MAKALAH BUDIDAYA KEPITING SOCA AIR PAYAU DENGAN TEKNIK MUTILASI - PUSAT MAKALAH

on
Pusat Makalah
Contoh Makalah
Contoh Makalah Lengkap
Makalah Lengkap
Kesimpulan Makalah


MAKALAH BUDIDAYA KEPITING SOCA AIR PAYAU DENGAN TEKNIK MUTILASI 


BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                                                   
1.1    Latar Belakang
            Perkembangan kehidupan manusia terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Bukan hanya dari segi teknologi, tetapi juga kebutuhan manusia yang mengalami perkembangan. Zaman sekarang manusia lebih suka mengkonsumsi segala sesuatu yang bersifat praktis dan instan dalam memenuhi segala kebutuhan demi mendapatkan suatu kepuasan, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan primer atau makanan. Saat ini, kepiting sudah tidak asing lagi, hampir semua masyarakat lebih sering mengkonsumsinya. Kepiting di dunia ini terdiri dari berbagai jenis yang memiliki manfaat dan kerugian sendiri-sendiri. Hal ini dikarenakan tidak semua jenis kepiting yang ada di dunia itu bisa dikonsumsi oleh manusia. Ada beberapa jenis kepiting yang bersifat racun bagi manusia. Akan tetapi ada beberapa kepiting yang bisa dikonsumsi oleh manusia.
     Pembudidayaan kepiting sebenarnya tidak begitu sulit. Hal ini dikarenakan sekarang ini banyak petunjuk-petunjuk tentang budidaya kepiting seperti buku, majalah, dalam situs-situs internet dan lain sebagainya. Buku-buku petunjuk itu dengan jelas menjelaskan tentang bagaimana budidaya kepiting yang benar, akan tetapi kunci dari semuanya adalah keuletan dan ketekunan dari orang yang membudidayakan kepiting itu sendiri.
     Banyak jenis kepiting yang dibudidayakan oleh manusia, salah satunya kepiting soca. Kepiting soca adalah kepiting bakau fase ganti kulit (moulting) atau kepiting lembut. Kepiting dalam fase ini mempunyai keunggulan yaitu mempunyai cangkang yang lunak (soft carapace) sehingga dapat dikonsumsi secara utuh. Banyaknya minat masyarakat untuk mengkonsumsi kepiting yang bersifat praktis, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui cara pembuatan (proses) pembudidayaannya.
     Oleh karena itu, karya tulis yang berjudul “Budidaya Kepiting Soca Air Payau dengan Teknik Mutilasi” ini di tulis dengan tujuan memperkenalkan metode budidaya yang lebih menguntungkan karena bisa meminimalisir waktu dan biaya produksi serta dapat memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat dalam jangka waktu yang relatif singkat. 


1.2    Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan Kepiting Soca?
2.    Bagaimana cara budidaya Kepiting Soca dengan teknik mutilasi?
3.    Apa manfaat budidaya Kepiting Soca?
1.3         Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui pengertian kepiting soca.
2.    Untuk mengetahui cara budidaya kepiting soca dengan teknik mutilasi.
3.    Untuk mengetahui manfaat dari budidaya kepiting soca.
1.4         Manfaat Penelitian
     Adapun manfaat diadakannya penelitian tentang pembudidayaan Kepiting Air Payau   adalah sebagai berikut :
1.    Bagi Pembaca
a)    Pelajar
·      Untuk menambah wawasan tentang pembudidayaan kepiting air payau.
·      Dengan bertambahnya pengetahuan tentang pembudidayaan kepiting air payau, di harapkan dapat di manfaatkan bagi kehidupan sehari-hari.

b)   Masyarakat
·      Untuk memberitahukan bagaimana cara pembudidayaan kepiting yang baik.
·      Untuk memberitahukan bahwa cara pembudidayaan kepiting dengan  menggunakan teknik mutilasi lebih mudah dan hasilnya menguntungkan.
2.    Bagi Penulis
·      Untuk menambah pengetahuan tentang pembudidayaan kepiting air payau yang baik.
·      Untuk menambahkan pengalaman dalam pembudidayaan kepiting.
3.    Bagi Masyarakat
·      Untuk memberitahukan bahwa budidaya kepiting soca itu mudah, dan menghasilkan keuntungan yang besar karena budidaya kepiting memiliki kesempatan usaha di bidang agrobisnis perikanan yang tinggi.
·      Untuk memberitahukan bahwa dengan adanya pembudidayaan kepiting, dapat membantu penyediaan bahan pangan dan lapangan kerja baru.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Kepiting
     Kepiting adalah binatang crustacea berkaki sepuluh, yang biasanya mempunyai "ekor" yang sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya sama sekali tersembunyi di bawah thorax. Menurut Kamus besar Biologi, kepiting adalah ketam yang hidup di pantai yang berkaki sepuluh, dua di antaranya berupa supit yang tajam dan kuat, punggungnya keras, berwarna hijau kehitaman selebar telapak tangan dan dapat di makan. Hewan ini dikelompokkan ke dalam Filum Athropoda, Sub Filum Crustacea, Kelas Malacostraca, Ordo Decapoda, Suborder Pleocyemata dan Infraorder Brachyura (Linneaeus, 1758).

Gambar : Kepiting Bakau


KLASIFIKASI KEPITING BAKAU
Phylum            : Arthropoda
Classis             : Crustacea
Subclassis        : Malacostraca
Superordo       : EucaridaeOrdo : Decapoda
Familia            : Portunidae
Genus                   : Scylla
Spesies            : Scylla sp.



2.2    Anatomi Kepiting
     Tubuh kepiting umumnya ditutupi dengan exoskeleton (kerangka luar) yang sangat keras, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Kepiting hidup di air laut, air tawar dan darat dengan ukuran yang beraneka ragam (Anonim, 2008).
     Menurut Prianto (2007), walaupun kepiting mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam tetapi seluruhnya mempunyai kesamaan pada bentuk tubuh. Seluruh kepiting mempunyai chelipeds dan empat pasang kaki jalan. Pada bagian kaki juga dilengkapi dengan kuku dan sepasang penjepit, chelipeds terletak di depan kaki pertama dan setiap jenis kepiting memiliki struktur chelipeds yang berbeda-beda. Chelipeds dapat digunakan untuk memegang dan membawa makanan, menggali, membuka kulit kerang dan juga sebagai senjata dalam menghadapi musuh. Di samping itu, tubuh kepiting juga ditutupi dengan  Carapace. Carapace merupakan kulit yang keras atau dengan istilah lain exoskeleton (kulit luar) berfungsi untuk melindungi organ dalam bagian kepala, badan dan insang.
     Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (phyllobranchiate), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda. Insang yang terdapat di dalam tubuh berfungsi untuk mengambil oksigen biasanya sulit dilihat dari luar. Insang terdiri dari struktur yang lunak terletak di bagian bawah carapace. Sedangkan mata menonjol keluar berada di bagain depan carapace.
    Berdasarkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting terbuka dan terletak pada bagian bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di sekitar mulut berfungsi dalam memegang makanan dan juga memompakan air dari mulut ke insang. Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga mulutnya tidak dapat dibuka lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakan sapit dalam memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan menggunakan sapit, kemudian baru dimakan (Shimek, 2008).
     Kepiting bakau ukurannya bisa mencapai lebih dari 20 cm. Sapit pada jantan dewasa lebih panjang dari pada sapit betina. Kepiting yang bisa berenang ini terdapat hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di daerah mangrove, di daerah tambak air payau, muara sungai, tetapi jarang ditemukan di pulau-pulau karang (Nontji, 2002). Disamping morfologi sapit, kepiting jantan dan betina dapat dibedakan juga berdasarkan ukuran abdomen, dimana abdomen jantan lebih sempit dari pada abdomen betina.
     Menurut Prianto (2007) bahwa, bagian tubuh kepiting juga dilengkapi bulu dan rambut sebagai indera penerima. Bulu-bulu terdapat hampir di seluruh tubuh tetapi sebagian besar bergerombol pada kaki jalan. Untuk menemukan makanannya kepiting menggunakan rangsangan bahan kimia yang dihasilkan oleh organ tubuh. Antena memiliki indera penciuman yang mampu merangsang kepiting untuk mencari makan. Ketika alat pendeteksi pada kaki melakukan kontak langsung dengan makanan, chelipeds dengan cepat menjepit makanan tersebut dan langsung dimasukkan ke dalam mulut. Mulut kepiting juga memiliki alat penerima sinyal yang sangat sensitif untuk mendeteksi bahan-bahan kimia. Kepiting mengandalkan kombinasi organ perasa untuk menemukan makanan, pasangan dan menyelamatkan diri dari predator.
     Kepiting memiliki sepasang mata yang terdiri dari beberapa ribu unit optik. Matanya terletak pada tangkai, dimana mata ini dapat dimasukkan ke dalam rongga pada carapace ketika dirinya terancam. Kadang-kadang kepiting dapat mendengar dan menghasilkan berbagai suara. Hal yang menarik pada berbagai spesies ketika masa kawin, sang jantan mengeluarkan suara yang keras dengan menggunaklan chelipeds-nya atau menggetarkan kaki jalannya untuk menarik perhatian sang betina. Setiap spesies memiliki suara yang khas, hal ini digunakan untuk menarik sang betina atau untuk menakut-nakuti pejantan lainnya.


2.3    Siklus Hidup Kepiting
    Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya saja sebagian kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat (bagian tubuh) penyimpanan sperma. Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen).  Jumlah telur yang dibawa tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa spesies dapat membawa puluhan hingga ribuan telur ketika terjadi pemijahan. Telur ini akan menetas setelah beberapa hari kemudian menjadi larva (individu baru) yang dikenal dengan “zoea”. Ketika melepaskan zoea ke perairan, sang induk menggerak-gerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat dengan mudah lepas dari abdomen. Larva kepiting selanjutnya hidup sebagai plankton dan melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu agar dapat tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007). Daur hidup kepiting meliputi telur, larva (zoea dan megalopa), post larva atau juvenil, anakan dan dewasa. Perkembangan embrio dalam telur mengalami 9 fase (Juwana, 2004). Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang dari pada kepiting. Di kepala terdapat semacam tanduk yang memanjang, matanya besar dan di ujung kaki-kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoea ini juga terdiri dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain lagi. Larva kepiting berenang dan terbawa arus serta hidup sebagai plankton (Nontji, 2002). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa larva kepiting hanya mengkonsumsi fitoplankton beberapa saat setelah menetas dan segera setelah itu lebih cenderung memilih zooplankton sebagai makanannya (Umar, 2002). Keberadaan larva kepiting di perairan dapat menentukan kualitas perairan tersebut, karena larva kepiting sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan (Sara, dkk., 2006).
     Selain itu kepiting ini juga mengalami beberapa proses pergantian kulit (moulting). Setiap proses tubuhnya akan tumbuh menjadi lebih besar. Selama siklus hidupnya kepiting bakau menempati dua macam habitat yaitu air payau masa juvenil (kepiting muda) sampai dewasa, dan air laut pada masa pemijahan sampai megalova.

 
Gambar siklus hidup

                         
2.4         Habitat dan Penyebaran Kepiting
   Kepiting merupakan fauna yang habitat dan penyebarannya terdapat di air tawar, payau dan laut. Jenis-jenisnya sangat beragam dan dapat hidup di berbagai kolom di setiap perairan. Sebagaian besar kepiting yang kita kenal banyak hidup di perairan payau terutama di dalam ekosistem mangrove. Beberapa jenis yang hidup dalam ekosistem ini adalah Hermit Crab, Uca sp, Mud Lobster dan kepiting bakau. Sebagian besar kepiting merupakan fauna yang aktif mencari makan di malam hari (nocturnal) (Prianto, 2007).
     Kepiting pada fase larva (zoea dan megalopa) hidup di dalam air sebagai plankton. Kepiting mulai kehidupan di darat setelah memasuki fase juvenil dan dewasa seiring dengan pembentukan carapace. Kepiting dan rajungan tergolong dalam satu suku (familia) yakni Portunidae dan se ksi (sectio) Brachyura. Cukup banyak jenis yang termasuk dalam suku ini. Dr. kasim Moosa yang banyak menggeluti taksonomi kelompok ini mengemukakan bahwa di Indo-Pasifik Barat saja diperkirakan ada 234 jenis, dan di Indonesia ada 124 jenis. Di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu diperkirakan ada 46 jenis. Tetapi dari sekian jenis ini, hanya ada beberapa saja yang banyak dikenal orang karena biasa dimakan, dan tentu saja berukuran agak besar. Jenis yang tubuhnya berukuran kurang dari 6 cm tidak lazim dimakan karena terlalu kecil dan hampir tidak mempunyai daging yang berarti. Beberapa jenis yang dapat dimakan ternyata juga dapat menimbulkan keracunan (Nontji, 2002).
     Menurut Prianto (2007), bahwa di seluruh dunia terdapat lebih dari 1000 spesies kepiting yang dikelompokkan  ke dalam 50 famili. Sebagian besar kepiting hidup di laut, tersebar di seluruh lautan mulai dari zona supratidal hingga di dasar laut yang paling dalam. Sebagian jenis kepiting ada yang hidup di air tawar. Keanekaragaman kepiting yang paling tinggi ada di daerah tropis dan di selatan Australia, disini lebih dari 100 jenis kepiting telah diidentifikasi.
     Konsentrasi maksimum kepiting terjadi pada malam hari pada saat air pasang. Kebanyakan kepiting memanjat akar mangrove dan pohon untuk mencari makan. Pada saat siang hari, waktu pasang terendah kebanyakan kepiting tinggal di dalam lubang untuk berlindung dari serangan burung dan predator lainnya.
     Kepiting mangrove seperti Scylla serrata (Mud Crab) merupakan hewan yang hidup di wilayah estuaria dengan didukung oleh vegetasi mangrove. Hewan ini merupakan hewan omnivora dan kanibal, memakan kepiting lainnya, kerang dan bangkai ikan. Kepiting ini dapat tumbuh sampai ukuran 25 cm atau dengan berat mencapai 2 kg, dimana kepiting betina ukurannya lebih besar dari yang jantan (DPI & F, 2003).

2.5         Makan dan Kebiasaan Makan
     Dalam hutan mangrove biasanya kepiting besar menyerang kepiting yang lebih kecil, dan melumpuhkan dengan merusak umbai-umbai, kemudian merusak karapas menjadi potong-potongan dan mengambil bagian-bagian yang lunak dari mangsanya untuk dimakan.  Menurut Arriola (1940) dalam Rosmaniar (2008) kepiting bakau adalah organisme pemakan segala bangkai (Omnivorous – scavenger) dan pemakan sesama jenis (cannibal).
     Kepiting bakau juga merupakan pemakan bentos atau organisme yang bergerak lambat seperti bivalvia, kepiting kecil, kumang, cacing, jenis-jenis  gastropoda dan crustacea (Rosmaniar, 2008). Selanjutnya menurut Hutching dan Sesanger (1987) mengatakan bahwa kepiting bakau hidup disekitar hutan mangrove dan memakan akar-akarnya. Tangan dan capit kepiting yang besar memungkinkan menyerang musuh dengan ganas dan merobek makanannya. Menurut Rosmaniar (2008) sobekan-sobekan makanan tersebut dimasukan ke mulut dengan menggunakan kedua capitnya.waktu makan kepiting bakau tidak tertentu, tetapi malam hari lebih aktif mencari makan dari pada siang hari karena kepiting tergolong hewan nokturnal yang aktif di malam hari.




2.6         Penangkapan
 
Penangkapan Kepiting

            Alat tangkap yang sering di gunakan masyarakat nelayan masih sangatlah tradisional yakni jenis alat tangkap tombak dan panah. Di perairan pesisir Maluku biasanya menggunakan jenis alat tangkap tombak serta menggunakan perahu motor tempel. Selain itu juga nelayan di Indonesia sering menggunakan jaring insang untuk menangkap kepiting bakau di sekitar perairan mangrove (O-fish, 2010).
     Menurut Zairon (2010) alat yang digunakan untuk menangkap kepiting bakau adalah alat tangkap bubu. Sedangkan Menurut DPI & F (2005), perangkap kepiting yang digunakan dalam penagkapan kepitng bakau yaitu alat yang terbuat dari kawat atau jaring dimana biasanya di dalam perangkap tersebut diberikan umpan dengan jenis dan jumlah yang sama.


2.7 Pembudidayaan Kepiting Soca
     Berikut ini langkah-langkah dari pembuatan kepiting soca dengan teknik mutilasi :
1.    Proses pemilihan bibit  kepiting yang baik untuk menjadi bakal bibit kepiting soca adalah kepiting yang memiliki berat kisaran 0,1 s.d 0,5 Ons. Pilihlah kepiting bibit yang masih segar dan tidak lembek agar dapat bertahan sampai proses "moulting" nantinya yang biasanya berkisar antara hari ke-10 s.d hari ke-15 sejak pertama penurunan bibit dalam satu periode.
2.    Proses mutilasi / pengguntingan kaki kepiting. Kepiting yang telah memenuhi kriteria, selanjutnya dilakukan proses "mutilasi" atau biasa disebut dengan proses pengguntingan kaki serta capit kepiting. Proses ini adalah proses yang paling menentukan tingkat persentase keberhasilan proses panen kepiting soca nantinya dikarenakan apabila salah dan tidak berhati-hati saat menggunting kaki serta capit kepiting bibit maka akan menimbulkan dampak pendarahan pada kepiting yang sangat berpengaruh terhadap kematian bibit sebelum sampai ketahap "moulting" atau pergantian cangkang kepiting soca. Bagian capit dan kaki kepiting yang digunting adalah 2 (dua) capit utama kemudian seluruh kaki kecil bagian kiri dan kanan serta 1 (satu) kaki renang bagian belakang sebelah kiri atau kanan  bertujuan untuk mempercepat proses ganti kulit (moulting) sehingga yang tersisa hanya 1 (satu) kaki renang bagian kanan/kiri yang masih melekat dibadan kepiting. proses ganti kulit yang dialami bibit kepiting dengan satu kaki renang dapat diperoleh dalam jangka waktu 15 hari sedangkan bibit yang kedua kaki renangnya tidak di potong mengalami proses ganti kulit lebih lama yaitu mencapai waktu 30 - 35 hari.
3.    Proses penempatan kepiting yang telah di mutilasi dalam keramba. Proses ini bertujuan agar kepiting yang telah di mutilasi tidak di serang oleh kepiting yang lain karena kepiting yang telah di mutilasi tidak memiliki kaki dan capit. Salain itu, penempatan kepiting yang telah di mutilasi bertujuan agar kepiting tidak melakukan aktifitas dan hanya makan karena kepiting yang telah di mutilasi tidak bisa berjalan. Proses ini adalah proses yang sangat mudah dan sederhana dengan ketentuan 5 kepiting diletakkan kedalam setiap 1 keramba. Sangat dianjurkan tidak tergesa-gesa dan melempar kepiting bibit ke dalam kotak agar tidak menambah kondisi "stress" kepiting bibit pasca proses "mutilasi" namun meletakkannya dengan perlahan-lahan. Proses ini berlangsung hingga kepiting menjadi gemuk sehingga siap untuk moulting.
4.    Proses moulting. Proses ini berlangsung selama 15 hari setelah kepiting di mutilasi. Proses ini merupakan proses terakhir dari pembudidayaan kepiting soca. Setelah kepiting melakukan moulting, kepiting harus segera di panen. Proses ketika pemanenan kepiting adalah :
·         Amati tanda-tanda menjelang moulting.
·         Ambil sesegera mungkin setelah terjadi moulting (usahakan kurang dari 2 jam setelah moulting).
·         Cuci kepiting dengan air bersih.
·         Setelah itu, masukkan kepiting ke dalam sterofom yang berisi es. Hal ini bertujuan agar kepiting yang telah dipanen, bisa mati sehingga kulit kepiting yang telah moulting tidak kembali mengeras.
·    Setelah kepiting mati, masukkan kepiting satu persatu kedalam kantung plastic (yang ada kretekannya).
·         Simpan kedalam freezer (menunggu jumlah cukup).
·     Untuk menjaga agar kepiting tetap dalam keadaan segar, perlu di beri es yang dihancurkan berselang-seling antara kepiting dengan es.
·         Tutup sterofomrapat-rapat dengan isolasi.

MAKALAH BUDIDAYA KEPITING SOCA AIR PAYAU DENGAN TEKNIK MUTILASI SEMOGA BERMANFAAT



_________________________________________________________________________________ 

contoh makalah, contoh makalah lengkap, makalah lengkap, contoh makalah mahasiswa, makalah pendidikan, contoh makalah pendidikan, daftar pustaka makalah, contoh kata pengantar makalah, makalah, buat makalah, cara membuat makalah, contoh makalah, download contoh makalah, download makalah lengkap, contoh kesimpulan makalah

0 komentar:

Post a Comment