MAKALAH KAJIAN ALAM DALAM ISLAM - PUSAT MAKALAH

on
Pusat Makalah
Contoh Makalah
Contoh Makalah Lengkap
Makalah Lengkap
Kesimpulan Makalah


MAKALAH KAJIAN ALAM DALAM ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Manusia sebagai mahluk yang paling mulia di sisi tuhan telah dikaruniai akal yang membuatnya berbeda dengan mahluk yang lain,menjadi mahluk yang membuatnya menguasai alam bukan alam yang menguasai manusia.melalui proses yang bertahap, kita diberikan petunjuk oleh allah swt dalam alquran yang mulia.
             Oleh karena itu al-Qur’an membawa manusia terhadap Allah melalui ciptaannya dan realitas kongkret yang terdapat di bumi dan di langit. Inilah sesungguhnya yang terdapat pada ilmu pengetahuan yang mana mengadakan observasi lalu menarik hukum-hukum alam berdasarkan observasi dan eksperimen. Dengan demikian ilmu pengetahuan dapat mengetahui tentang segala hal yang telah diciptakan oleh Allah melalui observasi yang teliti dan terdapat hukum-hukum yang mengatur gejala alam dan al-Qur’an menunjukkan kepada realitas intelektual yang maha besar, yaitu Allah SWT, lewat ciptaannya termasuk alam. Sehingga kita bisa memahami dan memamfaatkan alm itu sendiri.

  

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kajian tentang alam ditinjau dari sejarah
Kajian tentang alam sudah lebih dulu dilakukan di masa yunani kuno. Pada saat itu manusia sudah tertarik membahas tentang alm dan memikirkan dari mana alam ini berasal, misalnya thales mengatakan bahwa alam ini easal dari air dan yang menjadi sumber dari segala yang ada di ala ini adalah uap,sementara anximander mengatakan alam ini daria  aperion, dan anaximenes membantah dan mengatakan alam ini dari air, dan masih banyak lagi pemikiran yang bermunculan pada saat itu. Dan tidak berhenrti sampai disitu, mereka ju ju bertanya-tanya mengapa gunung meletus, mengapa danau ang kering tidak pernah dalam, bagaimana manusia diciptakan, dan mengapa ada pohon yang bisa berusia ratusan tahun, sehingga tidak sedikit diantara masyarakat primitif trsebut yang musrik dengan menyembah hal-hal mistik tersebut.itu karena pendekna pengetahuan mereka dan karena tidak memahami bahwa allah telah menjawab peranyaan itu melalui alquran.
Saking maraknya kajian tentang alam maka muncul banyak golongan yang berbada pendapat tentang asal muasal alam ini. Pertama, aliran realisme yang mengatakan bahwa esensi dari segala sesuatu adala meteri itu sendiri.mashab realisme menganggap bahwa alam jagat itu sungguh ada, alam jagat adalah realitas seperti tampaknya. Persoalan dimana alam ini berasal tidak perlu di jawab.alam jagat itu wujud jadi terimalah apa dan bagaimana adanya.memang benar bahwa inda kita tak sempurna, indra kita sering keliru. Tetapi ini bukanlah prinsip ini semua soal waktu saja. Kedua, mazhab idealisme yang mengatakan bahwa realitas yang sebenrnya adalah ide. Ide itu tetap  dan tidak berubah. Pahamini tentu sangat jelas berlawanaan dengan paham materialisme. Berkenaan dengan ini, mazhab idealisme mengatakan bahwa realitas ini sungguh wujud, maka tidak mungk terkandung padanya ketidak wujudan.
ketiga mazhab yang menggabungkan kedua paham tersebut sehingga mereka berkesimpulan bahwa alam ini disusun oleh alam materi dan ide. Keduanya saling berhubungan. Ketiga paham inilah yang berkembang dan mengkaji kebenaran alam. Dan sebenarnya paham in eksis bukan hanya sekarang tapi sampai sekarang ini. Dan bahkan ada yang melahirkan paham baru baik yang sifatnya melengkapi maupun membantah paham sebelumnya
B.     Kandungan surat albaqarah ayat 29


Artinya :
Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dinadikan-Nya, Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 29).
Allah yang menciptakan kita, juga telah mempersiapkan bebagai fasilitas ‎kesejahteraan dan kemakmuran. Untuk itu Allah menciptakan bumi dan langit ‎beserta isinya lalu menyerahkannya kepada manusia. Karena manusia adalah ‎makhluk termulia diantara seluruh makhluk lain yang Allah ciptakan. Dan ‎segala sesuatu, baik benda-benda mati, tumbuhan, hewan, tanah dan langit, ‎semua diciptakan demi kepentingan manusia. Jadi bukan hanya bumi, tetapi langit dan segala isinya, Allah ciptakan untuk ‎kepentingan manusia.
Dari ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎
1.      ‎Manusia lebih mulia dibanding seluruh yang ada di bumi dan langit, bahkan ‎ia merupakan tujuan penciptaan semua itu. ‎
2.      ‎Allah menciptakan alam ini untuk kita. Oleh sebab itu hendaklah kita ‎menempatkan diri kita hanya untuk Allah semata. ‎
3.      ‎Tak ada satu pun ciptaan Allah di alam ini yang sia-sia, karena ia diciptakan ‎untuk suatu kepentingan bagi manusia, meskipun manusia itu sendiri masih ‎belum mengetahui letak kepentingan tersebut. ‎
4.      ‎Dunia diciptakan untuk manusia, bukan sebaliknya, manusia diciptakan ‎untuk dunia. Dunia adalah sarana, bukan tujuan. ‎
5.      ‎Segala macam pemanfaatan nikmat-nikmat alam adalah halal bagi ‎manusia, kecuali jika terdapat bukti khusus dari akal maupun syariat yang ‎mengharamkannya.
C.   Kandungan surah al a’raf ayat 54



Artinya :;
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy(548). Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Menurut Sayyid Quthb makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:12 Akidah tauhid Islam tidak meninggalkan satu pun lapangan bagi manusia untuk merenungkan zat Allah Yang Maha Suci dan bagaimana ia berbuat, maka, Allah itu Maha Suci, tidak ada lapangan bagi manusia untuk menggambarkan dan melukiskan zat Allah.

Adapun enam hari saat Allah menciptakan langit dan bumi, juga merupakan perkara ghaib yang tidak ada seorang makhlukpun menyaksikannya. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini yaitu putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini.
Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Pelindung, Pengendali dan Pengatur. Dia adalah Tuhan kalian yang memelihara kalian dengan manhaj-Nya, mempersatukan kalian dengan peraturan-Nya, membuat syariat bagi kalian dengan izin-Nya dan memutuskan perkara kalian dengan hukum-Nya. Dialah yang berhak menciptakan dan memerintah.
Inilah persoalan yang menjadi sasaran pemaparan ini yaitu persoalan uluhiah, rububiyah dan hakimiyah, serta manunggalnya Allah SWT. Pada semuanya ini ia juga merupakan persoalan ubudiyah manusia di dalam syariat hidup mereka. Maka, ini pulalah tema yang dihadapkan konteks surat ini yang tercermin dalam masalah pakaian sebagaimana yang dihadapi surat Al-An’am dalam masalah binatang ternak, tanaman,nazar-nazar dan syiar-syiar. Allah swt., tidak dapat diserupai dengan sesuatu apapun. Karena itu, tidak pada tempatnya bagi persepsi manusiawi untuk mengarang gambaran tentang Dzat Allah swt. Semua penggambaran manusia, sesungguhnya terbentuk dalam batasan yang mengelilinginya sebagai buah pemikiran akal manusia dari apa yang ada di sekitarnya.
Bila Allah swt. tidak dapat diserupai dengan sesuatu apapun, berarti penggambaran manusiawi itu mutlak terhenti untuk memberi gambaran spesifik bagi Dzat Allah swt. Dan hal ini praktis meliputi seluruh gambaran kaifiat pekerjaan Allah, sehingga tidak tertinggal satu celah pun di hadapan manusia kecuali dengan mantadabburkan ayat-ayat Allah yang ada di alam wujud.
Sayyid Quthb dalam menjalaskan tafsir surat al-A’raf ayat 54. Adapun tentang tafsir beliau dalam surat as-Sajdah ayat 4, al-Furqan ayat 59, Thaha ayat 5, ar-Ra’d ayat 2, Yunus ayat 3, al-Hadiid ayat 4, adalah kelompok tafsir yang mewakili penulisan Sayyid Quthb sebelum beliau menyadari dan memahami masalah. Sayyid Quthb telah mengevaluasi kembali pandangannya yang telah beliau tulis dalam Dzilal. Beliau merevisi kitabnya, menambahkan, dan menghapus sebagian isinya. Akan tetapi ajal terburu menjemputnya dan menjadikan upaya beliau terhenti hingga juz 14.
Evaluasi tersebut dijelaskan dalam tafsirnya terhadap ayat-ayat surat al-A’raf. Dalam penafsiran surat al-A’raf Sayyid Quthb telah kembali kepada pemikiran yang benar, setelah beliau menyadari kekeliruannya. Yang jelas, sikap Sayyid Quthb yang mau mengevaluasi kembali hasil tulisannya, adalah sikap mental yang istimewa yang jarang didapati di kalangan pemikir lainnya.
Dan adapun aspek pendidikan dari ayat tersebut yaitu :
a. Allah mengajarkan kepada kita bahwa dalam melakukan sesuatu kita harus melalui proses.
b.    Allah menginginkan kita agar tidak serba instan sehinnga apa yang kita lakukan bernilai baik.
c.    Ilmu itu adalah sesuatu yang diperolah melalui perjuangan yang bertahap.

Menurut Thahir Ibnu Asyur makna surat al-A’raf ayat 54 yaitu:
Bahwa hubungan surat ini sangat serasi. Ia memulai dengan menyebut al-Qur’an, perintah mengikutinya serta larangan mendekati apa yang bertentanngan dengannya. Selain itu juga memperingatkan ttentang apa yang menimpa umat-umat yang dahulu, yang enggan mengakui keesaan Allah serta mendurhakai rasul-rasul mereka . Setelah itu semua kumpulan ayat ini menjelaskan tentang tauhid beserta bukti kebenarannya dan mengajak untuk tunduk dan patuh kepadanNya. LANJUT KE BAB III PENUTUP >>>

MAKALAH KAJIAN ALAM DALAM ISLAM SEMOGA BERMANFAAT


_________________________________________________________________________________
contoh makalah, contoh makalah lengkap, makalah lengkap, contoh makalah mahasiswa, makalah pendidikan, contoh makalah pendidikan, daftar pustaka makalah, contoh kata pengantar makalah, makalah

0 komentar:

Post a Comment