MAKALAH CABANG ATLETIK - PUSAT MAKALAH

on

                 CABANG ATLETIK
         
        
MAKALAH CABANG ATLETIK


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Atletik merupakan kegiatan jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan yang dinamis dan harmonis seperti: jalan, lari, lompat dan lempar. Atletik merupakan aktivitas jasmani yang mendasar untuk cabang olah raga lainnya, juga merupakan unsure olahgara yang amat penting dalam acara pesta olahraga seperti PON, SEA GAMES, ASIAN GAME dan OLIMPIADE.
 Atletik juga merupakan sarana untuk pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan dan lain sebagainya, selain untuk sarana pendidikan juga sebagai sarana penelitian bagi para ilmuan. Atletik berasal dari bahasa Yunani Athlon atau Athlum yang berarti perlombaan, pertandingan, pergulatan atau suatu perjuangan, orang yang melakukannya disebut Athleta (atlet).



BAB II
SEJARAH
A.    Sejarah Atletik di Aceh
Perkembangan atletik sebagai cabang olahraga selaras dengan perkembangan kondisi, teknik dan gaya  serta  diikuti dengan peningkatan dalam berbagai bidang sarana dan prasarana. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bernhard  (1986  :  5), bahwa : "Atletik itu telah dikenal sejak  lama  di  berbagai negara, kemudian berkembang dengan kondisi serta peningkatan dalam berbagai bidang sarana, teknik dan gaya". Lebih lanjut Mane (1986 : 7) menjelaskan sebagai berikut : Bangsa Yunani telah mengadakan suatu pesta  olahraga yang besar, yang diberi nama pesta Olympiade dan telah dimulai sejak tahun 776 Sebelum Masehi,  pertandingan pada festival yang dimaksudkan telah  menggabungkan sikap patriotisme, agama  dan  olahraga  atletik. Festival tersebut dilakukan setiap 4  (empat) tahun sekali. Lomba atletik yang pertama konon hanya diperlombakan nomor lari 200 meter dekat kota  kecil Olimpiade.
Kutipan di atas dapat disimpulkan, bahwa Negara  Yunani merupakan negara  yang  pertama  mengadakan  pesta  olahraga Olympiade, dan pada saat itu telah digelar salah satu  nomor atletik yang diperlombakan, yaitu nomor 200 meter. Bersamaan dengan itu juga digabungkan penilaian dengan unsur  patriotisme dan agama. Berdasarkan penjelasan tersebut  maka untuk pertama sekali Olympiade Modern diadakan di  Negara  Yunani. Hal ini senada dengan penjelasan dari Yusuf (1973 : 7) sebagai berikut : Atas inisiatif seorang Bangsa Perancis yang  bernama Piarre Baron de Cobertin, maka Olympiade Modern  diadakan pada tahun 1896 dan oleh karena tempat  kelahiran olahraga atletik itu berasal dari Yunani, maka atas usul Piarre Baron de Cobertin Olympiade pertama diadakan di Ibukota Yunani, Athena. Setelah Olympiade  pertama  tersebut  maka  penyelenggaraan   pesta Olympiade diadakan setiap 4 (empat) tahun sekali.
Dalam pesta tersebut diadakan permainan-permainan gerak badan yang disebut dengan "gymnastiek" yang dilakukan  dalam keadaan "gymnos" yang berarti telanjang. Pengembangan dari gymnastiek ini terjadilah suatu pertandingan atau  "athlon".  Permainan yang terkenal pada zaman itu  adalah  "pentathlon, yaitu perlombaan lari, melompat, melempar lembing dan bergumul. Istilah tersebut sekarang lebih dikenal dengan  istilah pertandingan olahraga. Pertandingan ini merupakan perlombaan utama bagi bangsa Yunani.
Perkembangan atletik di Yunani mengalami masa keemasan, kira-kira antara tahun 500 - 400 Sebelum Masehi. Pada  zaman itulah munculnya dua orang juara dari  bangsa  Yunani,  yang bernama Iccus dan Herodicus. Konon kedua orang ini merupakan peletak dasar dari latihan yang teratur dari cabang olahraga atletik. Dalam hal ini Mane, (1986 : 7) menjelaskan bahwa : Kompetisi atletik telah dimulai lebih dari 200 tahun yang lalu  di  Negara  Yunani.  Bangsa  Yunani  Kuno adalah atlit-atlit dunia yang pertama. Mereka  mampu berlari cepat dan kuat  dalam  perlombaan  ketahanan serta mahir dalam melakukan  gerakan  dasar  atletik seperti,  nomor  lompat,  lempar  dan  nomor   tolak peluru.

B.     Sejarah Atletik di Indonseia
1.      Atletik Di Indonesia pada Zaman penjajahan
Di Indonesia atletik dikenal lewat bangsa Belanda yang selama tiga setengah abad telah menjajah negeri ini. Namun demikian atletik tiada dikenal secara luas. Yang mendapat kesempatan melakukan latihan-latihan atletik hanyalah sekolah-sekolah dan kemiliteran saja, itupun sekedar untuk melengkapi kebutuhan pendidikan jasmani saja. Organisasi atletik pertama kali didirikan di Indonesia pada Zaman Belanda adalah Nederlands Indisehe Atletiek Unie yang disingkat NIAU yang dalam bahasa Indonesia berarti : Perserikatan Atletik Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1917. Propaganda untuk menyebarkan atletik memang ada tetapi usaha untuk mendirikan perkumpulan-perkumpulan atletik atau cabang dari NIAU hanya dapat terlaksana dibeberapa kota besar yang mempunyai sekolah-sekolah lanjutan dan yang ada tangsi-tangsi militernya, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta,Semarang, Solo, Medan.     
Hampir setiap menjelang tutup tahun ajaran diadakan pertandingan-pertandingan olehraga dengan atletik sebagai nomor utamanya, baik yang berbentuk pertandingan antar kelas, antar sekolah atau antar kota. Pada tahun 1943 di Solo diselenggarkan perlombaan atletik segitiga antar pelajar Sekolah Menengah Bandung, Yogya, dan Solo. Pelajar-pelajar dari Bandung di bawah panji-panji GASEMBA (Gabungan Sekolah Menengah Bandung ) dari Yogya GASEMMA ( Gabungan Sekolah Menengah Mataram ) dan dari Solo GASEMBO  (Gabungan Sekolah Menengah Solo ). Perlombaan atletik untuk umum juga sering diadakan. Lari jarak jauh dan lari jarak pendek dengan membawa beban adalah yang paling sering diperlombakan.  Dalam bidang organisasi selama masa pendudukan Jepang ini juga nampak ada kemajuan. Perhimpunan-perhimpunan atletik juga bermunculan dibeberapa kota besar, antara lain IKADA ( Ikatan Atletik Djakarta ),GABA ( Gabungan Atletik Bandung ), IKASO ( Ikatan Atletik Solo) IPAS ( Ikatan Perhimpunan Atletik Surabaya ) dan lain-lain. Pada tahun 1949 oleh ISI ( Iakatan Sport Indonesia ) diselenggarakan Pekan Olahraga di lapangan IKADA yang diikuti oleh sejumlah atlet dari seluruh Jawa. Atlet-atlet yang menonjol pada pendudukan Jepang antara lain : Soetantio, pelari 100m yang mencapai 11,00 detik. Soetrisno , atlet Pancalomba dan Bram Matulessi, pelempar Lembing.

2.      Atletik setelah Indonesia Merdeka
Dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta, maka terbukalah bagi bangsa Indonesia untuk memajukan dan mengembangkan bangsa dan negara dalam segala bidang, termasuk memajukan keolahragaan pada umumnya dan khususnya cabang olahraga atletik. Meskipun pada waktu itu bangsa Indonesia sedang berjuang mati-matian untuk mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda dengan sekutunya yang ingin kembali menjajah Indonesia, namun rakyat Indonesia terutama para pelajar dan mahasiswanya masih tetap melakukan atletik. Ditempat-tempat yang tidak diduduki tentara Belanda, disaat-saat tidak melakukan perang gerilya, mereka berlatih dan berlomba atletik yang merupakan cabang olahraga yang digemari.  Pada bulan Januari 1946 dikota Solo diselenggarakan kongres yang ingin menghidupkan kembali semangat keolahragaan di Indonesia,maka didirikan “PORI” (Persatuan Olahraga Republik Indonesia). Langkah pertama yang dilakukan PORI adalah menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON). Maksud penyelenggaraan PON pada masa revolusi fisik melawan kekuatan Belanda dengan sekutunya yang menduduki kota-kota besar diIndonesia, mengandung tujuan yang lebih mulia ialah memberi kejutan politik kepada dunia agar terbuka matanya bahwa negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu benar-benar ada. PON diadakan di Solo dibuka oleh Presiden Soekarno pada tanggal 12 September 1948, dihadiri oleh wakil Presiden dengan segenap anggota kabinet,hadir pula wakil-wakil dari negara lain termasuk pejabat Komisi Tiga Negara PBB diIndonesia. Atlet-atlet yang terkenal pada waktu itu adalah :
- Soedarmodjo , sebagai pelompat tinggi
- Arie Mauladi , sebagai pelompat jangkit
- Soetopo , menjuarai 5000 m dan 10.000 m
- Nasir Rosydi , pelari gawang dan lompat jauh
- Fuat Sahil , pelari 400 m
- Soetrisno , tolak peluru dan lempar cakram
- Darwati , pelari 100 m
- Anie Salamun , Pelempar cakram
Pada tanggal 3 September 1950 berkumpullah tokoh-tokoh atletik dari perhimpunan atletik beberapa daerah Indonesia di kota Semarang untuk membentuk Induk organisasi atletik bagi seluruh wilayah Indonesia. Lahirlah kemudian organisasi atletik yang diberi nama “ Persatuan Atletik Seluruh Indonesia” disingkat PASI. Sebagi langkah pertama di Bandung pada bulan Desember 1950 yang diikuti tidak hanya atlet-atlet dari pulau Jawa tetapi juga dari Sulawesi. Langkah selanjutnya adalah menjadikan PASI dapat diterima sebagai anggota IAAF agar atlet-atlet Indonesia dapat mengikuti Olympiade dan perlombaan-perlombaan Internasional lainnya. Pemusatan latihan yang pertama kali diadakan di Yogyakarta dalam rangka persiapan pengiriman atlet untuk mengikuti Asian Games I yang diselenggarakan di New Delhi, India pada bulan Maret 1951. beberapa atlet yang memperoleh medali perunggu pada Asian games I adalah :
- Soedarmodjo , untuk lompat tinggi
- Hardarsin , untuk lompat jangkit
- A.F Matulessy , untuk lempar lembing
- Anie Salamun , untuk lempar cakram
- Regu estafet 4 x 400 m atas nama : Tri Wulan, Nyi. Soerjowati, Darwati, dan Lie Jiang Nio.
Atlet putri Kamah, berhasil memperoleh medali perunggu untuk lempar lembing. Tahun 1959 kejuaraan Nasional di Jakarta. Tahun 1960 seleksi Nasional di Bandung dalam rangka persiapan Asian Games ke-4 yang akan diselenggarakan di Jakarta tahun 1962. Disamping itu PASI mengirimkan peninjau ke Olympiade di Roma untuk mempelajari seluk beluk penyelenggaraan Olympiade dalam rangka persiapan  menjadi tuan rumah Asian Games yang akan diselenggarakan di jakarta. Semenajk ditetapkan Jakarta sebagai tempat penyelenggaran Asian Games IV , PASI berusaha sekuat tenaga agar dapat mencapai sukses bukan hanya sukses dalam penyelenggaraan tetapi juga sukses dalam prestasi atlet-atletnya. PASI mengirimkan peninjau ke Olympiade Roma dan mendatangkan tenaga-tenaga penasihat dari Jepang yang telah berhasil sebagai penyelenggara Asian Games III. Dibidang peningkatan prestasi PASI mendatangkan pelatih-pelatih dari luar negeri. Pelatih yang didatangkan adalah Bin Miner, Norman Ford dan Tom Rosandich dari Amerika Serikat, disamping untuk meningkatkan prestasi para atlet yang dimasukkan dalam pusat latihan atau TC (Training Center), mereka juga dimafaatkan untuk menatar kader-kader pelatih. Indonesia. Segala persiapan menjadi tuan rumah Asian Games IV berjalan lancar, berkat bantuan sepenuhnay dana dan fasilitas dari pemerintah RI.  Tahun 1962 Asian Games IV dilaksanakan di Jakarta. Pemusatan latihan yang dilakukan dengan persiapan yang cukup ternyata membuahkan hasil yang membanggakan. Untuk pertama kali atlet-atlet Indonesia dapata memperoleh medali emas dalam perlombaan Internasional meskipun bari tingkat Asia. Mohammad Sarengat memperoleh 2 medali emas untuk lari 100 m (10,4) dan Untuk lari gawang 110 m (14,3) serta dua perunggu untuk lari 200 m ( 21,6). Awang Papilaya memperoleh 2 medali perunggu untuk 800 m (2:40,8) dan Lompat jauh. Regu estafet 4 x 100 m putri memperoleh medali perunggu atas nama Suratmi, Emawati, W.Tomasoa, Wiewiek Machwijar (50,5). Tahun 1963 penyelenggaraan GANEFO I di Jakarta.
Tahun 1964 kejuaraan Nasional di Jakarta. Sayang pada tahun ini karena alas an politis, Indonesia tidak mengikuti Olympiade yang diselenggarakan di Tokyo, meskipun atletnya telah dipersiapkan dengan baik. Pada tahun 1964 ini Indonesia mengirimkan atlet-atletnya ke RRC. Beberapa rekor dipecahkan ternyata sampai sekarang masih bertahan. Rekor Untung Pribadi lompat tinggi galah (3,95), I G.Ngurah Manik lempar lembing 66,91, Usman Effendi tolak peluru 15,26.
Tahun 1965 meletuslah peristiwa G30S/PKI yang merupak tragedi nasional bagi bangsa Indonesia , sehingga PON VI yang sedianya akan dilaksanakan di Jakarta gagal. Tahun 1966 mengikuti SEA GAMES V di Bangkok. Medali perak didapatkan oleh regu 4 x 100 m atas nama Soepardi, Jootje Oroh, Bambang Wahyudi dan Agus Soegiri.. meskipun tidak memperoleh medalai, beberapa rekor Indonesia telah dipecahkan di Bangkok yang sampi tahun 1979 belum diperbaharui antara lain rekor lari 800 m oleh Charanjit Singh (1:50,7) ; rekor lari 4 x 100 m : oleh Eddy, Charanjit Singh,V Gosal dan Agus Sorgiri (3:15,3) ; rekor lari 3.000 m Steeple chase oleh Nicky Patiasina (9:25,1) ; tahun 1968 kejuaraan Nasional di Jakarta yang dikuti oleh para atlet dari Singapura. ; Tahun 1969 PON VII di Surabaya ; tahun 1970 kejuaraan di Semarang, Indonesia mengirimkan atletny untuk mengikuti Asian Games VI di Bangkok. Hasil yng diperoleh medali perunggu untuk lari 200 m dan 100 m atas nama Carolina Rieuwpassa. Tahun 1971 kejuaraan nasional di Jakarta.
PASI bekerja sama coaching clinic atletik yang diikuti oleh 45 orang coach muda dari seluruh daerah di Indonesia. Carolina Rieuwpassa dikirim ke Jerman untuk berlatih menghadapi olympiade Munich. Selama berlatih di jermania memperbaiki rekor Nasional 100 m menjadi 11,7 detik dan 200 m menjadi 22,2 detik sampai tahun 1979 rekor ini belum ada yang menumbangkannya. Tahun kejuaraan Nasional di Jakarta Carolina Rieuwpassa dikirim ke Jerman untuk mengikuti Olympiade di Munich. Pada lari 100 m babak penyisihan ia menduduki urutan kedatangan ke 6 dengan catatan waktu 12,23 sedangkan pada lari 200 m babak pendahuluan ia menempati urutan kedatangan ke 6 dengan catatan waktu 24,68 detik. Kemudian PASI mengirimkan 22 atlet kekejuaraan atletik Asia di Manila tanpa memperoleh medali.
Tahun 1975 kejuaraan Nasional di Jakarta. Pada tahun ini di selenggarakan Asian Games VII di Taheran Indonesia tidak mengirimkan tim atletik.  Tahun 1975 kejuaraan di Jakarta disamping itu untuk meningkatkan prestasi atletik di Indonesia perlu meningkatkan frekwensi perlombaan. Maka pada tahun 1976 ini diselenggarakan kejuaraan atletik se-Jawa dan Bali di Semarang tahun 1976 merupakan tahun penyelenggaraan Olympiade. Indonesia mengirimkan Carolina Rieuwpassa untuk mengikuti olympiade di Montreal. Beberapa atlet ke Pakistan dan Malaysia. Tahun 1977 penyelenggaraan PON IX di Jakarta. Untuk pertama kali Indonesia mengikuti SEA GAMES IX di Kuala Lumpur. Indonesia memperoleh 2 medali emas melalui Carolina Rieuwpassa untuk lari 100 m dan Usman Efendi untuk lempar cakram, serta 5 medali perak dan medali perunggu.
Tahun 1978 Asian Games VII diselenggarakan di Bangkok. Athun 1978 kejuaraan di Jakarta diikuti juga oleh atlet dari Singapura. Sebagai balasan ikut sertanya atlet mengikuti Sukan di Singapura. Beberapa rekor di pertajam : Jefrry Matahelemual memperbaiki rekor dari 200 m menjadi 21,1 detik. Mujiono memperbaiki rekor dari 400 m menjadi 47,8 detik. Regu nasional 4 x 100 m memecahkan rekor menjadi 40,930detik. Meny Moffu memperbaiki rekor lari gawang menjadi 51,9 detik. Starlet memperbaiki rekor 800 m menjadi 2:14,0 detik yang juga mempertajam rekor lari 1.500 m menjadi 4:36,4 detik. Tahun 1978 adalah tahun penyelenggaraan Asian Games VIII yang seharusnya dilaksanakan di Pakistan, tetapi karena situasi Negara Pakistan tidak memungkinkan kemudian diselenggarakan di Bangkok. Karena alasan politis penyelenggaraan perlombaan atletik Asian Games VIII tidak mendapat restu dari IAAF dan pesertanya diancam skorsing. Dengan pertimbangan Indonesia akan menjadi tuan rumah SEA GAMES I tahun 1979, maka Indonesia tidak mengirimkan atlet-atletnya.
C.    Sejarah Atletik di Dunia
Atletik berasal dari kata Yunani yaitu Atlon,Atlun yang berarti pertandingan atau perjuangan. Jadi atletik menurut Ensoklopedi Indonesia berarti Pertandingan dan Olah raga pada Atletik. Atletik yaitu suatu Cabang olah raga mempertandingkan Lari,Lompat,Jalan dan Lempar. Olah raga Atletik mula-mula di populerkan oleh bangsa Yunani kira-kira pada Abad ke-6 SM. Orang yang berjasa mempopulerkannya adalah Iccus dan Herodicus. Atletik yang terkenal sekarang sudah lain dari pada yang dilakukan oleh bangsa Yunani dulu. Tetapi walaupun demikian dasarnya tetap sama yaitu Berjalan, lari, lompat dan lempar. Karena mempunyai berbagai unsur inilah atletik dikatakan sebagai ibu dari segala cabang Olah raga. Mengandung berbagai unsur gerakan sehari-hari. Pada zaman Primitif sangat penting artinya untuk mencari nafkah dan mempertahankan hidup. Mereka hidup dengan berburu binatang liar, diperlukan ketangkasan, kecepatan dan kekuatan. Pandangan hidup pada zaman itu adalah yang kuat;yang berkuasa sehingga untuk dapat tetap hidup dan mempertahankan diri mereka harus berlatih jasmani.
Pada zaman Yunani dan Romawi kuno telah terlihat arah latihan jasmani. Istilah atletik ini juga bisa dijumpai dalam berbagai bahasa antara lain dalam bahasa Inggris Athletic, dalam bahasa Perancis Ateletique, dalam bahasa Belanda Atletiek, dalam bahasa Jerman Athletik. Untuk dapat memahami pengertian tentang Atletik, tidaklah lengkap jika tidak diketahui sejarah atau riwayat istilah atletik serta perkembangannya sebagai salah satu cabang olahraga mulai zaman purbakala sampai zaman modern ini. Memahami sejarah tidak hanya sekedar untuk pengertian dan pengetahuan tetapi mengetahui dan mengikuti perkembangan atletik sejak zaman kuno sampai dengan zaman sekarang. Dengan mengetahui kejadian-kejadian pada masa lampau, dapat diambil hikmahnya untuk menentukan langkah-langkah dimasa yang akan datang.
1.      Atletik pada zaman kuno
Atletik yang meliputi Jalan,Lari,Lompat dan Lempar boleh dikatakan cabang olah raga yang paling tua, sama tuanya dengan manusia pertama di dunia, sebab manusia pertama didunia sudah harus berjalan,lari,lompat dan lempar untuk mempertahankan hidupnya. Sebagai contoh pada zaman Primitif manusia mencari makan di hutan, tiba-tiba bertmu dengan binatang buas. Apakah yang akan dilakukannya jika tidak menggunakan senjata? Tentu akan lari secepat-cepatnya untuk menghindarkan diri dari terkaman binatang buas itu, dan kalau pada waktu melepaskan diri ada benda yang merintanginya tentu ia akan melompatinya. Bila ia membawa senjata misalnya tombak,atau sempat memungut kayu atau batu, maka senjata tersebut akan dilemparkannya kepada binatang buas tersebut. Dalam contoh tersebut manusia telah mempergunakan kecakapan lari, lompat dan lempar untuk mempertahankan diri dari terkaman binatang buas. Lari,lompat dan lempar adalah suatu bentuk gerakan yang tidak ternilai artinya bagi hidup manusia. Gerakan itu semuanya  ada dalam olahraga atletik. Bahkan gerakan-gerakan tersebut menjadi dasar dan intisari dari semua cabang olahraga. Itulah sebabnya atletik disebut sebagai “Ibu Olahraga”.
Lari sebagai olahraga dalam bentuk perlombaan sudah dikenal oleh bangsa Mesir Purba pada tahun 1500 SM, sedangkan bangsa Asyria Purba dan Babylonia Purba di Mesopotamia pada tahun 100 SM. Pada tahun 776 SM bangsa Yunani Purba sudah mengadakan pesta olahraga secara teratur dalam waktu yang telah ditentukan. Pesta olahraga tersebut mula-mula tidak dimaksudkan sebagai olahraga, tetapi sebagai upacara peringatan, yaitu memperingati orang-orang yang telah meninggal setelah masa 4 tahun. Orang Yunani mempunyai kepercayaan bahwa rohroh yang telah meninggal, selalu mengembara kemana-mana ketempat kediamannya, dimana ia pernah hidup. Roh-roh itu akan merasa gembira apabila melihat hal-hal yang menyenangkan hatinya ketika ia masih hidup. Oleh karena itu tiap 4 tahun sekali bangsa Yunani mengadakan pesta untuk menghormati leluhur dan dewadewanya.
Dalam pesta tersebut diadakan permainan-permainan gerak badan yang oleh bangsa Yunani disebut Gymnastiek karena dilakukan dalam keadaan gymnos yang artinya telanjang. Dari Gymnastiek itulah terjadinya suatu pertandingan (athlon) yang sering disebut juga dengan Agonistik (kepandaian bergumul). Permainan yang terkenal dalam pesta tersebut diantaranya permainan yang disebut Pentathlon yaitu pertandingan lari,melompat,melempar lembing dan bergumul yang disatukan dalam suatu pertandingan olahraga. Pentathlon atau Panca lomba ini merupakan pertandingan yang utama didalam perlombaan nasional di Negeri Yunani waktu itu.
Menurut para ahli sejarah , atletik sudah dilakukan di Negeri Yunani pada abad ke-6  sebelum nabi Isa AS lahir. Pendapat ini berdasarkan lukisan yang terdapat pada jambang-jambang zaman itu dan dari tulisan ahli filsafat yang bernama Xenophenes. Perkembangan atletik pada waktu itu sangat erat hubungannya dengan perlombaan di Yunani yang mengalami Zaman keemasan kira-kira tahun 500-400 SM. Mulai dari itu munculnya dua orang bangsa Yunani yang bernama Iccus dan Herodicus yang disebut-sebut sebagai peletak dasar dari latihan yang mengkhususkan  satu bagian atau satu nomor saja, seperti latihan untuk lari cepat, melempar dan melompat.
Sampai abad ke-12 sesudah Masehi atletik belum banyak diketahui oleh masyarakat. Beberapa kejadian atau peristiwa yang diketahui adalah sebagai berikut :
Tahun 1154 Tanah-tanah yang terbuka di kota London dipergunakan oleh penduduknya untuk atletik.
Tahun 1330     Raja Inggris Edward III melarang rakyatnya melakukan atletik.
Tahun 1414     Raja Inggris mengizinkan lagi bagi rakyatnya untuk melakukan atletik.
Tahun 1917     Perkumpulan atletik yang pertama didirikan di negeri Inggris oleh Captain Mason. Perkumpulan ini bernama Necton Guild
Tahun 1834     Syarat minimum untuk mengikuti pertandingan ditetapkan oleh suatu badan seperti : 440 yards – 60 detik ; 1 mil – 5 menit.
Tahun 1855     Buku atletik mengenai lari cepat , diterbitkan untuk pertama kalinya.Tanah-tanah yang terbuka di kota London dipergunakan oleh penduduknya untuk atletik.
Tahun 1860 di San Fransisco didirikan suatu perkumpulan atletik yang bernama Olympiade Club, yang disebut sebagai perkumpulan yang pertama di Amerika. Di Inggris kejuaraan atletik untuk pertama kalinya dilangsungkan pada tahun 1866. Sesudah itu atletik mulai tersebar keseluruh dunia. Kejuaraan atletik di Amerika Serikat di selenggarakan oleh New York Athletic Club dalam tahun 1868. Pada perlombaan ini atlet-atlet untuk pertama kalinya memperkenalkan Spikes (sepatu14berpaku) kepada dunia atletik di negeri Belanda, atletik telah diperlombakan pada tahun 1878 dan tahun 1901 didirikan suatu perkumpulan atletik seluruh Negara Belanda.
2.      Berdirinya Organisasi Atletik
Awal abad XIX merupakan mas menggeloranya kembali semangat berolahraga dikalangan masyarakat luas, termasuk berkembangnya olahraga atletik. Perkumpulan-perkumpulan atletik mulai dibentuk. Perlombaan-perlombaan atletik banyak diselenggarakan. Di Inggris pada tahun 1817 didirikan perkumpulan atletik yang pertama oleh Captain Mason dengan nama Necton Guild. Pada tahun 1834 syarat minimum untuk mengikuti perlombaan ditetapkan oleh badan/komite,misalnya syarat minimum untuk lari 440 yards = 60 detik,l lari 1 mil = 5 menit.
Pada tahun 1855 untuk pertama kalinya diterbitkan buku mengenai lari cepat (sprint) Inggris menyelenggarakan perlombaan antarnegara di Eropa,terutama antara Inggris dengan Perancis. Pada tahun 1860 perkumpulan atletik yang pertama di Amerika Serikat didirikan di San Fransisco dengan nama Olympic Club. Kejuaraan atletik di Amerika Serikat baru diselenggarakan pada tahun 1868 oleh New York Athletic Club. Setelah itu sering diadakan perlombaan-perlombaan atletik antara Amerika Serikat dengan negara-negara Eropa.  Persatuan atletik yang menghimpun perkumpulan-pekumpulan atletik mulai dibentuk.
Ø  Tahun 1880 di Inggris berdiri British Amateur Athletic Board.
Ø  Tahun 1887 di New Zealand berdiri New Zealand Amateur Athletic Association.
Ø  Tahun 1899 di Belgia berdiri Ligue Royale d’Athletime dan di Canada Track and Field Association.
Ø  Tahun 1885 di Afrika selatan berdiri South African Amateur Athletic Union dan d
Ø  Swedia berdiri Svenska Fri-Idrotts Forbunder.
Ø  Tahun 1896 di Norwegia berdiri Norges Fri-Idrettsfor-bund.
Ø  Tahun 1897 di Australia berdiri The Amateur Athletic Union of Australia, di Czechoslovikia berdiri Ceskoslovensky Athleticky Svanz, di Yunani berdiri Association Haenengue d’Athletikai Szovetse.
Ø  Tahun 1911 di Belanda berdiri Koninklijke Nederlandeseh Athleriek Unie.
Sampai saat ini tidak kurang dari 170 negara telah membentuk organisasi atletik yang menjadi induk perkumpulan-perkumpulan atletik di setiap negara. Perlombaan atletik telah sering diselenggarakan, demikian pula perlombaan antar negara tetapi belum ada peraturan perlombaan yang seragam sehingga sering timbul perselisihan paham dalam menentukan pemenang. Baru pada tanggal 17 Juli 1912 tiga hari setelah selesai nya perlombaan atletik pada Olympiade Modern V di Stockholm tokoh-tokoh atletik dari 17 negara yang mengikuti Olympiade dari Amerika Serikat, Australia, Austria, Belgia, Canada, Chili, Denmark, Finlandia, Hongaria, Inggris, Jerman, Mesir, Norwegia, Perancis,Rusia, Swedia dan Yunani, berdiskusi untuk membentuk suatu badan Internasional Atletik yang membuat peraturan-peraturan dan penyelenggaraan perlombaan atletik yang lengkap.
Badan tersebut didirikan dengan nama International Amateur Athletic Federation (IAAF), sebagai ketua adalah J. Sigfrit Edstrom dengan sekretaris Jendral merangkap Bendahara (Honorary Secretary-Treasurer): Kristian Henstrom keduanya dari Swedia. Peraturan teknis untuk perlombaan internasional yang pertama disahkan pada kongres yang ketiga tahun 1914 di Lyon Perancis. Sejak terbentuknya IAAF ini penyelenggaraan perlombaan-perlombaan atletik semakin baik, terutama dalam segi pengorganisasian.




BAB III
NOMOR ATLETIK
A.    Jalan Cepat
Pengertian Gerak Jalan Cepat
    Jalan cepat adalah gerak maju dengan melangkah tanpa adanya hubungan terputus dengan tanah. Setiap kali melangkah kaki depan harus menyentuh tanah sebelum kaki belakang meninggalkan tanah. Saat melangkah satu kaki harus berada di tanah, maka kaki tersebut harus lurus/ lutut tidak bengkok dan tumpuan kaki dalam keadaan posisi tegak lurus. Unsur- unsur dalam gerak jalan cepat adalah disiplin , semangat , kekompakan , keuletan , kerapihan dan daya tahan. Gerak jalan cepat biasanya dilaksanakan di lapangan atau di jalan raya. Perlengkapan ketika akan jalan cepat adalah sepatu pdl dan membawa tempat minum.
Teknik Jalan Cepat
      Agar dapat menjelaskan dan melakukan teknik jalan cepat yang benar, maka anda perlu dapat menjelaskan perbedaan yang nyata antara berjalan dan berlari, serta anda dapat melakukan teknik jalan yang biasa dengan benar. Berikut ini mengenai teknik jalan cepat yang benar.
1. Teknik Jalan Cepat
    Jalan cepat merupakan salah satu nomor dalam cabang atletik dan resmi diperlombakan dalam kejuaraan-kejuaraan atletik, baik nasional maupun internasional. Teknik pelaksanaan jalan cepat dapat dirinci sebagai berikut :
a. Start
Startnya menggunakan start berdiri, karena start dalam jalan cepat tidak mempunyai pengaruh yang berarti, maka tidak perlu ada teknik khusus yang perlu dipelajari atau dilatih. Sikap start yang lazim digunakan ada pada abaaba “Bersedia” murid/anak-anak menempatkan kaki kiri di belakang garis start, sedang kaki kanan di samping belakang kaki kiri, dengan badan agak condong ke depan dan kedua lengan rileks. Pada aba-aba “Ya” atau bunyi tembakan pistol, segera melangkahkan kaki kanan ke depan, disusul kaki kiri dan terus berjalan.

b. Langkah
Langkah dimulai dengan gerakan mengangkat paha kaki ayun ke depan lutut, terlihat tungkai bawah bergantung lemas, karena ayunan paha ke depan, tungkai bawah ikut terayun ke depan, menyebabkan lutut menjadi lurus. Kemudian menapak pada tumit terlebih dahulu menyentuh tanah, bersamaan dengan mengangkat tumit, selanjutnya ujung kaki tumpu lepas dari tanah, ganti dengan kaki ayun. Begitu seterusnya selalu ada kaki yang menumpu,
jadi tidak ada saat melayang.
c. Condong Badan
Mulai dari kepala, punggung/dada, pinggang sampai tungkai bawah sedikit condong ke depan.
d. Ayunan Lengan
Siku di tekuk kurang lebih 90 derajat, ayunan lengan kiri ke depan bersamaan dengan mengangkat paha dan kaki kanan, sehingga koordinasinya adalah lengan kiri bersamaan dengan kaki kanan, dan lengan kanan bersamaan dengan kaki kiri.
e. Finish
Tidak ada teknik khusus gerakan masuk finish dalam jalan cepat. Biasanya jalan terus sampai melewati garis finish, baru dikendorkan kecepatannya setelah melewati kira-kira tiga sampai lima meter. Untuk memperoleh langkah-langkah yang benar, maka pemindahan badan dan kaki satu ke kaki yang lain harus nampak jelas, ini kelihatan pada gerak panggul. Gerakan ini perlu dilatih agar terbiasa melakukan teknik gerakan jalan cepat yang benar. Jadi sikap dan gerakan jalan cepat adalah badan dalam posisi tegak, pandangan lurus ke depan, siku ditekuk, dan tangan dikepalkan dengan rileks.

B.     Lompat
Lompat Jauh
Yang menjadi tujuan dari lompat jauh adalah pencapain jarak lompatan yang sejauh jauhnya. Maka untuk mencapai jarak lompat yang jauh, terlebih dahulu si pelompat harus memahami unsur – unsure pokok pada lompat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalm awalan :
Ø   Awalan, yaitu untuk mendapat kecepatan pada waktu akan mellompat. Awalan itu harus dilakukan dengan secepat – cepatnya serta jangan mengubah langkah pada saat akan melompat. Jarak awalan biasanya 30 – 50 meter.
Ø   Tolakan, yaitu menolak sekuat – kuatnya pada papan tolakan dengan kaki terkuat ke atas (tinggi dan kedepan).
Ø   Sikap badan diudara, yaitu harus diusahakan badan melayang Selama mungkin dan diusahakan badan tetap seimbang.
Ø   Sikap badan pada waktu jatuh/mendarat, yaitu sipelompat harus mengusahakan jatuh / mendarat dengan sebaik – baiknya jangan sampai jatuhnya badan atau lengan ke belakang, karena akan merugikan. Mendaratlah dengan kedua kaki dan lengan kedepan.
Macam – macam gaya yang umum digunakan :
1. gaya jongkok atau Truck (kauer)
2. gaya berjalan diudara atau Lauf (walking/running in the air)
3. gaya menggantung atau melenting atau schnepper/hang.
Hal – hal yang perlu dihindari :
1. Memperpendek atau memperpanjang langkah terakhir sebelum bertolak.
2. Bertolak dari tumit dengan kecepatan yang tidak memadai.
3. Badan miring jauh kedepan atau kebelakang.
4. Fase yang tidak seimbang.
5. Gerak kaki yang premature.
6. Tak cukup angkatan kaki pada pendaratan.
7. Satu kaki turun mendahului kaki lain pada darat.
Hal – hal yang harus diperhatikan/dilakukan
1. pelihara kecepatan sampai saat menolak
2. capailah dorongan yang cepat dan dinamis dan balok tumpuan.
3. Rubahlah sedikit posisi lari, baertujuan mencapai posisi lebih tegak.
4. Gunakan gerakan kompensasi lengan yang baik
5. Capailah jangkuan gerak yang baik.
6. Gerak akhir agar dibuwat lebih kuat dengan menggunakan lebih besar daya kepadanya.
7. Latihan gerakan pendaratan.
8. Kuasai gerak yang betul dari lengan dan kaki dalam meluruakan dan membengkokkan.
Lompat Tinggi
Tujuan dari lompat tinggi agar dapat mencapai lompatan yang setinggi – tingginya. Pada lompat tinggi sama halnya dengan lompat jauh, yaitu memerlukan :
Ø  Awalan biasanya ancang – ancang itu di pergunakan 3Ø langkah, 5 langkah dan 7 langkah dan sebagainya, serta langkah yang terakhir panjang dan berat badan dibelakang.
Ø  Sikap badan saat berada di atas mistar
Ø  Sikap badan saat waktu jatuh dan mendarat.
Macam macam gaya pada lompat tinggi
1. gaya Gunting (Scissors)
Gaya gunting ini boleh dikatakan gaya Swenney, sebab pada waktu sebelumnya (yang lalu) masih digunakan gaya jongkok.Terjadi pada tahun 1880 – permulaan abad ke 20. maka antara tahun 1896 swenny mengubahnya dari gaya jongkok itu menjadi gaya gunting. Karena gaya jongkok kurang ekonomis.
Cara melakukan:
Ø  Bila si pelompat pada saat akan melompat, memakai tumpuan kaki kiri (bila ayunan kaki kanan), maka ia mendart (jatuh) dengan kaki lagi.
Ø  Di udara badan berputar ke kanan, mendarat dengan kaki kiri, badan menghadap kembali ke tempat awalan tadi.
2. gaya guling sisi (Western Roll)
Pada gaya ini sama dengan gaya gunting, yaitu tumpuan kaki kiri jatuh kaki kiri lagi dan bila kaki kanan jatuhnyapun kaki kanan hanya beda awalan, bdari tengah tapi dari samping

3. Gaya Guling (Straddle)
Cara melakukan :
Ø  Pelompat mengambil awalan dari samping atara 3, 5, 7, 9, langkah: Tergantung ketinggian yang pentung dalam mengambi awalan langkahnya ganjil.
Pada saat akan melompat langkah yang terkhir panjang.
Ø  Menumpu pada kaki kiri atau kanan, maka ayunan kaki kiri/kanan kedepan. Setelah kaki ayun itu melewati mistar cepat badan balikkan, hingga sikap badan diatas mistar telungkup.pantat usahaka lebih tinggi dari keoala, jadi kepala tunduk.
 Pada waktu mendarat atau jatuh yang pertama kali kena adalah kaki kanan dan tangan kanan bila tumpuan menggunakan kaki kiri, lalu bergulingnya yaitu menyusur punggung tangan dan berakhir pada bahu dan berkhir dengan cepat.
4.Gaya Fosbury Flop
Cara melakukannya :
Ø  Awalan,haus dilakukan dengan cepat dan menikung/agak melingkar,dengan langkah untuk awalan tersebut kira – kira 7-9 langkah.
Ø  Tolakan, Untuk tolakan kaki hampir sama dengan lompat tinggi yang lainny. Yakni harus kuat dengan bantuan ayunan kedua tangan untuk membantu mengangkat seluruh badan. Bila kaki tolakan menggunakan kaki kana, maka tolaka harus dilakukan disebelah kiri mistar. Pada waktu menolak kaki bersamaan dengan kedua tangan keatas disamping kepala, maka badan melompat keaas dan membuwat putaran 180 derajat dan dilakukan bersama – sama.
Ø  Sikap badan diatas mistar, Hendaknya sikap badanØ diatas mistar terlentang dengan kedua kaki tergantung lemas, dan dagu agak ditarik ke dekat dada dan punggung berada diatas mistar merupakan busur yang melenting.
Ø  Cara mendarat, mendarat pada karet busaØ dengan ukuran(ukuran 5 x 5 meter dengan tinggi 60 cm lebih) dan di atasnya ditutup dengan matras sekitar 10 – 20 cm, dan yang mendarat pertama kali adalah punggumg dan bagian belakang kepala.
Hal – hal yang perlu diperhatikan :
1.      Lari awalan yang terlalu cepat
2.      Meluruskan kaki penolak terlalu jauh kedepan.
3.      Gerak kombinasi kaki yang tidak sempurna.
4.      Badan condong mendekati mistar.
5.      Posisi tangan pada mistar terlalu tinggi.
6.      Melewati mistar dalam posisi duduk.
7.      Membuat lengkung badan terlalu awal.
8.      Gerak terlambat dari gaerk angkat kaki akhir.
Hal – hal yang harus di utamakan :
1.      Lari awalan dengan kecepatan yang terkontrol.
2.      Hindari kecondongan tubuh kebelakang terlalu banyak.
3.      Capailah gerakan yang cepat pada saat bertolak dan mendekati mistar.
4.      Usahakan angkat vertikan pada saat take off/pada saat kaki bertolak meninggalkan  tanah.
5.      Doronnglah bahu dan lengan keatas pada saat take off.
6.      Lengkungkan punggung di atas mistar.
7.      Usahakan mengangkat yang sempurna dengan putaran kedalm dari lutut kaki ayun (bebas).
8.      Angkat kemudian luruskan kaki segera sesudah membuat lengkung

C.    Lari
Sprint (Lari Jarak Pendek)
Pengertian
Lari jarak pendek adalah lari yang menempuh jarak antara 50 m sampai dengan jarak 400 m. oleh karena itu kebutuhan utama untuk lari jarak pendek adalah kecepatan. Kecepatan dalam lari jarak pendek adalah hasil kontraksi yang kuat dan cepat dari otot-otot yang dirubah menjadi gerakan halus lancer dan efisien dan sangat dibutuhkan bagi pelari untuk mendapatkan kecepatan yang tinggi.
Lari jarak pendek bila dilihat dari tahap-tahap berlari terdiri dari beberapa tahap yaitu :
Ø  tahap reaksi dan dorongan (reaction dan drive)
Ø  tahap percepatan (acceleration)
Ø  tahap tansisi/perobahan (transition)
Ø  tahap kecepatan maksimum (speed maximum)
Ø  tahap pemeliharaan kecepatan (maintenance speed)
Lari jarak menengah
Lari jarak menengah menempuh jarak 800 m dan 1500 m. start yang digunakan untuk lari jarak menengah nomor 800 m adalah start jongkok, sedangkan untuk jarak 1500 m menggunakan start berdiri. Pada lari 800 m masing –masing pelari berlari di laintasannya sendiri, setelah melewati satu tikungan pertama barulah pelari–pelari itu boleh masuk ke dalam lintasan pertama Hal yang perlu diperhatikan pada lari jarak menengah adalah penyesuaian antara kecepatan dan kekuatan / stamina dari masing –masing pelari
2. Teknik Start Berdiri untuk Lari Jarak Menengah ( 1.500 m )
Teknik start berdiri untuk lari jarak menengah adalah :
a. Aba –aba “ bersedia”
Dengan sikap tenang tetapi menyakinkan melangkah maju ke depan, berdiri tegak di belakang garis start.
b.Aba –aba “ siap “
Mengambil sikap kaki kiridi depan dan kaki kanan di belakang, tidak menginjak garis start, badan condong ke depan.
c. Aba –aba “ ya “
Mulai berlari dengan kecepatan yang tidak maksimal melainkan cukup setengah atau tiga perempat dari kecepatan maksimal.
3. Teknik Gerakan lari Jarak Menengah
Teknik gerakan lari jarak menengah meliputi :
a.       Posisi kepala dan badan tidak terlalu condong, sikap badan seperti sikap orang berlari b. Sudut lengan antara 100 –110 derajat
b.      Pendaratan pada tumit dan menolak dengan ujung kaki
c.       Ayunkan kedua lengan untuk mengimbangi gerak kaki
d.      Mengayunkan lutut kedepan tidak setinggi pinggul
e.       Pada waktu menggerakkan tungkai bawah dari belakang ke depan tidak terlalu tinggi
Lari sambung atau lari estafet
Lari sambung atau lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Dalam satu regu lari sambung terdapat empat orang pelari, yaitu pelari pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Pada nomor lari sambung ada kekhususan yang tidak akan dijumpai pada nomor pelari lain, yaitu memindahkan tongkat sambil berlari cepat dari pelari sebelumnya ke pelari berikutnya. Nomor lari estafet yang sering diperlombakan adalah nomor 4 x 100 meter dan nomor 4 x 400 meter. Dalam melakukan lari sambung bukan teknik saja yang diperlukan tetapi pemberian dan penerimaan tongkat di zona atau daerah pergantian serta penyesuaian jarak dan kecepatan dari setiap pelari.
.Teknik
a.       Latihan Teknik Lari Sambung No Latihan Teknik Penerimaan Tongkat 1 Dengan cara melihat (visual) Pelari yang menerima tongkat melakukannya dengan berlari sambil menolehkan kepala untuk melihat tongkat yang diberikan oleh pelari sebelumnya. 2 Dengan cara tidak melihat (non visual) Pelari yang menerima tongkat berlari sambil mengulurkan tangan kebelakang. Selanjutnya pelari sebelumnya menaruh tongkat ke tangan si pelari setelahnya.
b.      Daerah Pergantian Tongkat No Cara Menempatkan Antara Pelari-Pelari 1 Pelari ke 1 Di daerah start pertama dengan lintasan di tikungan 2 Pelari ke 2 Di daerah start kedua dengan lintasan lurus 3 Pelari ke 3 Di daerah start ketiga dengan lintasan tikungan 4 Pelari ke 4 Di daerah start keempat dengan lintasan lurus dan berakhir di garis finish
c.       Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Lari Estafet 1. Pemberian tongkat sebaiknya bersilang, yaitu pelari 1 dan 3 memegang tongkat pada tangan kanan, sedangkan pelari 2 dan 4 menerima/memegang tongkat pada tangan kiri. 2. Penempatan pelari hendaknya disesuaikan dengan keistimewaan dari masing- masing pelari. Misalnya pelari 1 dan 3 dipilih yang benar-benar baik dalam lingkungan. Pelari 2 dan 4 merupakan pelari yang mempunyai daya tahan yang baik. 3. Jarak penantian pelari 2, 3, dan 4 harus benar-benar diukur dengan tepat seperti pada waktu latihan. 4. Setelah memberikan tongkat estafet jangan segera keluar dari lintasan masing-masing.
d.      Peraturan Perlombaan 1. Panjang daerah pergantian tongkat estafet adalah 20 meter, lebar 1,2 meter dan bagi pelari estafet 4 x 100 meter ditambabh 10 meter pra-zona. Pra-zona adalah suatu daerah dimana pelari yang akan berangkat dapat mempercepat larinya, tetapi disini tidak terjadi penggantian tongkat. 2
Gambaran Tongkat Estafet
Ø  Panjang Tongkat Estafet : 29,21 Cm
Ø  Diameter tongkat estafet :
Untuk Dewasa
Ø  : 3,81 Cm
Untuk Anak-anak
Ø  : 2,54 cm
Teknik Lari Sambung (Estafet)
Suksesnya lari estafet sangat bergantung dari kelancaran penggantian tongkat. Waktu yang dicapai akan lebih baik (lebih cepat) jika pergantian tongkat estafet berlangsung dengan baik pula. Suatu regu lari estafet yang terjadi dari pelari-pelari yang baik hanya akan dapat memenangkan perlombaan, jika mampu melakukan pergantian tongkat estafet dengan sukses.
Ukuran tongkat yang digunakan pada lari estafet adalah
Ø  Panjang tongkat : 28-30 cm
Ø  Diameter tongkat : 38 mm
Ø  Berat tongkat : 50 gr
Pada lari sambunga ada beberapa macam cara dalam pemberian tongkat estafet dari pelari kepada pelari berikutnya. Secara garis besar, pergantian tongkat srtafet itu ada 2 macam, yaitu dengan melihat (visual) dan tanpa melihat (nonvisual).

D.    Lempar
a.      Lempar lembing
Lempar lembing merupakan salah satu cabang olahraga dalam atletik. Olahrga ini dilakukan dengan melemparkan lembing dalam jarak tertentu.Untuk mencapai jarak maksimum, atlet harus menyeimbangkan tiga hal, yaitu kecepatan, teknik dan kekuatan.
Perkembangan
Atlet Skandinavia mendominasi 50 tahun pertama kejuaraan lempar lembing pria.Lalu, kejuaraan tersebut dilakukan oleh Swedia pada tahun 1896.Lempar lembing menjadi bagian dari olimpiade sejak tahun 1908 dan pada tahun 1932 diadakan kejuaraan lempar lembing untuk perempuan dalam olimpiade.
Aturan permainan
Ukuran, bentuk, berat minimum dan pusat gravitasi dari lembing ditentukan oleh aturan dari International Association of Athletics Federations (IAAF).Dalam kejuaraan internasional, laki-laki melempar lembing yang panjanganya antara 2,6-2,7 meter dan dengan berat minimum 800 gram.Sementara itu, perempuan melempar lembing yang panjangnya antara 2,2-2,3 meter dan dengan berat minimum 600 gram.Lembing tersebut dilengkapi dengan pegangan yang terbuat dari tali dan terletak di pusat gravitasi lembing.[4] Untuk laki-laki letak pusat gravitasi antara 0,9-1,06 meter sedangkan untuk perempuan terletak antara 0,8-0,92 meter.
b.      Lempar cakram
Lempar cakram (Bahasa Inggrisnya Discus Throw) adalah salah satu cabang olahraga atletik. cakram yang dilempar berukuran garis tengah 220 mm dan berat 2 kg untuk laki-laki, 1 kg untuk perempuan. Lempar cakram diperlombakan sejak Olimpiade I tahun 1896 di Athena, Yunani.
Cara melempar cakram dengan awalan dua kali putaran badan caranya yaitu: memegang cakram ada 3 cara, berdiri membelakangi arah lemparan, lengan memegang cakram diayunkan ke belakang kanan diikuti gerakan badan, kaki kanan agak ditekuk, berat badan sebagian besar ada dikanan, cakram diayunkan ke kiri, kaki kanan kendor dan tumit diangkat, lemparan cakram 30 derajat lepas dari pegangan, ayunan cakram jangan mendahului putaran badan, lepasnya cakram diikuti badan condong ke depan.
Latihan dasar menggunakan ring karet atau rotan
Ø  Diawali dengan sikap tegap
Ø  Langkahkan salah satu kaki sambil mengayunkan ring ke depan
Ø  Lanjutkan ayunan hingga mengelilingi tubuh, jaga agar lengan memegang ring tetap lurus dan berada di bawah ketinggian bahu
Ø  Langkahkan kaki lurus ke depan (berlawanan dengan arah tangan). Ikuti gerakan pinggul dan dada ke depan. Kemudian lepaskan ring, ayunkan tangan ke atas dan langkahkan kaki belakang ke depan.
Cara memegang cakram:
Pegang dengan buku ujung jari-jari tangan, ibu jari memegang samping cakram, kemudian pergelangan tangan ditekuk sedikit ke dalam
Mengayunkan cakram
Ayunkan cakram dengan ring ke depan dan ke belakang di samping tubuh. Pada saat mengayunkan cakram, tangan yang memegang cakram direntangkan sampai lurus. Jangan sampai lepas.
Gerakan lempar cakram[butuh rujukan]
Ada 3 tahap dalam melempar cakram
Persiapan
Berdiri dengan kedua kaki dibuka lebar
Pegang cakram dengan tangan kanan. Ayunkan sampai di atas bahu sambil memutar badan ke kiri, kemudian ke kanan secara berulang-ulang. Saat cakram diayun ke kiri, bantu tangan kiri dengan cara menyangganya.

Pelaksanaan
Ø  Ayunkan cakram ke depan lalu ke belakang
Ø  Pada saat cakram di belakang, putar badan dan ayunkan cakram ke samping-depan-atas (membentuk sudut 40o )
Ø  Lepaskan cakram pada saat berada di depan muka
E.     Tolak
Tolak peluru adalah suatu bentuk gerakan menolak atau mendorong suatu alat bundar(peluru) dengan berat tertentu yang terbuat dari logam, yang dilakukan dari bahu dengan satu tangan untuk mencapai jarak sejauh jauhnya.
Teknik memegang peluru
Ada 3 teknik memegang peluru:
Ø  Jari-jari direnggangkan sementara jari kelingking agak ditekuk dan berada di samping peluru, sedang ibu jari dalam sikap sewajarnya.
Ø  Untuk orang yang berjari kuat dan panjang.
Ø  Jari-jari agak rapat, ibu jari di samping, jari kelingking berada di samping belakang peluru.
Ø  Biasa dipakai oleh para juara. Seperti cara di atas, hanya saja sikap jari-jari lebih direnggangkan lagi, sedangkan letak jari kelingking berada di belakang peluru.
Ø  Cocok untuk orang yang tangannya pendek dan jari-jarinya kecil. tidak cocok untuk anak anak dibawah 9thn.
Teknik meletakkan peluru pada bahu
Peluru dipegang dengan salah satu cara di atas, letakkan peluru pada bahu dan menempel pada leher bagian samping. Siku yang memegang peluru agak dibuka ke samping dan tangan satunya rileks di samping kiri badan.
Teknik menolak peluru
Peluru dipegang dengan satu tangan dipindahkan ke tangan yang lain. Peluru dipegang dengan tangan kanan dan diletakkan di bahu dengan cara yang benar. Peluru dipegang dengan dua tangan dengan sikap berdiri agak membungkuk, kemudian kedua tangan yang memegang peluru diayunkan ke arah belakang dan peluru digelindingkan ke depan.
Sikap awal akan menolak pelur
Mengatur posisi kaki, kaki kanan ditempatkan di muka batas belakang lingkaran, kaki kiri diletakkan di samping kiri selebar badan segaris dengan arah lemparan. Bersamaan dengan ayunan kaki kiri, kaki kanan menolak ke arah lemparan dan mendarat di tengah lingkaran. Sewaktu kaki kaki kanan mendarat, badan dalam keadaan makin condong ke samping kanan. Bahu kanan lebih rendah dari bahu kiri. Lengan kiri masih pada sikap semula.
Cara menolakkan peluru
Dari sikap penolakan peluru, tanpa berhenti harus segera diikuti dengan gerakan menolak peluru. Jalannya dorongan atau tolakan peda peluru harus lurus satu garis. Sudut lemparan kurang dari 40o.
Sikap akhir setelah menolak peluru
Sesudah menolak peluru, membuat gerak lompatan untuk menukar kaki kanan ke depan. Bersamaan dengan mendaratnya kaki kanan, kaki kiri di tarik ke belakang demikian pula dengan lengan kiri untuk memelihara keseimbangan.



BAB IV
PERATUARAN DAN PERWASITAN ATLETIK
A.    Jalan
1.      Peraturan
Penilaian diskualifikasi. Para juri atau wasit yang ditunjuk harus memilih salah seorang Ketua Wasit. Dan semua juri atau wasit harus mampu bertindak sebagai individu. Dan bila menurut pendapat :
a.                   Dua orang wasit atau juri, di mana salah seorang harus ketua wasit, atau
b.                  Tiga orang juri atau wasit selain ketua wasit.
Berpendapat bahwa bila cara berjalan seorang peserta tidak memenuhi persyaratan jalan cepat sesuai definisi diatas pada saat tertentu selama perlombaan, yang bersangkutan dinyatakan dis-kualifikasi, yang diberitahukan kepadanya secara langsung oleh wasit. Dan diawasi langsung oleh IAAF atau diadakan atas izinnya, tidak diperbolehkan adanya dua juri/wasit yang berasal dari satu kewarganegaraan yang sama. Ketentuan diskulifikasi yaitu peserta lomba yang mendorong, memotong dan menghalangi atlet peserta lain dan berakibat menghambat gerak laju peserta. Jika keadaan tidak memungkinkan untuk memberitahukan diskualifikasi pada peserta, maka dilakukan sesudah perlombaan berakhir.
Pada lomba jalan cepat di lintasan (dalam stadion) seorang peserta yang didiskualifikasi harus secepatnya meninggalkan lintasan, sedang pada lomba jalan cepat di jalan umum, peserta yang didiskualifikasi harus segera melepaskan nomor dada yang dipakainya. Disarankan untuk menggunakan bendera putih diancungkan sebagai tanda Peringatan dan juga untuk memberitahukan kepada petugas (Juri), peserta dan penonton bahwa pesarta tersebut didiskualifikasi. Dalam perlombaan internasioanal dengan jarak lebih dari 20 km harus disediakan pos-pos penyegar(sponging point) oleh panitia maupun peserta sendiri, setiap jarak sesudah 5 km, 10 km, 15 km. Peserta didiskualifikasi bila mengambil/menerima penyegar diluar pos-pos yang telah ditentukan. Untuk olimpiade atau Kejuaraan Daerah atau Regional, sirkuit untuk nomor 20 km jalan cepat harus maximum 3000 m dengan minimum 1500 m.
Setiap peserta harus mengirimkan formulir pendaftarannya untuk nomor lomba jalan cepat 50 km atau 30 mil (atau lebih) disertai surat keterangan dari dokter, setiap peserta harus bersedia diminta mengikuti tes jasmaniah (physical examination) oleh dokter yang ditunjuk oleh panitia.


2.      Wasit
Mereka harus selalu mengawasi dan mengecek terhadap kaki depan berhubungan dengan tanah sebelum kaki yang lain meninggalkan tanah, dan kaki ini diluruskan minimal sesaat.
Diskwalifikasi                      
Apabila dua orang wasit (salah satu wasit kepala)  sependapat bahwa caranya jalan (atlit tersebut) tidak sempurna dilakukan, atau apabila tiga orang wasit berpendapat hal yang sama.
Peringatan
Seorang atlit jalan cepat akan diberikan peringatan apabila jalannya tidak menepati peraturan / ketentuan dan dia tak akan diberikan peringatan ke dua. Atlit hanya akan diperingatkan satu kali, bila membuat pelanggaran yang sama kedua kali, dia langsung di keluarkan / didiskwalifikasi.
Penyegaran
Dalam event jalan cepat 20 km atau lebih, minuman penyegar akan disediakan sesudah 1 km dan kemudian tiaaappp 5 km.
B.     Lompat
1.      Peraturan
a)      Lintasan awalan lompal jauh lebar minimal 1,22 m dan panjang 45 m.
b)      Panjang papan tolakan 1,22 m; lebar 20 cm dan tebal 10 cm.
c)      Pada sisi dekat dengan tempat mendarat harus diletakkan papan plastisin untuk mencatat bekas kaki pelompat bila ia berbuat salah tolak sekurang-kurangnya 1 m dari tepi depan bak pasir pendaratan.
d)     Lebar tempat pendaratan minimal 2,7b m jarak antara garis tolakan sampai akhir tempat lompatan minimal 10 m.
e)      Permukaan pasir di dalam tempat pendaratan harus sama tinggi/datar dengan sisi atas papan tolakan
2.      Wasit
Pada tingkat elit, pesaing lari ke bawah landasan pacu (biasanya dilapisi dengan sama permukaan karet sebagai trek lari, karet remah juga divulkanisir karet ) dan melompat sejauh yang mereka dapat dari papan kayu 20 cm / 8 inci lebar yang dibangun flush dengan landasan ke dalam lubang diisi dengan kerikil halus atau pasir tanah. Jika pesaing mulai lompatan dengan setiap bagian dari kaki melewati garis busuk, melompat dinyatakan busuk dan tidak ada jarak dicatat. Sebuah lapisan plasticine ditempatkan segera setelah dewan untuk mendeteksi kejadian ini. Seorang pejabat (mirip dengan wasit ) juga akan menonton melompat dan membuat tekad. Pesaing dapat memulai melompat dari setiap titik di belakang garis busuk, namun jarak yang diukur akan selalu tegak lurus terhadap garis busuk untuk istirahat terdekat di pasir disebabkan oleh setiap bagian dari tubuh atau seragam. Oleh karena itu, adalah demi kepentingan terbaik dari pesaing untuk mendapatkan sebagai dekat dengan garis busuk mungkin. Pesaing diperbolehkan untuk menempatkan dua tanda di sepanjang sisi landasan untuk membantu mereka untuk melompat secara akurat. Pada lebih rendah bertemu dan fasilitas, plasticine kemungkinan akan tidak ada, landasan pacu mungkin permukaan yang berbeda atau jumper dapat memulai melompat mereka dari tanda dicat atau ditempel di landasan.
C.    Lari
1.      Peraturan
Lari Jarak Pendek
Lari jarak pendek istilah lainnya adalah Sprint. Pelarinya disebut Sprinter. Pada umumnya kita kenal tiga macam start:
1.      Start Jongkok
2.      Start Melayang
3.      Start Berdiri
4.      Nomor yang diperlombakan :
5.      100, 200, dan 400 m
6.      4 x 100, 4 x 400 m lari sambung.
Lari Jarak Menengah
1.      Pelari mulai start dalam lintasannya masing-masing bisa pindah lintasan setelah lingkungan pertama.
2.      Dilakukan start tanpa pembagian lintasan dari belakang garis start yang dibuat sedemikian sehingga menempuh jarak yang sama.
3.      Sepatu yang digunakan harus ada 6 buah paku pada solnya.
Lari Estafet ( Lari Sambung )
Ø  4 x 100 m : Pelari berlari pada lintasannya masing-masing.
Ø  4 x 400 m : Hanya pelari pertama yang menempati lintasannya, pelari II setelah menerima tongkt bebas lintasannya.
Start digunakan pada lari estafet :
Ø  Pelari I menggunakan start jongkok, pelari II, III, dan IV start melayang.
Ø  Ukuran tongkat lari estafet :
Ø  Panjang 28 – 30 cm           ------     berat 50 gr
Ø  Diameter 38 mm               ------     Bahan : Kayu berongga permukaan licin
Ø  Daerah pengoperan tongkat disebut wissel.
Ø  Panjang 20 m terbagi atas 10 sebelum batas pergantian tongkat.
Ø  Cara pergantian tongkat :
Ø  Visual ( dengan melihat ) sering digunakan pada nomor 4 x 400 m memberikannya dari atas.
Ø  Non Visual ( tanpa melihat ) digunakan pada nomor 4 x 400 m memberikan tongkatnya dari bawah.



0 komentar:

Post a Comment