksi serta monopoli perekonomian Negara.
Globalisasi ekonomi merupakan pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam sebuah system ekonomi global. Segenap aspek perekonomian; pasokan dan permintaan, bahan mentah, informasi dan transportasi, tenaga kerja, keuangan, distribusi, serta kegiatan-kegiatan pemasaran meyatu atau terintegrasi dan terjalin dalam huungan saling ketergantungan yang berskala dunia. Perjanjan internasional di Marakesh, Maroko, April 1994 yang menghasilkan kesepakatan internasional yang disebut General Agreement on Tariff and Trade (GATT) menjadi tonggak awal dimulainya era globalisasi di bidang ekonomi. Substansi kesepakatan GATT menunjukkan, setiap warga Negara yang mengikatkan diri dalam perjanjian tersebut harus patuh pada aturan internasional yang mengatur perilaku perdagangan antarpemerintah dalam era perdagangan bebas. Sebagai tindak lanjut, pada 1995 dibentuk sebuah organiasasi pengawasan dan control perdagangan global yang dikenal dengan World Trade Organization (WTO). Kemudian disusul oleh pembentukan blok-blok ekonomi; di Asia dibentuk Asean Free Trade Area (AFTA), di Asia Pasifik dibentuk Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) dan di kawasan Eropa dibentuk Single European Market (SEM) dan di Negara-negara Atlantik Utara dibentuk North America Free Trade Area (NAFTA).
Sikap bangsa Indonesia di bidang ekonomi misalnya
1.    Meningkatkan kemapuan kualitas bangsa untuk bersaing secara intenasional;
2.    Meningkatkan mutu produksi dalam negeri agar dapat bersaing di pasar bebas;
3.    Meningkatkan pendapatan per kapita penduduk.

C.    Wujud Globalisasi di Ranah Budaya
Dunia ini terus berkembang.Perkembangan yang membawa konsekuensi tersendiri. Perkembangan membawa sebuah dimensi baru dalam dunia,yaitu perubahan. Perubahan harus dimaknai secara positif,bahwa nyatanya ada siklus dalam kehidupan,ada keinginan untuk berubah menjadi lebih,terlepas dari perubahan ini ke arah negatif atau positif. Dewasa ini,jika berbicara mengenai perubahan maka ada satu kata yang dapat mewakili,yaitu globalisasi. Globalisasi,perubahan yang global,yang menyeluruh,menyentuh setiap aspek kehidupan. Salah satu aspek krusial yang tersentuh oleh globalisasi adalah budaya. Budaya adalah wadah dimana manusia mengekspresikan dirinya dan membentuk karakteristiknya. Jika dulu masyarakat hanya terhubung dengan budaya lokal,sekarang ratusan budaya di seluruh dunia bisa diakses. Globalisasi dalam budaya dipengaruhi oleh faktor lain,seperti perkembangan dalam agama dan nilai-nilai yang dianut masyarakat serta perkembangan transportasi. Di sini penulis akan menjelaskan mengenai bagaimana globalisasi mempengaruhi sendi-sendi budaya dari waktu ke waktu.
Pertama dimulai dari budaya nasional. Perkembangan dalam budaya nasional dimulai dengan munculnya negara modern. Definisi dari negara modern di sini adalah di mana mulai muncul rasa kebangsaan. Rasa kebangsaan tidak hanya entitas sosial dan budaya,tetapi adalah sebuah komunitas sejarah dan budaya,mencakup teritori tertentu dan sering diwujudkan dalam tradisi unik dari hak umum anggotanya (Held&McGrew 2003,27). Faktor-faktor ini kemudian membentuk suatu identitas nasional. Rasa kebangsaan ini selanjutnya mengkristal menjadi nasionalisme. Nasionalisme menghubungkan negara dan bangsa,keduanya menghubungkan budaya dan psikologi ke dalam identitas dan komunitas nasional (Held&McGrew 2003,27).
Budaya nasional memandang bahwa tidak ada hal-hal yang dinamakan global. Identitas nasional lah yang mampu mempersatukan rakyat. Sayangnya,seperti yang sudah diungkapkan kaum skeptis bahwa tanda-tanda keruntuhan budaya nasional mulai terlihat,yang sekaligus menandai lahirny dunia baru,globalisasi budaya. Nyatanya memang benar,waktu yang menjawab semua pertanyaan besar tentang perkembangan dan perubahan. Nasionalisme mungkin adalah sesuatu yang esensial dalam negara modern,tetapi sekarang dimana terjadi perubahan dalam ekonomi,sosial dan politik,cakupannya sudah melampaui jangkauan negara (Held&McGrew 2003,30). Dalam ranah sosial,globalisasi sudah menyentuh setiap detail kehidupan. Teknologi berkembang tanpa batas,internet menghubungkan dunia melalui dunia maya yang tidak terbayangkan sebelumnya,komunikasi begitu intens melewati batas-batas negara. Media informasi lingkupnya sudah menggobal,koran tidak lagi dalam lingkup lokal tapi yang menjadi konsumsi masyarakat sudah didominasi oleh berita dari negeri orang. Chanel TV menjadi senjata ampuh bagi globalisasi,targetnya lebih luas. Anak-anak mana yang tidak mengenal Spongebob,yang notabene nya berasal dari Amerika. Media-media ini yang kemudian tanpa disadari menjadi alat untuk berinteraksi dengan budaya lain. Bahkan sudah bukan dalam level mengenal tapi beberap pihak bahkan lebih merasa cocok dengan budaya orang daripada budaya sendiri. Silverstone (2001 dalam Held&McGrew 2003,34) menyatakan bahwa orang-orang dimanapun mengekspos nilai budaya lain,sebuah fenomena yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sikap bangsa Indonesia di bidang social dan budaya, misalnya.
1.    Berpartisipasi dalam kegiatan social internasional seperti PMI;
2.    Pelestarian kegiatan-kegiatan social-budaya yang telah menjadi tradisi masyarakat;
3.    Mengadakan pertyukaran pelajar anatar Negara.

D.    Globalisasi di Ranah Hukum
Memahami dinamika globalisasi dengan segala dimensinya, maka globalisasi juga akan memberi pengaruh terhadap hukum. Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan negara-negara berkembang mengenai investasi, perdagangan, jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati negara-negara maju (Convergency).[1] Globalisasi hukum ada juga yang menyebutnya sebagai reformasi hukum lintas batas komersial,[2] tetapi apun istilah yang dilekatkan pada globalisasi hukum itu, ia pada intinya hendak menegaskan bahwa disamping hukum nasional suatu negara bangsa berkembang suatu hukum-hukum yang melampaui batas-batas kedaulatan negara bangsa.
Meskipun saat ini pembicaraan terhadap globalisasi hukum lebih cenderung dalam konteksnya dengan globalisasi dibidang lain. Globalisasi hukum kadang kala dipahami pula sebagai penyesuaian hukum-hukum nasional suatu negara bangsa sebagai dampak dari perkembangan perekonomian global misalnya. Penyesuaian hukum nasional bisa juga dilakukan atas adanya tekanan organisasi internasional atau badan-badan dunia seperti WTO, IMF, Work Bank dan lain sebagainya. Meskipun pengaruh sistem hukum yang datang dari dari luar itu bukan barang baru bagi Indonesia, tetapi yang membedakannya dari suatu waktu adalah kondisi dan situasi serta atas kepentingan apa hukum-hukum nasional Indonesia menyesuaikan diri atau memerlukan penyesuaian.
Dari sudut perkembangan globalisasi hukum yang demikian tentu bisa dipahami apabila pada abad mendatang akan berkembang apa yang disebut dengan “the era of comparative law”, meskipun saat ini geraknya belum tampak terlalu kuat. Namun demikian, yang terpenting sebenarnya dalam kaitan ini memaksa kita untuk mendalami globalisasi hukum pada satu pihak dan sistem hukum global dipihak lain. Apakah kemudian sistem hukum global menjadi bagian dari globalisasi hukum atau globalisasi hukum melahirkan sistem hukum global, merupakan tema-tema yang menjadi focus pada bagian ini. Kalau secara nasional sudah jelas bagaimana pengaruh globalisasi itu menjalar dalam kehidupan sistem hukum nasional. Di Indonesia saja saat ini berkembang beberapa sistem hukum, yakni:
·         Civil Law System
·         Common Law Sistem
·         Islamic Law
·         Socialisme Law
·         Customary Law atau Sistem Hukum Adat.
Sikap bangsa Indonesia di bidang hokum, misalnya.
1.    Mematuhi peraturan hokum dan perjanjian internasional;
2.    Ikut serta meratifikasi perjanjian hokum internasional;
3.    Melaksanakan dan menegakkan hak asasi manusia;
4.    Menghormati mahkamah internasional dan peradilan internasional.

E.     Globalisasi di Ranah HAM
Sebelum konsep HAM diritifikasi PBB, terdapat beberapa konsep utama    mengenai HAM ,yaitu:
a. Ham menurut konsep Negara-negara Barat
                  1) Ingin meninggalkan konsep Negara yang mutlak.
                  2) Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas.
                  3) Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.
                  4) Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan Negara.

b. HAM menurut konsep sosialis;
                  1) Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat
                  2) Hak asasi tidak ada sebelum Negara ada.
                  3) Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi menghendaki.

c. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika:
  1. Tidak boleh bertentangan ajaran agama sesuai dengan kodratnya.
  2. Masyarakat sebagai keluarga besar, artinya penghormatan utama terhadap kepala keluarga
  3. Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan kewajiban                                sebagai anggota masyarakat.
d. HAM menurut konsep PBB;
  • Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh Elenor Roosevelt dan secara resmi disebut “ Universal Decralation of Human Rights”.  Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang     mempunyai:
  • Hak untuk hidup
  • Kemerdekaan dan keamanan badan
  • Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum
  • Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana
  • Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara
  • Hak untuk mendapat hak milik atas benda
  • Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan
  • Hak untuk bebas memeluk agama
  • Hak untuk mendapat pekerjaan
  • Hak untuk berdagang
  • Hak untuk mendapatkan pendidikan
  • Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat
  • Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan.

F.     Globalisasi di Ranah Sosial Budaya dalam Dunia Politik
Globalisasi tentu saja memberikan berbagai pengaruh terhadap arus kehidupan masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia yang memiliki kekayaan budaya yang sangat banyak. Berbagai aspek kehidupan dipengaruhi oleh globalisasi sehingga hal tersebut menjadi sesuatu yang bisa menjabarkan kondisi kehidupan suatu negara atau kelompok masyarakat. Dalam hal ini, praktik globalisasi juga tentu berpengaruh terhadap dunia politik yang ada di negara kita. Manusia selalu dihadapkan pada sebuah situasi politik dan budaya sosial yang rumit sehingga perlu dicari formula yang tepat agar kondisinya stabil.
Ada kalnya masyarakat Indonesia menganggap bahwa nasionalisasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan demi kelestarian budaya dan sosial, namun pada kenyataannya, globalisasi sosial budaya juga tidak hanya memberikan dampak terhadap dua aspek kehidupan tersebut saja. Dengan munculnya globalisasi, masyarakat juga mengharapkan adanya kemajuan budaya, sosial, dan semua aspek kehidupan agar bisa setara dengan peradaban di negara lain yang telah lebih dulu maju dan berkembang. Perkembangan politik saat ini bukan tidak mungkin diikuti oleh perkembangan budaya global.
Tingkat perekonomian yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah di Indonesia menjadi sesuatu yang juga berpengaruh terhadap kehidupan politik Indonesia. Mau tidak mau, orang-orang yang berkecimpung di dunia politik juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya dalam hal ekonomi. Lantas muncullah istilah politisasi ekonomi yang berguna untuk menyetarakan tingkat perekonomian negara dengan tingkat perekonomian di negara lain.  Sayangnya, hal semacam itu tidak selalu memberikan keuntungan kepada masyarakat. Bahkan beberapa perilaku politik ekonomi cenderung mengabaikan dan merugikan kepentingan masyarakat golongan menengah ke bawah.

LANJUT KE BAB III PENUTUP

MAKALAH KEDUDUKAN INDONESIA DI TENGAH-TENGAH ERA GLOBALISASI SEMOGA BERMANFAAT
______________________________________________________________________________


contoh makalah, contoh makalah lengkap, makalah lengkap, contoh makalah mahasiswa, makalah pendidikan, contoh makalah pendidikan, daftar pustaka makalah, contoh kata pengantar makalah, makalah, buat makalah, cara membuat makalah, contoh makalah, download contoh makalah, download makalah lengkap, contoh kesimpulan makalah

0 komentar:

Post a Comment