MAKALAH ALIRAN PSIKOLOGI BELAJAR DAN TRANSFER BELAJAR - PUSAT MAKALAH

on
Pusat Makalah
Contoh Makalah
Contoh Makalah Lengkap
Makalah Lengkap

Kesimpulan Makalah


MAKALAH ALIRAN PSIKOLOGI BELAJAR DAN TRANSFER BELAJAR
MAKALAH ALIRAN PSIKOLOGI BELAJAR DAN TRANSFER BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengajaran identik dengan pendidikan. Proses pengajaran adalah proses pendidikan. Setiap kegiatan pengajaran adalah untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran adalah suatu proses aktivitas mengajar dan belajar, di dalamnya terdapat dua subjek yang saling terlibat, yaitu guru dan peserta didik. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsure yang sangat fundamental dalam melaksanakn setiap jenis dan jenjang pendidikan. Adanya proses yang panjang dan tertata dengan rapi serta berjenjang akan memungkinkan belajar menjadi lebih baik dan efisien.
Teori belajar selalu bertolak belakang dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka bebarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Justru dapat dikatakan, bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar, maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Di dalam masa perkembangan psikologi pendidikan di jaman mutakhir ini muncullah secara beruntun beberapa aliran psikologi pendidikan, masing-masing yaitu: psikologi Behaviorisme, Kognitif, Humanisme, dan Psikoanalisis. Oleh karenanya pelu diciptakan kondisi yang memungkinkan transfer belajar positip dapat terjadi. Apa saja harus diperhatikan seorang guru agar proses transfer belajar berlangsung secara positif ?seorang guru perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk terjadinya tansfer beberapa hal yang harus diperhatikan adalah kemampuan si belajar.

B. Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.            Bagaimana aliran behaviorisme dan cirri-ciri yang dimiilikinya?
2.            Bagaimana aliran kognitif dan cirri-ciri yang dimiilikinya?
3.            Bagaimana aliran humanism dan cirri-ciri yang dimiilikinya?
4.            Bagaimana aliran psikoanalisis dan cirri-ciri yang dimiilikinya?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Aliran Yang Mendasari Teori Belajar
Memasuki  abad ke-19 beberapa ahli psikologi mengadakan penelitian eksperimantal tentang teori belajar, walaupun pada waktu itu para ahli menggunakan binatang sebagai objek penelitiannya. Penggunaan binatang sebagai objek penelitian didasarkan pada pemikiran bahwa apabila binatang yang kecerdasannya dianggap rendah dapat melakukan eksperimen teori belajar, maka sudah dapat dipastikan bahwa eksperiman itupun dapat berlaku bahkan dapat lebih berhasil pada manusia, karena manusia lebih cerdas dari pada binatang.
Dari berbagai tulisan yang membahas tentang perkembangan teori belajar seperti (Atkinson, dkk. 1997; Gredler Margaret Bell, 1986) memaparkan tentang teori belajar yang secara umum dapat dikelompokkan dalam empat kelompok atau aliran meliputi (a) teori belajar Behavioritik (b) teori belajar kognitif (c) teori belajar humanistic (d) teori belajar psikoanalisis. Keempat aliran belajar tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, yakni aliran behavioristik menekankan pada “hasil” dari pada proses belajar. Aliran kognitif menekankan pada “proses”  belajar. Aliran humanistic menekankan pada “isi” atau apa yang dipelajari. Aliran Psikoanalisis menekankan pada “kejiwaan”. Kajian tentang keempat aliran tersebut akan diuraikan satu persatu.

1. Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Dalam Kamus Psikologi disebutkan juga beberapa pengertian Behaviorisme:
1.           Pandangan beberapa ahli psikologi pada awal abad 20 yang menentang metode introspeksi; dan menganjurkan agar psikologi dibatasi pada penelaahan perilaku yang terlihat (observable behavior) untuk dijadikan dasar pertimbangan data ilmiah. 
2.           Suatu aliran (dan sistem) psikologi yang dikembangkan oleh John B. Watson; suatu pandangan umum yang menekankan peranan perilaku yang bias diamati (terbuka, overt behavior) serta memperkecil arti dari proses-proses mental.
3.           Pandangan yang menyatakan bahwa perilaku manusia dan hewan bias dimengerti, bias diramalkan dan dikontrol tanpa bantuan keterangan-keterangan yang menyangkut keadaan mentalnya. Suatu aliran psikologi, yang menekankan agar psikologi dibatasi pada studi mengenai perilaku saja.
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsure subyek tunggal psokologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksi (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga Psokoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
Teori belajar psilologi behavioristik dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement”) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya. Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan bahwa segenap tingkah laku adalah merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tinkah laku tersebut.
Psikologi aliran behavioristik mulai berkembang sejak lahirnya teori-teori tentang belajar. Tokoh-tokohnya antara lain E.L. Thorndike, Ivan Petrovich Pavlov, B.F. Skinner, dan Bandura. Berdasarkan pengalaman penelotian masing-masing, yang berbeda satu sama lain, mereka menciptakan teori belajar yang berbeda, tetapi mempunyai kesamaan dalam prinsipnya, yaitu bahwa perubahan tingkah laku terjadi karena (semata-mata) lingkungan.
Ciri- ciri aliran Behaviorisme:
(1)      Mementingkan pengaruh lingkungan.
(2)      Mementingkan bagian-bagian dari pada keseluruhan.
(3)      Mementingkan reaksi psikomotor.
(4)      Mementingkan sebab-sebab masa lampau.
(5)      Mementingkan pembentukan kebiasaan.
(6)      Mengutamakan mekanisme terjadinya hasil belajar.
(7)      Mengutamakan “trial and error”.


Dalam buku lain juga disebutkan bahwa ciri-ciri utama aliran Behaviorisme antara lain:
1)          Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman-pengalaman batin dikesampingkan. Dan hanya perubahan dan gerak-gerik pada badan sajalah yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa Behaviorisme adalah psikologi tanpa jiwa.
2)          Segala macam perbuatan dikembalikan kepada reflex Behaviorisme mencari unsure-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadarn, yang dinamakan reflex. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu perangsang. Manusia dianggap suatu kompleks refleks atau suatu mesin reaksi.
3)          Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua adalah sama. Menurut Behaviorisme pendidikan adalah maha kuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak hatinya.
2. Kognitif
Psikologi kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum dan mencakup studi ilmiah tentang  gejala-gejala kehidupan mental sejauh berkaitan dengan cara manusia berpikir dalam memperoleh pengetahuan, mengolah kesan-kesan yang masuk melalui indra, pemecahan masalah, menggali ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan mental mencakup gejala kognitif, afektif, konatif sampai pada taraf tertentu, yaitu psikomatis yang tidak dapat dipisahkan secara tegas satu sama lain. Oleh karena itu, psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar gejala khas kognitif, tetapi juga dari afektif (penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan), konatif (keputusan kehendak).
Ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan-penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar sebagai proses hubungan  stimulus-response-reinforcement. Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitifis. Menurut pendapat mereka,tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah.  Jadi, kaum kognitifis berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih dari bagian-bagiannya. Mereka member tekanan pada organisasi pengamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.
Tokoh-tokohnya antara lain Kohler, Max wertheimer, Kurt Lewin, dan Bandura. Teori belajar mereka diciptakan berdasarkan percobaan-percobaan masing-masing yamng tidak sama, tetapi dasar belajar mereka sama, yaitu bahwa dalam belajar terdapat kemampuan mengukur lingkungan, sehingga lingkungan tidak otomatis mempengaruhi manusia.
Cirri-ciri aliran Kognitif adalah:
(1)      Meningkatkan apa yang ada dalam diri manusia
(2)      Meningkatkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
(3)      Meningkatkan peranan kognitif
(4)      Meningkatkan kondisi waktu sekarang
(5)      Meningkatkan pembentukan struktur kognitif
(6)      Mengutamakan keseimbangan dalam diri manusia
(7)      Mengutamakan “insight” (pengertian).

3. Humanisme
Teori jenis ketiga adalah teori humanistic. Humanism adalah aliran kemanusiaan, humanism adalah suatu pendekatan psikologis, dimana ditonjolkan masalah-masalah, kepentingan-kepentingan manusiawi, nilai-nilai dan martabat manusiawi. Menurut kamus psikologi ada beberapa pengertian tentang psikologi Humanistik antara lain:
a.           Suatu pendekatan terhadap psikologi yang menekankan usaha melihat orang sebagai makhluk-makhluk yang utuh, dengan memusatkan diri pada kesadaran subjektif, meneliti masalah-masalah manusiawi yang penting, serta memperkaya kehidupan manusia.
b.           Pendekatan psokologi secara umum, yang menekankan sifat-sifat karakteristik yang membedakan makhluk-makhluk manusia dari hewan-hewan lainnya. Para psikolog Humanistik terutama sekali menekankan kapasitas-kapasitas manusiawi yang sosiatif dan konstrukstif.
c.           Pendekatan terhadap studi atas keberadaan manusia, yang menekankan masalah keseluruhan pribadi serta unsure-unsur pokok (konstituen-konstituen) imternal dan integrative dari totalitas aku pribadi seseorang, motif-motif, niat-niat, perasan-perasaan dan seterusnya.
Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Dari keempat teori belajar, teori humanistic inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat dari pada dunia pendidikan. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya “isi” dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang biasa kita amati dalam dunia keseharian. Wajar jika teori ini sangat bersifat eklektik. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk memanusiakan manusia (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya itu) dapat tercapai. Dalam dunia pendidikan aliran humanistic muncul pada tahun 1960 sampai dengan 1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad 20 inipun juga akan menuju pada arah ini. (John Jarolimak dan Clifford Foster, 1976, hlm.330).
Dalam menyoroti masalah perilaku, ahli-ahli psikologi behavioral dan humanistic mempunyai pandangan yang sangat berbeda. Perbedaan ini dikenal sebagai freedom determination issue. Para behaviorist memandang orang sebagai makhluk reaktif yang memberikan responnya terhadap lingkungannya. Pengalaman lampau dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Sebaliknya para humanis mempunyai pendapat bahwa tiap orang itu menentukan perilaku mereka sendiri. Mereka bebas dalam memilih kualitas hidup mereka, tidak terikat oleh temannya. Psikologi Kognitif disempurnakan oleh tokoh-tokoh seperti Carl Rogers dan Frankle. Jadi ciri-ciri kognitif masih terdapat dalam aliran psikologi humanism.
Ciri-ciri aliran humanisme:
(1)             Mementingkan manusia sebagai pribadi
(2)             Mementingkan kebulatan pribadi
(3)             Mementingkan peranan kognitif dan efektif
(4)             Mementingkan persepsi subjektif yang dimiliki tiap individu
(5)             Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri
(6)             Mengutamakan “insight”.
Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistic. Gerakan ini merupakan gerakan psikologi yang merasa tidak puas dengan psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan mencari alternative psikologi yang fokusnya adalah manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Gerakan ini kemudian dikenal dengan psikologi humanistic (Misiak dan Se xton,1988). Manusia adalah makhluk yang kreatif, yang dikendalikan bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran-psikoanalisis-melainkan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri. Pada tahun 1958 Maslow menamakan psikologi humanistic sebagai “kekuatan yang ketiga”, disamping psikologi behavioristik dan psikoanalisis sebagai kekuatan pertama dan kekuatan kedua.
Ada empat cirri psikologi yang berorientasi humanistic, yaitu:
1)          Memusatkan perhatian pada person yang mengalami, dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
2)          Menekankan pada kualitas-kualitas yang khas seperti kreatifitas, aktualisasi diri, sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistis dan reduksionistis.
3)          Menyandarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
4)          Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tertinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu (Misiak dan Se xton, 1988). Selain Maslow sebagai tokoh dalam psikologi humanistic, juga Carl Rogers (1902-1987) yang terkenal dengan client-centered therapy.
4. Psikoanalisis
Psikoanalisa adalah satu psiko terapi yang secara typis mencakup angan-angan dan mimpi-mimpi. Kesulitan-kesulitan pasien ditafsirkan oleh analis bagi dirinya, dan dia dinasehati untuk berbuat sesuatu untuk meredakan atau menguranginya. Data yang diperoleh melalui prosedur psikoanalitis biasanya ditafsirkan sesuai dengan teori psikoanalitik. Teori aslinya yaitu dari Freud, sangat menekankan sek-sualitas yang tertekan atau yang ada dalam sub kesadaran. Sekarang ini terdapat beberapa sekolah , aliran psikoanalisa, beberapa dari padanya berbeda dengan pendirian Freud dalam hal tidak terlalu menekankan motivasi sek-sual. Beberapa dari sekolah tersebut menekankan dasar-dasar social maupun biologis dari motivasi manusia. Pendiri Psokoanalisis adalah Sigmun freud (1856-1936). Tujuan dari psikoanalisis dari Freud adalah membawa ketingkat kesadaran mengenai ingatan atau pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, yang diasumsikan sebagai sumber perilaku yang tidak normal dari pasien.
            Menurut Freud dalam kehidupan sehari-hari baik orang yang normal maupun orang yang neurotic keadaan tidak sadar (unconscious ideas) bergelut untuk mengekspresikan dan dapat memotifasi pemikiran ataupun perilaku. Psikoanalisis merupakan psikologi sebagai suatu ilmu. Akan tetapi untuk kepentingan pengobatan, Freud mengatakan psikoanalisis ini boleh disebut sebagai suatu cara atau penyembuhan.


Cirri-ciri aliran psikoanalisis:
(1)      Proses kejiwaan meliputi proses kesadaran dan proses ketidaksadaran.
(2)      Menganut prinsip “psychic determinism” yang berarti bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam pikiran seseorang, tidaklah terjadi secara kebetulan, melainkan karena peristiwa kejiwaan yang mendahuluinya. Peristiwa kejiwaan yang satu berkaitan dengan peristiwa lainnya, dan menimbulkan hubungan sebab-akibat.
(3)      Proses-proses mental yang tidak disadari berfungsi lebih banyak dan lebih penting dalam kondisi mental baik normal maupun abnormal.
Perbedaan aliran Psikoanalisa, Humanistik, dan Behavior:
1)                 Aliran Psikoanalisa: mengabaikan potensi-potensi , melihat dari sisi negative individu, alam bawah sadar, mimpi, dan masa lalu.
2)                 Aliran Behaviorisme: mengabaikan potensi-potensi yang ada pada diri manusia, manusia diperlakukan sebagai mesin yang artinya manusia sebagai satu siste kompleks yang bertingkah laku menurut cara yang sesuai hukum.
3)                 Aliran Humanistik: tidak mengabaikan potensi-potensi yang ada pada diri manusia, percaya pada kodrat individu, artinya individu pasti dapat dan harus mengatasi masa lampau atau Psikoanalis, secara kodrat biologis dan lingkungan.

B. Teori Transfer Pembelajaran
1.    Pengertian Transfer Belajar
Istilah transfer belajar berasal dari bahasa inggris “transfer of learning” dan berarti : pemindahan atau pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain atau ke kehidupan sehari-hari diluar lingkup pendidikan sekolah. Pemindahan atau pengalihan ini menunjuk pada kenyataan, bahwa hasil belajar yang diperoleh, digunakan di suatau bidang atau situasi diluar lingkup bidang studi dimana hasil itu mula-mula diperoleh. Misalnya, hasil belajar bidang studi geografi, digunakan dalam mempelajari bidang studi ekonomi; hasil belejar dicabang olahraga main bola tangan, digunakan dalam belajar main basket; hasil belajar dibidang fisika dan kimia, digunakan dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Hasil studi yang dipindahkan atau dialihkan itu dapat berupa pengetahuan (informasi verbal), kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, ketrampilan motorik dan sikap. Berkat pemindahan dan pengalihan hasil belajar itu, seseorang memperoleh keuntungan atau mengalami hambatan dalam mempelajari sesuatu dibidang studi yang lain.
Transfer belajar terjadi apabila seseorang dapat menerapkan  sebagian atau semua kecakapan-kecakapan yang telah dielajarinya ke dalam situasi lain yang tertentu. Beberapa contoh sebagai penjelasan, seseorang yang telah dapat menguasai bahasa Belanda umpamanya, ia akan lebih mudah dan cepat mempelajari bahasa Jerman. Kecakapan dan pengetahuan tentang gramatika dan idiom serta susunan kata-kata dalam bahasa Belanda memudahkan orang itu untuk mempelajari bahasa Jerman. Sesorang yang telah dapat mengedarai seperti motor lebih mudah jika ia belajar mengendarai mobil. Pengtahuan dan kecakapannya mengendarai sepeda motor diterapkan atau ditransferkan kepada kecakapan mengendarai mobil.
Demikianlah kita dapat mengatakan transfer belajar apabila yang telah kita pelajari dapat dipergunakan  untuk memperlajari yang lain. Biasanya transfer ini terjadi karena adanya persamaan sifat antara yang lama dengan yang baru, meskipun tidak benar-benar sama. Akan tetapi, tidak selamanya transfer itu terjadi dengan baik seperti yang telah diuraikan di atas. transfer dalam belajar ada yang bersifat positif dan ada yang negatif. Transfer belajar disebut posiif jika pengalaman-pengalaman atau kecakapan-kecakapan yang telah dipelajari dapat diterapkan untuk mempelajari situasi yang batu. Atau dengan kata lain, respons yang lama dapat memudahkan untutuk menerima stimulus yang batu. Disebut transfer negatif jika pengalaman atau kecakpan yang lama menghambat untuk menerima pelajaran atau kecakapan yang baru. Seperti contoh berikut, seseorang yang telah biasa mengetik denggan dua jari, jika ia akan belajar mengetik dengan sepuluh jari tanpa melihat, akan lebih banyak mengalami kesukaran daripada seseorang yang baru belajar mengetik.  Contoh lain, seorang guru yang berusaha memperbaiki/ mengajar membaca anak-anak yang telah gagal diajar oleh guru lain dengan suatu metode, akan banyak mengalami kesukaran dan memakan waktu yang lebih lama, daripada mengajar anak-anak yang baru saja belajar membaca.

2.    Teori Daya dan Transfer
Ada suatu teori yang erat hubungannya dengan transfer belajar, yaitu teori daya. Teori ini bertitik tolak dari pandangan ilmu jiwa bahwa jiwa itu terdiri atas gejala-gejala atau daya-daya jiwa, seperti: daya mengamati, daya ingatan, daya berfikir, daya perasaan, daya kemauan, dan sebaginya. Menurut teori  daya (biasa disebut juga “formal dicipline”), daya-daya jiwa yang ada pada manusia itu dapat dilatih. Dan setelah terlatih dengan baik, daya-daya itu dapat digunakan pula untuk pekerjaan lain yang menggunakan daya tersebut. Dengan demikian terjadilah transfer belajar. Berikut ini contoh sebagai penjelasan, murid-murid dilatih belajar sejarah, dengan  memperlajari pelajaran sejarah secara tidak langsung daya ingatannya sering dipergunakan untuk mengingat-ingat bermacam-macam peristiwa, dan sebagainya. Ingatan anak itu makin terlatih dan makin baik terhadap pelajaran itu. Maka menurut pendapat teori daya, daya ingatan yang telah terlatih baik bagi pelajaran itu dapat digunakan pula (ditransferkan) kepada pekerjaan lain. Demikianlah,menurut teori daya ada tiap matapelajaran disekolah pendidik perlu melatih daya-daya itu (daya ingatan,berfikir, merasakan, dan sebagainya), sehingga daya-daya yang sudah terlatih itu akan dapat digunakan dalam mata-mata pelajaran yang lain dan juga bagi pekerjaan-pekerjaan lain di luar sekolah. Sekolah yang menganut teori daya ini, sudah tentu lebih mengutamakan terlatihnya semua daya-daya jiwa anak-anak, daripada nilai atau kegunaan mata pelajaran. Berguna atau tidaknya materi/ isi mata pelajaran itu dalam praktek di kemudian hari, tidaklah menjadi soal. Yang penting, apapun yang diajarkan asalkan dapat melatih daya-daya jiwa adalah baik. Penganut teori daya beranggapan bahwa anak-anak yang pandai di sekolah sudah tentu akan pandai pula dalam masyarakat.
Akan tetapi teori daya terlalu mengganggap jiwa terdiri dari daya-daya yang terpisah-pisah satu sama lain. Sehingga dengan melatih masing-masing dari daya itu sendiri-sendiri mereka berharap telah dapt mendidik oran itu. Padahal jiwa ausia itu merupakan suatu kebulatan, daya-daya jiwa erat hubungannya satu sama lain, tidak dapat dipisah-pisahkan. Kebenaran yang lain ialah, teori daya terlalu mementingkan nilai formal dalam tiap-tiap mata pelajaran di sekolah. Nilai praktis dan nilai material dari mata pelajaran itu tidak dihuraukan. Pandangan inilah yang menimbulkan cara-cara mengajar yang bersifat verbalistis dan intelektualistis, yang hingga kini masih merajalela dalam duni apendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya. Transfer dalam Belajar : yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tatasusunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.
3.    Faktor – faktor Yang Berperan Dalam Transfer Belajara
Sudah tentu di sekolah diusahakan agar siswa belajar mengadakan transfer belajar positif, supaya siswa mampu menggunakan aneka hasil (yang diperoleh di bidang studi yang satu) di bidang studi lain atau dalam kehidupan sehari-hari. Namun terjadinya transfer belajar positif tergantung dari beberapa faktor yaitu :
a.       Proses belajar. Transfer belajar baru dapat diharapkan terjadi setelah siswa mengolah materi pelajaran dengan sungguh-sungguh yaitu dalam rangka fase yang ketiga. Keberhasilan dalam pengolahan itu sendiri pun tergantung pada kesungguhan motivasi belajar (fase pertama) dan kadar konsentrasi terhadap unsur-unsur yang relevan (fase kedua).
b.      Hasil belajar. Ada aneka hasil belajar yang bersifat lebih terbatas dan karena itu kemungkinan untuk mengalihkannya ke bidang studi yang lain lebih terbatas, seperti informasi verbal dan ketrampilan motorik. Terdapat pula aneka hasil belajar yang mengandung kemungkinan untuk dialihkan secara lebih luas ke berbagai bidang studi, bahkan menjadi bekal untuk digunakan dalam banyak bidang kehidupan.
c.       Bahan atau materi dalam bidang studi, metode atau prosedur kerja yang diikuti dan sikap yang dibutuhkan dalam bidang studi. Transfer belajar mengandalkan adanya kesamaan, maka kesamaan antara daerah/ bidang studi atau antara bidang studi dan kehidupan sehari-hari itu secara nyata harus ada, entah menyangkut metode, materi, prosedur kerja atau sikap.
d.      Faktor-faktor subjektif di pihak siswa. Kemampuan mengolah berkaitan dengan kemampuan belajar, terutama komponen kemampuan intelektual tinggi, lebih mampu untuk mengolah secara mendalam dan secara lebih menyeluruh dan pada umumnya lebih mampu untuk melihat kemungkinan mengadakan transfer belajar.
e.       Sikap dan usaha guru. Apakah siswa berhasil dalam mengadakan transfer belajar, bila hal itu dimungkinkan, tergantung juga dari kesadaran dan usaha guru untuk mendampingi siswa dalam mengadakan transfer belajar.

4.    Teori Transfer Belajarar
Sementara itu Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa transfer belajar dapat digolongkan dalam empat kategori yaitu :
a.              Transfer positif dapat terjadi dalam diri seseorang apabila guru membantu  si belajar untuk belajar dalam situasi tertentu dan akan memudahkan siswa untuk belajar dalam situasi-situasi lainnya. Transfer positif mempunyai pengaruh yang baik bagi siswa untuk mempelajari materi yang lain. Transfer positif mempunyai pengaruh yang baik bagi siswa.
b.              Transfer negatif dialami seseorang apabila si belajar dalam situasi tertentu memiliki pengaruh merusak terhadap ketrampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi yang lain. Sehubung dengan ini guru berupaya untuk menyadari dan menghindari siwa-siswanya dari situasi belajar tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar dimasa depan.
c.              Transfer vertikal (tegak); terjadi dalam diri seseorang apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tsb. dalam menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih tinggi atau rumit. Misalnya dengan menguasai materi tentang pembagian atau perkalian maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi tentang pangkat. Agar memperoleh transfer vertikal ini guru dianjurkan untuk menjelaskan kepada siswa secara eksplisit mengenai manfaat materi yang diajarkan dan hubungannya dengan materi yang lain. Dengan mengetahui manfaat dari materi yang akan dipelajari dengan materi lain yang akan dipelajari di kelas yang lebih serius.
d.             Transfer lateral (ke arah samping) terjadi pada siswa bila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajari untuk mempelajari materi yang memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam situasi lain. Dalam hal ini perubahan waktu dan tempat tidak mempengaruhi mutu hasil belajar siswa. Misalnya siswa telah mempelajari materi tentang tambahan, dengan menguasai materi tambahan maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi yang lebih tinggi tingkat kesilitannya misalnya materi tentang pembagian. Contoh lainnya seorang siswa STM telah mempelajari tentang mesin, maka ia akan dengan mudah mempelajari teknologi mesin lain yang memiliki elemen dan tingkat kerumitan yang hampir sama.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa, psikologi sebagai suatu disiplin ilmu dari tahun ketahun semakin menampakkan kapasitasnya, terutama konstribusinya dalam menyikapi kejiwaan seseorang. Psikologi juga merupakan gagasan-gagasan mengenai sesuatu yang menyangkut tentang tingkah laku manusia dan lingkungan sekitarnya melalui pengalaman-pengalaman yang dialami. Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu sekaligus orang pertama kali mencetuskan Ilmu  Psikologi dan laboratorium lepzig jerman. Wundt mendeklarasikan sebuah disiplin formal yakni psikologi yang didasarkan pada formulasi-formulasi ilmiah sehingga psikologi diakui sebagai ilmu pengetahuan. Aliran-aliran psikologi dalam menyikapi kejiwaan seseorang cenderung berbeda. aliran psikoanlisis menyatakan dalam jiwa seseorang terdapat Id, Ego, dan Superego, dan lebih memfokuskan pada ketidak sadaran seseorang Lain lagi dengan aliran Gestalt yang menyatakan bahwa, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh bukan spotong-sepotong atau parsial. Sedangkan behaviorisme menyatakan bahwa psikologi hanya memusatkan perhatian pada apa yang dilakuakn oleh orang lain. Dan untuk aliran humanistik menyatakan bahwa untuk memahami perilaku seseorang terletak pada sipelaku bukan sipengamat Saran-saran.
Dari pemaparan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1.            Pengertian transfer belajar yaitu proses mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, sehingga dapat memperdalam, memperhalus dan menambahkan serta memperbaiki pengalaman sebelumnya. Terdapat empat jenis pandangan mengenai hakekat transfer belajar yaitu teori disiplin formal, teori elemen identik, teori generalisasi, dan teori Gestalt.  Prinsip-prinsip transfer belajar antara lain: menanamkan kesungguhan pada anggota yang belajar sehingga belajar menjadi bermakna, memungkinkan terjadinya konsekuensi sehingga terjadi peningkatan belajar.
2.            Transfer dalam belajar dapat digolongkan ke dalam empat kategori yaitu: transfer positif, transfer negatif, transfer vertikal, transfer lateral.
3.            Proses transfer belajar akan mudah terjadi pada diri seorang siswa apabila situasi belajarnya dibuat sama atau mirip dengan situasi sehari-hari yang akan ditempati siswa tersebut kelak dalam mengaplikasikan pengetahuan dan ketrerampilan yang telah ia pelajari di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA LIHAT ☻☻☻DISINI☻☻☻

MAKALAH ALIRAN PSIKOLOGI BELAJAR DAN TRANSFER BELAJAR SEMOGA BERMANFAAT

_________________________________________________________________________________

contoh makalah, contoh makalah lengkap, makalah lengkap, contoh makalah mahasiswa, makalah pendidikan, contoh makalah pendidikan, daftar pustaka makalah, contoh kata pengantar makalah, makalah, pusat makalah, cari makalah

0 komentar:

Post a Comment